Alarm Perjuangan

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 3 Muharam 1444

Alarm Perjuangan
Saudaraku, seberkas kebangkitan dan secercah modernisasi dalam prosesnya tentu meniscayakan kesungguh-sungguhan, menghendaki perjuangan, mengharuskan struggle, maka tema muhasabah hari ini bertujuan mengingatnya seperti alarm, sehingga diracik di bawah judul alarm perjuangan.  Ya alarm perjuangan berbunyi.

Kesungguh-sungguhan dalam berjuang dalam ini dimaksudkan sebagai upaya memaksimalkan segala daya dan kemampuan baik yang bersifat lahiriyah, akliyah maupun batiniyah demi terwujudnya cita-cita kemuliaan yang sudah digadang-gadang. Analoginya, kalau untuk meraih kemerdekaan, para endatu dan pahlawan bangsa Indonesia ini berjuang dengan segenap jiwa raga.

Bila kita kontekstualisasikan dengan hijrah, bukankah Nabi dan para sahabatnya sungguh telah bertaruh jiwa, raga dan harta bahkan keluarga saat  berhijrah dari Makkah ke Yatsrib (Madinah) demi Islam. Semuanya demi Allah, mencari ridha Allah. Sampai-sampai hal ini diingatkan oleh Nabi dengan haditsnya yang sangat populis. 

Dari Umar ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: "Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan." (HR. Bukhari) [ No. 54 Fathul Bari] Shahih.

Dan Allah swt berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الْاٰخِرَةِ نَزِدْ لَهٗ فِيْ حَرْثِهٖۚ وَمَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَاۙ وَمَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ نَّصِيْبٍ

Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat. (Qs. Al-Syura 20)

Dengan menelisik sejarah kita bisa memetik hikmah. Betapa banyak sahabat yang meninggalkan harta benda dan pekerjaan yang digelutinya selama di Makkah negerinya sendiri untuk bersedia samikna wa athakna (kami mendengar, lalu kami menaati) berhijrah mengikuti seruan Nabi. Padahal kehidupan dan penghidupan di Yatsrib (Madinah) benar-benar harus dimulai dari baru sama sekali 

Betapa para sahabat harus ikhlas berpisah dengan keluarga tercinta dan sanak saudara karena terpaksa atau karena beda anutan keyakinan dan hidayah yang belum berpihak pada mereka. Ada yang berpisah dengan orangtuanya, atau bahkan istri atau suaminya.

Betapa banyak sahabat yang bertaruh jiwa raga, antara hidup selamat sampai ke tujuan atau harus syahid tengah perjalanan, baik karena kerasnya sepanjang perjalanan maupun kerasnya ancaman keamanan dari orang-orang kafir quraisy.

Secara proporsional, semangat dan kesungguh-sungguhan dalam melakukan perbaikan atau dalam menggawangi modernisasi dan mengawal perubahan ke arah yang lebih maslahah tentu saja tetap relevan sebagaimana maknawiyah hijrahnya Nabi.

Pertama, kesungguh-sungguhan kerja secara fisik dalam tuntutan Islam disebut jihad. Prinsip ini harus dibuktikan pada kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas dan kerja tuntas.

Kedua, kesungguh-sungguhan berpikir secara rasional dalam tuntunan Islam disebut ijtihad. Hal ini mestinya mewujud pada kreavitas, ide baru, gagasan ilmiah, temuan dan teori baru, sehingga memengaruhi akselerasi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ketiga, kesungguh-sungguhan secara phikis dalam tatanan Islam disebut mujahadah. Prinsip ini musti mewujud pada sikap spiritualitas yang takwa, sabar, tawadhuk, ikhlas, istikamah, wara', 'iffah, tawakkal, qanaah dan ridha atas segala ketetapannya.

Semoga kita termasuk orang yang sungguh-sungguh "berjuang". Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama