Alarm Modernisasi

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 2 Muharam 1444

Alarm Modernisasi
Saudaraku, kata GBHN  (sebutan kami untuk Guru Besar Harun Nasution saat kuliah di Pascasarjana era 90an baik IAIN Ar-Raniry Banda Aceh maupun saat di UIN Ciputat. Persis seperti GBHN bagi negara kita, gagasan pembaruan pemikiran Prof Harun begitu mendominasi pada para mahasiswa dan alumni pasca UIN yang dikhidmatinya hingga kini), di antara penanda krusial dari era modern dalam Islam abad XIX adalah lahirnya semangat memperbaiki diri.

Dalam dunia Islam, modernisasi dan semangat memperbaiki diri dilatari oleh faktor internal yakni kelemahan umat Islam yang terjadi mulai peretengahan abad XIII dan faktor eksternal berupa kemajuan dunia barat yang kian merangsek. Umat Islam meyakini benar bahwa hari-hari itu dipergilirgumantikan. Bangsa Mesir pernah berjaya mengukir peradabannya dengan tinta emas. Berikutnya kebudayaan bangsa Parsi Kuna, India Purba, Tiongkok Kuno, Yunani Romawi Bezantium, Islam dan Barat.

Bila kita renungkan, maka kesadaran untuk memperbaiki diri, memperbaiki institusi dan membangun negeri sehingga menjadi lebih baik sejatinya merupakan makna substantif dari hijrah yang dilakukan oleh Nabi. Meski demikian pun makna substantif ini sejatinya juga dapat dipahami dari makna lahiriyah hijrah itu sendiri. Mengapa? 

Iya, karena secara lahiriyah, hijrah itu merupakan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabat dari Makkah yang kurang kondusif dan kurang baik bagi perkembangan Islam saat itu menuju ke Yatsrib atau Madinah yang berbukti kondusif, sehingga Islam dapat berkembang pesat menyinari seluruh negeri. Bahkan di era pasca kenabian, Islamisasi berhasil menembusi dinding-dinding jazirah Arabia, hingga ke benua, Afrika, Eropa, Amerika, Asia, dan Australia. Ini berarti cikal bakalnya adalah hijrah.

Ya, karena penanda penting dari kemodernan itu perbaikan dan semangat hijrah juga perbaikan, maka dari itu inti dari hijrah adalah gerakan perbaikan, gerakan pembaruan. Jadi hijrah itu modernisasi. Nah alarm modernisasi sudah berbunyi. Maka setelah bangkit seperti diingatkan dalam muhasabah yang baru lalu, kini saatnya melakukan pembaruan, melakukan perbaikan.

Nah, apa yang mesti diperbaiki? Yang mesti diperbaiki ya apa saja, baik niatnya, pola pikirbya, maupun pranata sosial yang dirasa tidak lagi sesuai dengan tuntunan Islam dan tuntutan zaman. Jadi pijakan utama dari modernisasi adalah tuntunan Islam yang termaktub pada al-Qur'an dan Hadits Nabi. Intensitas relasi dan interaksi dengan wahyu kemudian mensolusi dan memberi spirit bagi apapun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam konteks hidup dan kehidupan yang berkeadaban dan berkemajuan, niat baik dirasa belum cukup sampai ia benar-benar mewujud dalam amaliyah praktis yang rahmatan lil 'alam, sehingga para pihak dan seluas-luasnya kehidupan dapat menikmatinya. 

Pola pikir yang lurus dinilai belum memadahi sebelum ia merefleksi dalam kearifan aksi yang dapat dinikmati dirasakan oleh siapapun dan apapun. Pola pikir picik atau sektarian tidak akan membantu, bahkan hanya akan mempersulit diri. Makanya harus segera direvisi agar merahmati semua orang tanpa sekat darah dan daerah. Pola pikir dan upaya balas dendam bukan zamannya meski pernah didhalimi atau bahkan dikhianati. Semua ini musti diakhiri diganti dengan berbagi kemaafan, agar semua turut memberi kontribusi dan memvasilitasi kebaikan.

Praktik baik juga dirasa tidak cukup bila hanya dilakukan secara sporadis atau tambal sulam. Oleh karenanya praktik baik musti konsisten istikamah, sehingga melembaga dari tuntutan menjadi tuntunan, dari tuntunan menjadi tatanan kehidupan.

Pranata sosial dan asesoris yang ada mustinya diupdate disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mendukung efisiensi dan efektivitasnya dalam melayani tuannya.

Teori, ilmu pengetahuan dan teknologi mestinya diabdikan sepenuhnya mendekatkan diri pada Allah. Ditandai dengan meningkatnya kualitas dalam ta'abud ilallah, beribadah pada Allah dan mengelola bumi. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama