Alarm Peradaban

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 5 Muharam 1444

Alarm Peradaban
Saudaraku, hijrah yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabat juga mengingatkan kita tentang kebangunan peradaban Islam yang amat adiluhung. Inilah latar sehingga muhasabah hari ini diracik di bawah judul alarm peradaban.

Siapa mengira hijrah yang dilakukan oleh Nabi dan sahabat dari Makkah ke Madinah merupakan awal kebangkitan yang sambung menyambung dimaba pada masa-masa sesudahnya tercipta peradaban yang amat hegemonis.

Peradaban yang adi luhung tersebut menurut Prof Din Syamsuddin, ditopang oleh pilar penyangganya yang kuat, yakni ketauhidan, kekhalifahan dan islah . Pertama, pilar ketauhidan. Dalam ketauhidan ini mengandung arti ”kemenyatuan penciptaan” (unity of creation), “kemenyatuan keberadaan” (unity of existence), dan kemenyatuan ilmu-pengetahuan (unity of knowledge). Semua bermuara pada totalitas pengabdian pada Allah yang Esa. Maka aspek ketauhidan ini mendasari dan menyangga bangunan di atasnya.

Kedua, kekhilafahan. Kekhilafahan sebagai ajaran al-Qur’an yang sentral dipahami sebagai misi suci (mission d-atre) kemanusiaan sebagai  wakil Tuhan di bumi sekaligus sebagai manager on earth. Kekhilafah memiliki cakupan dalam spektrum luas yang meliputi seluruh cultural universals (aspek-aspek kebudayaan) sebagai piranti lunak dan peradaban itu sendiri sebagai piranti kerasnya.

Ketiga, islah, yang disebut al-Qur’an sebagai tugas utama umat manusia, yakni melakukan pembangunan peradaban (modernisasi) dan perbaikan jika peradaban itu terusakkan (restorasi dan rekonstruksi). Islah, dalam hal ini, perlu menampilkan dua jalan utama, yaitu “jalan tengahan” (wasathiyah) dan “jalan kemajuan” (‘ashriyah). 

Dan ternyata dari peradaban Islam lahir keluhuran akhkak, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang amat mengesankan. Pertama, keluhuran akhlak. Peradaban Islam menyediakan banyak peluang kepada orang-orang beriman untuk menjadi pribadi yang lebih bergairah dan berghirah ibadah, menjadi lebih istiqamah, sabar, disiplin, tawakal, ridha, cerdas, dan sifat takwa lainnya. Di samping itu juga, lebih peduli, suka menolong, memaafkan, mengasih sayangi pada sesamanya. Dari sini keshalihan personal dan keshalihan sosial inilah pada gilirannya akan tercipta suatu masyarakat atau negeri yang utama, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Kedua, perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini bermula dari budaya tulis baca yang sangat digalakkan Nabi. Peradaban Islam juga menyediakan waktu yang relatif memadahi bagi Al-Qur'an dan hadis untuk dibaca, dipahami, diinternalisasi, diamalkan dan ditransfer ke anak cucu, handai tolan dan sesamanya. Demikian juga buku dan literatur keislaman lainnya.

Melalui budaya tulis baca terutama terhadap al-Qur’an, Islam menuntun umatnya untuk terus berbenah meraih maslahah di bawah keridhaan Allah ta’ala. Oleh karena itu kemampuan tulis baca menjadi primadona yang harus diasah diasuh, dikembangkan dan diwariskan oleh antargenerasi. Apalagi tulis baca merupakan media dan sarana penting dalam berinteraksi sosial. Di samping itu kemampuan tulis baca merupakan aktivitas aktif produktif yang kemudian melahirkan budaya literasi sekaligus membedakannya dengan budaya tutur atau budaya lisan yang telah ada sebeumnya.

Mengapa manusia bisa mengetahui banyak hal tentang masa lalu, di antara yang paling penting adalah karena budaya tulis baca sudah berlangsung antargenerasi. Mengapa banyak ilmu dan hikmah yang tidak sampai kepada kita, di antaranya karena tidak direkam dalam tulisan dan tidak ada budaya baca, sehingga ilmu dan hikmah hilang bersamaan dengan kewafatan pemiliknya. Oleh karenanya bisa dimengerti kalau budaya tulis baca akan mempengaruhi secara signifikan terhadap kemajuan dan peradaban suatu bangsa.

Ketiga, pesatnya teknologi. Dengan akselerasi ilmu pengetahuan, maka dengannya manusia menjadi mudah dan berkah dalam menjalani hidup di dunia ini. Karya-karya besar gilir gumanti telah diracik, ditemukan dan diwariskan oleh umat Islam kepada anak cucu antar generasi sehingga bisa beribadah dan beraktivitas hari-hari lebih mudah, nyaman dan aman. Peralatan hidup semakin canggih, IT mengglobal, ragam bangunan didesain kreatif, kesenian dan ragam budaya berkembang dan kemudahan lain bagi kehidupan diupayakan.

Kesemua hasil cipta, rasa dan karsa orang-orang Islam yang istikamah dalam ketaatan merupakan bukti keberislamannya sehingga melahirkan tatanan masyarakat yang beradab di bawah ridha Allah ta'ala. Karena peradaban masa lalu itu bertumpu pada tiga pilar ini, yakni tauhid sebagai fondasi, kekhilafahan sebagai faktor instrumental, dan Islah sebagai langkah operasional Semoga kita menjadi bagian penting dalam pengemban estafet dan tumbuh kembangnya peradaban Islam. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama