Muhasabah ke-2605, 30 Dzulhijah 1443
Berbagi Kemaslahatan
Saudaraku, alhamdulillah kita sudah berada di akhir tahun 1443 hijriyah, dan esok hari di hari Sabtu kita sudah memasuki tahun baru 1 Muharam 1444. Maka izinkan saatnya mengevaluasi perjalanan setahun bermuhasabah teristimewa sebulan Dzulhijah 1443.
Bulan Muharam setahun yang lalu halaqah dini hari via muhasabah ini telah menyuguhkan tema tentang pesan yang terkandung di dalam hijrah, baik dari sisi ajaran maupun praktiknya. Kemudian bulan Safar kita diingatkan dengan bahasan tentang masa dalam beragam perspektifnya. Bulan Rabiul Awal membahas tentang kelahiran karena bersesuaian dengan momen maulid nabi. Bulan Rabiul Akhir muhasabah ini mengingatkan ulang tentang hidup dan kehidupan dan bulan Jumadil Awal tentang malu sebagai hiasan kehidupan seseorang.
Bulan Jumadil Tsani muhasabah menyuguhkan bahasan tentang keberkahan yakni segala hal dan aktivitas ketika dilakukan maka kebaikannya senantiasa bertambah-tambah (ziyadat al-khair).
Khusus keberkahan shalat dibahas selama bulan Rajab, karena bersesuaian dengan momen dan peringatan israk mikraj, dimana terjadi awal mula pensyariatan shalat pada Nabi dsn umatnya.
Adapun keberkahan puasa diingatkan kembali pada bulan Syakban sekaligus untuk membahani ilmu tentang pernak pernik ibadah puasa dalam rangka menyambut Ramadhan.
Dan pada bulan Ramadhan muhasabah mengingatkan kita tentang keberkahan membaca. Dan khusus keberkahan membaca al-Qur'an disuguhkan selama bulan Syawal tentang membaca Qur'an.
Berikutnya pada bulan Dzulkaidah mengulang kaji tentang fitrah dan bulan Dzulhijjah ini tentang berbagi. Ya, selama sebulan kita telah mengulangkaji tentang berbagi. Di antaranya.
Dalam muhasabah ke-1 bulan Dzulhijah kita diingatkan bahwa berbagi itu fitrah, sifat dasar yang baik dan dibawa oleh setiap orang. Oleh karenanya dalam muhasabah ke-2 ditegaskan lagi bahwa berbagi itu tuntutan kemuliaan, ia berbagi sebagai penanda takwa (muhasabah ke-3).
Karena sebagai perwujudan ketakwaan, maka berbagi itu indah (muhasabah ke-4), berbagi itu berkah (muhasabah ke-5), dan berbagi itu bahagia membahagiakan (muhasabah ke-6).
Karena hidupnya bahagia, maka memungkinkan untuk pantas dianugrahi panjang umur (muhasabah ke-7). Bahkan suatu saat kelak ketika ajal menjemput, berbagi menjadi di antara asbab meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah (muhasabah ke-8).
Tetapi, hebatnya selagi masih hidup di dunia, berbagi dapat mengikis kesombongan (muhasabah ke-9). Mengapa? Ya, karena berbagi itu menghendaki dekat dan kedekatan dengan sesamanya yang tidak mungkin dilakukan oleh orang sombong (muhasabah ke-10), merasa ceria bersama (muhasabah ke-11), dan menghilangkan kefakiran (muhasabah ke-12).
Itulah mengapa berbagi itu merupakan praktik keteladanan (muhasabah ke-13), implementasi mensyukuri (muhasabah ke-14), dan memvasilitasi keseimbangan dalam hidup ini (muhasabah ke-15).
Dalam praktiknya kita bisa berbagi sithik eding (muhasabah ke-16) antar sesama, berbagi ilmu (muhasabah ke-17), berbagi pengalaman (muhasabah ke-18), berbagi pengamalan (muhasabah ke-19), berbagi nasihat (muhasabah ke-20), berbagi senyum (muhasabah ke-21), berbagi salam (muhasabah ke-22), berbagi kabar berita (muhasabah ke-23), dan berbagi suka duka (muhasabah ke-24.
Di samping itu, dalam menjalani hidup kita mesti berbagi rasa peduli (muhasabah ke-25), berbagi amanah (muhasabah ke-26), berbagi peran kehidupan (muhasabah ke-27), berbagi kasih sayang (muhasabah ke-28), dan berbagi doa (muhasabah ke-29). Setelah saling berikhtiar dalam kebaikan dimaksimalkan dan doa pun sudah dipanjatkan, maka menutup muhasabah tahun sekaligus bulan Dzulhijah di hari ke-30 ini mengambil tema berbagi harapan kemaslahatan. Ini sebagai wujud tawakkal hamba ke atas segala ketetapan Allah Rabbuna.
Nah, tentu harapan kemaslahatan di sini kita serahkan kepada Allah atas segala ketentuan terbaik pada masing-masing hambaNya. Semoga doa dan harapan kita diijabahi dan diridhai Allah, Ilahy Rabby. Aamiin ya Mujib al-Sailin
Tags:
Muhasabah Harian