Berbagi Kasih Sayang

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 28 Dzulhijah 1443

Berbagi Kasih Sayang
Saudaraku, menyadari beragam peran kehidupan yang diemban oleh masing-masing orang sebagaimana telah diingatkan pada muhasabah yang baru lalu, maka akhlak sosial untuk memelihara kelestarian dan kemesraan hubungan antar sesama mesti dikukuhkan.

Nah, di antara judul dan lagu anak-anak yang mengajarkan tentang akhlak sosial adalah La yarham wala yurham.  Kira-kira pesannya, sesiapa yang tidak mengasihsayangi, maka tidak akan dikasihsayangi. Saking pentingnya, ajaran kasih sayang ini dididikkan (baca dibiasakan, dipraktikkan) bahkan sejak kita balita.

Dan ternyata "man la yarham la yurham" merupakan penggalan hadits Nabi. Hadits ini sendiri turun ketika seorang sahabat yang bernama Aqra’ bin Habis melihat Nabi Muhammad saw sedang mencium Hasan. Dia (Aqra’ bin Habis) lalu berkata: Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh anak, namun aku tidak pernah mencium satu pun dari mereka. Kemudian Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya, barang siapa yang tidak mengasihsayayangi, maka dia tidak akan dikasihsayangi." (HR.Muslim No. 2318)

Di antara kandungan hadits tersebut sejatinya mengajarkan agar kita memiliki kasih sayang dan mengasih sayangi sesamanya. Bahkan tidak hanya sesama manusia saja, tetapi juga kepada makhluk Allah yang lain seperti hewan, tumbuhan hatta benda-benda mati sekalipun. 

Sesiapa yang mengasihsayangi, akan dikasihsayangi. Di sinilah pentingnya berbagi kasih sayang. Ketika ajaran berbagi kasih sayang dikukuhkan di bumi,  maka bukan saja makhluk di bumi ini yang akan menyahuti, bahkan makhluk di langit juga akan berbagi kasih sayang.

Ketika kita berbagi kasih sayang kepada sesama, maka Allah pun akan membukakan hati saudara-saudara kita sehingga mereka juga mengasihsayangi kita. Mengapa bisa? Ya, karena dengan mewujudkan kasih sayang itu, sejatinya kita sedang bertransaksi dengan Allah. Meskipun secara kasat mata kita "bermuamalah" dengan sesamanya, tapi sejatinya dengan mengukuhkan kasih sayang itu berarti kita sedang menjemput dan memeluk asma Allah al-Rahman al-Rahim, sehingga kasih sayangNya membersamai hamba-hambaNya.

Ketika kita mengasihsayangi binatang atau hewan piaraan kita, maka Allah pun akan menjadikan mereka mengasihsayangi tuan yang memeliharanya. Lihatlah bagaimana hewan piaraan "mengabdi, melayani kebutuhan" tuannya melalui hasilnya, tenaganya, kesenangannya, atau bahkan keamanannya.

Ketika kita mengasihsayangi buku, maka Allahpun bertitah kepadanya agar memberi apapun yang ada pada dirinya kepada kita; ya informasi, ya ilmu, kesenangan, ya pengalaman, ya kenikmatan ya hikmah kearifan. Bahkan ia akan memberi lebih dari apa yang apapun yang kita duga. Sebaliknya, jangan coba-coba menelantarkannya apalagi - khusus bagi yang meminjam buku - tidak mengembalikan pada tuannya, ia akan menggerogoti apapun yang sudah dipunya.

Di saat kita mengasihsayangi pohon atau tetumbuhan di pekarangan, maka Allahpun bertitah kepadanya sehingga iapun akan berbagi kasihsayangnya pada kita; ya sejuk sumilirnya, ya oksigennya, ya rindangnya, ya hasil atau buahnya, ya keindahannya.

Ketika mengasihisayangi kendaraan, maka Allah juga bertitah kepadanya sehingga ia tidak rewel, tidak akan ngadat, mogok, apalagi nambrak-nabrak. Justru ia akan "mengabdi" kepada kita sepenuhnya;  mengantarkan ke manapun yang kita suka dengan nyaman. Maka tidak etis menelantarkannya sehingga degil atau tak laik jalan.

Ketika kita mengasihsayangi benda-benda atau perabotan rumah tangga atau perkakas kerja, maka dengan titahNya merekapun akan setia mengabdi dan melayani kebutuhan kita. Semoga kita dianugrahi hati yang memiliki kasih sayang, pekerti yang merahmati, dan lati yang tidak menyakiti. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama