Alarm Eksistensi

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 27 Muharam 1444

Alarm Eksistensi
Saudaraku, alarm eksistensi ini dirasa sangat penting bagi setiap insan karena menjadi suara kebenaran yang senantiasa mengingatkan agar dirinya eksis atau benar-benar ada dan jangan sampai adanya samadengan tidak ada, adanya tidak dikira. Atau dalam bahasa gaulnya, adanya tidak mengefek apa-apa. Na'udzubillahi min dzalika! Sudah di sini tapi tidak memberi kontribusi; sudah menjabat tapi tak ada maslahat bagi diri dan umat; masih hidup dan berjalan ke sana sini tapi dianggap sudah mati.

Nah untuk itu, hadir atau kehadiran itu penting seperti pesan muhasabah yang baru lalu. Apalagi secara filosofis sejatinya hadir itu bermakna eksis, dan untuk benar-benar eksis, maka harus  berkualitas; ya berkualitas kesehatannya, ya berkualitas ilmunya, ya berkualitas hatinya, dan tentu juga berkualitas amalnya.

Eksistensi atau keberadaan - diri - yang berkualitas dalam tuntunan Islam diumpamakan laksana air yang mengaliri, mengairi, menutupi, mendinginkan, menghilangkan dahaga dan menghidupi sedangkan - diri - yang tak berkualitas digambarkan persis seperti buih yang mengambang, rapuh, terombang ambingkan oleh angin, meskipun banyak. 

Allah berfirman yang artinya Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah ia (air) di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang yang benar dan yang batil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan. (Qs. Al-Ra'du 17)

Nah, kita senantiasa diingatkan agar hadir, agar eksis agar bermakna, setidaknya tercermin pada kesehatan fisiknya, keluasan keluwesan ilmu dan kearifannya, kesucian hatinya dan keshalihan budi pekertinya.

Pertama, berkualitas kesehatannya. Di antara indikatornya adalah menjadi diri yang sehat, bugar, kuat dan terampil. Di samping, tentu kesehatannya yang prima semata-mata diabdikan untuk memaksimalkan pengabdian dirinya pada Allah ta'ala. Makanya, meski sehat tapi tak merasa hebat, walaupun berilmu tapi tak belagu, meski berhati mulia tapi tak riya, meski senantiasa beramal shalih tapi tanpa pamrih.

Kedua, berkualitas ilmunya. Keluasan dan keluwesan ilmu menjadikan dirinya bermanfaat bagi kehidupan diri, kdluarga dan sesamanya. Di atas segalanya keluasan dan keluwesan ilmu yang dimilikinya ini mengantarkan dirinya pada kedekatannya pada Allah. Jadi semakin banyak ilmu, maka semakin takut pada Allah, semakin dekat dengan Allah.

Ketiga, berkualitas hatinya. Hati berkualitas itu hati yang bersih nan suci, diliputi oleh iman yang kukuh, tercermin pada lisannya yang terjaga dan perilaku kesehariannya yang mulia. Tentu, hati seperti ini jauh dan dijauhkan dari sifat kueh, irihati, dengki, apalagi sombong.

Dan keempat, berkualitas amalnya. Karena keluasan ilmu dan keluwesan kearifannya, maka senantiasa merefleksi pada amaliyah sehari-hari. Ke manapun, di manapun, dengan siapapun selalu menebar kebaikan, menyemai kebajikan, menjadi agen kemaslahatan.

Semoga kita dianugrahi hidayah dan inayah Allah untuk bisa eksis; dan bisa benar-benar hadir memberi makna, membahagia hidupnya dan merahmati semesta. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama