Keberkahan (Ber)Tetangga

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 12 Jumadil Akhir 1443 

Keberkahan (Ber)Tetangga
Saudaraku, sebagai makhluk sosial, setiap diri cenderung suka hidup berelasi, berteman, dan berkelompok dengan sesamanya. Coba, bayangkan bila hidup sendiri atau menyendiri! Waduh... serem, sempit, sulit dan susahnya tak terbayangkan. 

Bila kelompok yang paling kecil sebentuk keluarga (keluarga inti, nuclear family or keluarga besar, big family), maka ini kemudian menjadi pondasi bagi bangunan di atasnya, yakni komunitas yang lebih besar atau masyarakat atau umat. Di dalamnya mengakomodir beberapa dan banyak keluarga yang membentuk suatu ikatan atau keterikatan tertentu, makanya antar satu keluarga dengan keluarga lainnya lazim menjalin komunikasi, relasi dan saling menjunjung nilai kemuliaan yang telah mapan dan diuri-uri dilestarikan.

Dulu konsep tetangga itu atas pertimbangan jarak. Jarak satu rumah ke rumah lainnya berdekatan, maka komunikasinya juga luring. langsung face to face. Dalam Islam, orang-orang yang menetap dalam radius 40 rumah di sekelilingnya (40 rumah di depannya, 40 rumah yang berada di belakangnya, 40 rumah yang ada di samping kiri dan 40 rumah di samping kanan) disebut tetangga. Bagi yang menempati rumah susun, maka 40 rumah di atasnya dan 40 rumah di bawahnya juga tetangga. Bahkan sekarang konsep tetangga (orang-orang yang rumahnya relatif berdekatan) bisa diperluas misalnya sesama group di wa dan wa tetangganya, sesama yang nomor hpnya saling simpan,  juga yang berteman di laman facebook, twiters, instagram, bloog atau sejenisnya. 

Perkembangan teknologi informasi benar-benar merevisi konsep dan definisi tetangga, relasi, transaksi atau lainnya. Mengapa? Karena bisa terjadi di era sekarang ini orang-orang sesama group wa atau sesama teman yang tersimpan nomor hpnya atau berteman dalam facebook, twiters, instagram justru yang lebih dahulu mengetahui hal ikhwal kita, sementara tetangga di samping rumah belum mengetahuinya. Begitu juga yang kemudian membantu atau datang ke rumah. Nah, mana yang disebut tetangga sejati? Meski demikian tetangga ya tetap tetangga yang sama-sama memiliki hak dan kewajiban atasnya. Maka tema muhasabah kali ini akan mengulangkaji tentang keberkahan (ber)tetangga.

Sejatinya menyoal tentang keberkahan bertetangga dapat dengan mudah dicermati pada landasan teologis normativ, baik dalam Al-Qur'an maupun hadits Nabi. Dalam konteks ini, Allah berfirman yang artinya Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. Al-Nisa' 36)

Berdasarkan normativitas yang maknanya tertera di atas di antaranya dapat dipahami bahwa kita harus berbuat baik kepada semua orang. Kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan tetangga sengaja disebut karena lazimnya kepada merekalah kita lebih banyak berinteraksi, bahkan berkepentingan satu dengan lainnya. Jadi tetangga juga harus mendapati haknya.  

Rasulullah saw bersabda, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka ia harus memuliakan tetangganya". Dalam hadis lain, Rasulullah saw mengungkapkan bahwa Jibril selalu memerintahkannya untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai-sampai beliau mengira para tetangga termasuk salah satu ahli waris. 

Di samping sebagai identitas diri dan bukti konkret atas keimanannya kepada Allah, berbuat baik dan saling memuliakan antar tetangga juga menciptakan sebuah tatanan masyarakat utama yang saling asih asah dan asuh membangun peradaban yang adi luhung. Jadi dimensi vertikal berupa keimanan mewujud dalam ranah horisontal.

Nabi bersabda, sahabat yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap sahabatnya. Tetangga yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap tetangganya” (HR. Al Tirmidzi 1944, Abu Daud 9/156, dinilai shahih oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 103)

Karena itu, Rasul memerintahkan Abu Dzar (dan istrinya) agar saat memasak memperbanyak kuahnya sehingga tetangga dapat ikut merasakannya. Jika engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya. Lalu lihatlah keluarga tetanggamu, berikanlah sebagiannya kepada mereka dengan cara yang baik” (HR. Muslim 4766)

Untuk menjemput keberkahan bertetangga, antar tetangga juga harus menjauhi sifat sikap tercela dan menjahati tetangga. Nabi bersabda Demi Allah, tidak beriman, tidak beriman, tidak beriman. Ada yang bertanya: ‘Siapa itu wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: ‘Orang yang tetangganya tidak aman dari bawa’iq-nya (kejahatannya)‘” (HR. Bukhari 6016, Muslim 46) makanya juga terdapat juga kisah tentang seorang wanita yang konon ahli ibadah, tapi ia dinyatakan oleh Nabi sebagai ahli neraka. Apa sebabnya? Karena ia selalu menyakiti tetangganya.

Dengan demikian di antara keberkahan (ber)tetangga adalah menjamin keamanan dan kesejahteraan satu dengan lainnya, menyediakannya layanan dan bantuan satu sama lain, memungkinkan untuk saling ingat mengingatkan dalam hal kesabaran dan ketakwaan.   Bila cita cinta bersama dalam keluarga seperti yang diilustrasikan di atas terealisir, maka keberkahan (ber)tetangga akan senantiasa dirasa. Allahu a'lam

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama