Berbagi Amanah

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 26 Dzulhijah 1443

Berbagi Amanah
Saudaraku, disadari atau tidak sejatinya dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini kita berbagi (baca juga, dibagi) amanah yang mesti diemban dijalankan oleh masing-masing orang. 

Pertama, amanah teologis. Nah yang ini sejatinya dibagi atau lebih tepatnya karena kodratnya. Dalam ranah teologi Islam, kita meyakini bahwa manusia mengemban amanah penghambaan pada Allah (peran 'abdullah) dan amanah kepemimpinan di atas bumi (peran kekhalifahan). Dalam mengemban amanah penghambaan setiap orang idealnya ya mengabdi dan menyembah Allah semata tanpa mensyarikatkanNya dengan apapun jua. Demikian juga dalam mengemban amanah kekhalifahan. Setiap orang idealnya turut aktif proaktif produktif mengelola bumi sekaligus memakmurkannya.

Ketaatan atau keingkaran terhadap amanah penghambaan dan amanah kekhalifahan tentu memiliki konsekuensi logis, yakni tinggi atau rendahnya derajat kemanusiaannya. Orang beriman dan beramal shalih memiliki derajat tinggi karena ketaatan dalam mengemban amanah penghambaan dan amanah kekhalifahan. Sebaliknya orang kafir dan orang fasik (orang yang suka melanggar aturan) dinilai rendah derajatnya karena keingkaran dan kesalahannya.

Kedua, amanah sosiologis antropologis. Dalam ranah sosiologis antropologis semua kita sejatinya mengemban amanah kepemimpinan, tetapi implementasi dan perwujudannya juga beebeda-beda. Setidaknya kepemimpinan terhadap diri sendiri, dimana masing-masing kita memiliki tugas dan kewajiban yang mesti ditunaikan agar eksistensi diri tetap bertahan dan diperhitungkan di lingkungan sosial kulturalnya. Jangan sampai ada, tapi tak dikira.

Adapun amanah kepemimpinan dalam masyarakat atau organisasi atau institusi atau perguruan tinggi atau korporasi selama ini berjalan gilir gumanti sesuai dengan dinamikanya yang kadang sulit dimengerti. Tetapi yang jelas seorang pimpinan - apa saja misalnya lurah/ keuchik sampai presiden, sekretaris prodi sampai rektor, kasubag hingga kepala biro, kopral hingga jendral - mestinya meminjam filosofi amongnya Ki Hadjar Dewantara harus bisa "ing ngarso sun tulodho, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani" (saat di depan tampil menjadi teladan, saat bersama mampu membimbing menyemangati, saat di belakang layar mampu memotivasi juga menginspirasi).

Secara proporsional, meski mengemban amanah kepemimpinan pada saat yang sama kita secara umum juga mengemban peran rakyat, peran staf atau peran bawahan. Mesti tidak sesulit mengemban amanah kepemimpinan, tetapi peran sebagai rakyat atau staf atau bawahan mestinya dijalankan dengan samikna wa athakna atas amar dan titah atasannya, selama tidak bertentangan dengan norma agama dan susila yang ada.

Dalam ranah keluarga, masing-masing kita juga mengemban peran dan amanah sesuai peruntukannya. Ada di antara kita yang mengemban peran atau amanah sebagai kepala rumah tangga, atau sebagai suami, istri, atau ayah, ibu, atau anak atau cucu dan seterusnya. Masing-masing tentu berkewajiban menunaikannya dengan cerdas dan ikhlas agar bahtera keluarga dapat berlayar mengarungi luasnya samudra kehidupan yang sering ombaknya tak bersahabat, tetapi bisa berjalan dengan terstandar aman nyaman dan sampai tujuan.

Secara sosiologis antropologis, mengapa berbagi peran itu niscaya? Mengapa  musti berbagi amanah? Ya, tentu saja. Karena hidup tidak bisa sendiri, apalagi memimpin negeri, mengelola institusi, memajukan organisasi. Di samping itu berbagi peran berbagi tugas dan berbagi amanah itu ya agar maslahah, bisa menjalani semua urusan dengan mudah, dan menuai berkah. 

Semoga kita amanah dalam mengemban peran penghambaan, peran kekhalifahan, peran kepemimpinan dan peran kerakyatan. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama