Muhasabah 4 Muharam 1444
Alarm Kemenangan
Saudaraku, alarm kemenangan yang menjadi judul muhasabah kali ini bermaksud mengingatkan kita tentang keberhasilan hijrah Nabi dan para sahabat kaum muhajirin setelah mencapai Kota Yastrib (Madinah).
Konon, kedatangan Nabi saat sampai di Yatsrib disambut sangat hangat oleh masyarakat setempat dengan selawat thala'al badru 'alaina yang mengesankan itu. Dan janji Allah itu benar. Allah berfirman
اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ
1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,
وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ
2. dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah,
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا ࣖ
3. maka bertasbihlah dalam dengan Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat. (Qs. Al-Nashr 1-3)
Bila kemenangan itu tiba, maka rasa bahagia tidak bisa disembunyikan begitu saja. Ya, karena kemenangan itu yang musti disyukuri. Hanya saja buru-buru musti diberi anotasi bahwa kemenangan kali ini bukan akhir dari perjuangan, tetapi justru sebagai awal yang menandai kebangkitan Islam, kebangunan peradaban. Karena justru setelah di Yatsrib lah, Islam meraih momentumnya. Nabi tidak hanya merubah nomenklatur penamaan Yatsrib menjadi Madinah yang bermakna kota saja, tetapi juga meletakkan dasar-dasar kehidupan yang berkeadaban dan berkemajuan di bawah ridha Allah ta'ala.
Tanda-tanda kemenangan mulai tampak dan jelas dirasakan oleh umat Islam di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad saw. Makanya Nabi Muhammad saw tidak sebatas pemimpin agama tetapi juga sebagai pemimpin masyarakat atau presiden. Hal ini sekaligus yang membedakannya saat beliau masih di Makkah yang hanya berperan sebagai pemimpin agama saja.
Dengan merujuk dan mendasarkan pada Piagam Madinah yang disusun pada masa berikutnya sebagai konstitusi negara, maka segala persoalan yang terjadi di kalangan umat dapat diselesaikan dengan bermartabat oleh Nabi dan diikuti sahabat.
Penduduknya yang heterogen antara suku Aus dan Khazraj dan lainnya, penganut ahlul kitab (yahudi dan nasrani) dan muslim, kaum anshar dan muhajirin sangat mengapresiasi perbedaan, menjunjung tinggi multikulturalistik sehingga saling tasamuh dan berkerjasama yang saling menguntungkan.
Heteregonitas dan multikulturalistik adalah realitas yang jamak penopang kemajuan dan kejayaan bangsa. Oleh karenanya semangat apresiatif, saling menghargai, saling menghormati dengan tetap bersinergi satu sama lain dalam membangun negeri menjadi kunci.
Batas wilayah dan kedaulatan Madinah al-Munawarah sebagai nation state mulai dikenal, diakui dan diterima oleh negara-negara tetangga, sehingga bisa hidup berdampingan satu sama lainnya.
Semoga kita mampu memetik ibrah dan hikmah kemenangan hijrah Nabi. Aamiin ya Mujib al-Sailin
Tags:
Muhasabah Harian