Bahagia Berharap pada Allah

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.036
Jumat, 18 Muharam 1448

Bahagia Berharap pada Allah 
Saudaraku, pada bulan Ramadhan 8 Hijriah, Rasulullah bersama pasukan kaum muslimin bergerak dari Madinah menuju Makkah. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Fathu Makkah, penaklukan Makkah yang agung namun nyaris tanpa pertumpahan darah. Peristiwa ini dilatari oleh pelanggaran perjanjian Hudaibiyah yang dilakukan kaum Quraisy, sehingga Rasulullah memutuskan bergerak menuju Makkah untuk menegakkan kembali keadilan dan memulihkan kehormatan kaum muslimin. 

Yang menarik, perjalanan besar itu bukan semata gerakan militer. Ia adalah perjalanan ruhani yang sarat pelajaran tauhid. Rasulullah memasuki Makkah bukan dengan dada membusung, melainkan dengan kepala tertunduk dalam tawaduk di atas tunggangannya, seakan-akan kemenangan itu bukan milik beliau, melainkan sepenuhnya karunia Allah. Kota yang dahulu mengusir beliau, merampas harta para sahabat, memusuhi dakwah, dan memaksa kaum beriman berhijrah, kini terbuka di hadapan beliau. Namun Rasulullah tidak datang dengan dendam. Beliau datang dengan pengampunan, dengan pembersihan Ka'bah dari berhala, dan dengan pengembalian Makkah kepada tauhid. Peristiwa ini menjawab satu harapan besar yang dahulu tampak jauh bahwa rumah Allah akan kembali suci, dan agama Allah akan kembali tegak di tanah kelahirannya.

Di sinilah letak pelajaran pentingnya, hijrah bukan sekadar berpindah tempat, tetapi berpindah dari putus asa menuju harapan kepada Allah. Saat Rasulullah keluar dari Makkah bertahun-tahun sebelumnya, secara lahiriah beliau tampak meninggalkan kota itu dalam keadaan lemah. Namun beliau tidak meninggalkan Makkah dengan keputusasaan. Beliau pergi dengan keyakinan bahwa Allah mempunyai rencana yang lebih besar daripada pengusiran manusia. Maka Fathu Makkah sesungguhnya adalah buah dari harapan yang tidak pernah padam di dalam hati seorang Nabi.

Jika pada muhasabah sebelumnya kita diajak menjadikan Allah sebagai tempat mengadu, maka hari ini kita diajak melangkah lebih jauh: menjadikan Allah sebagai tempat berharap. Mengadu adalah bahasa luka; berharap adalah bahasa masa depan. Mengadu adalah pengakuan bahwa kita lemah; berharap adalah keyakinan bahwa Allah mampu mengubah kelemahan menjadi kekuatan. Mengadu membuat hati jujur di hadapan Allah; berharap membuat hati hidup bersama janji-janji Allah.

Secara filosofis, manusia tidak bisa hidup tanpa harapan. Harapan adalah tenaga batin yang membuat seseorang sanggup bangun setelah jatuh, tersenyum setelah menangis, dan melangkah setelah gagal. Orang yang kehilangan harta belum tentu hancur, orang yang kehilangan jabatan belum tentu runtuh, tetapi orang yang kehilangan harapan biasanya kehilangan alasan untuk bertahan. Karena itu, tempat kita menggantungkan harapan akan sangat menentukan kualitas hidup kita.

Masalahnya, banyak manusia meletakkan harapan pada tempat yang salah. Ada yang berharap sepenuhnya pada manusia, lalu hancur ketika manusia berubah. Ada yang berharap sepenuhnya pada jabatan, lalu gelisah ketika kedudukan bergeser atau hilang. Ada yang berharap sepenuhnya pada harta, lalu panik ketika angka-angka menurun. Semua harapan yang digantungkan pada makhluk akan selalu mengandung kemungkinan patah, sebab makhluk itu sendiri fana, terbatas, dan berubah-ubah.

Berbeda dengan Allah. Berharap kepada Allah tidak pernah sia-sia. Allah mungkin tidak mengabulkan pada waktu yang kita inginkan, tetapi Dia tidak pernah menyia-nyiakan doa. Allah mungkin tidak memberi dalam bentuk yang kita bayangkan, tetapi Dia selalu memberi dalam bentuk yang paling mengandung hikmah. Allah mungkin menunda, tetapi penundaan-Nya bukan penolakan; sering kali ia adalah pendidikan, pematangan, atau perlindungan. Maka orang yang berharap kepada Allah sesungguhnya sedang menggantungkan hatinya kepada Dzat yang Maha Kaya, Maha Kuasa, dan Maha Pengasih.

Fathu Makkah mengajarkan bahwa harapan kepada Allah kadang memerlukan waktu yang panjang. Dari hijrah ke Madinah hingga kembali menaklukkan Makkah, terbentang tahun-tahun perjuangan, luka, peperangan, diplomasi, dan ujian kesabaran. Tetapi justru di situlah nilai harapan diuji. Harapan yang sejati bukanlah optimisme sesaat ketika jalan terlihat mudah. Harapan yang sejati adalah kemampuan menjaga keyakinan ketika jalan masih gelap, hasil belum tampak, dan pertolongan belum tiba. Rasulullah ﷺ tidak berhenti berharap kepada Allah hanya karena Makkah belum kembali pada tahun pertama hijrah, atau tahun kedua, atau tahun ketiga. Beliau terus melangkah, terus berdakwah, terus membina umat, terus berdoa, dan terus mempercayai takdir Allah. Dan pada waktunya, Allah membukakan pintu yang dahulu tampak mustahil.

Semangat hijrah pada bulan Muharam juga mengajarkan hal yang sama kepada kita. Ada orang yang sedang berhijrah dari kebiasaan buruk menuju ketaatan, tetapi berkali-kali jatuh. Ada yang sedang berhijrah dari hidup yang lalai menuju hidup yang lebih dekat kepada Allah, tetapi godaan terasa berat. Ada yang berhijrah dari putus asa menuju optimisme, tetapi kenyataan belum banyak berubah. Di sinilah muhasabah hari ini menjadi penting: jangan letakkan harapan pada kemampuan diri semata; letakkan harapan pada Allah. Kemampuan diri bisa habis, semangat bisa turun, dukungan manusia bisa hilang, tetapi rahmat Allah tidak pernah kering.

Menjadikan Allah sebagai tempat berharap juga berarti memperbaiki cara kita memandang masa depan. Seorang mukmin tidak hidup dengan pesimisme, karena ia mengenal Tuhannya. Ia tahu bahwa Allah mampu membolak-balik keadaan. Hari ini sempit, besok Allah lapangkan. Hari ini gagal, besok Allah bukakan pintu yang lain. Hari ini doa belum terjawab, besok Allah jawab dengan cara yang lebih indah. Karena itu, harapan kepada Allah bukan sikap pasif, melainkan energi aktif yang melahirkan doa, kesabaran, kerja keras, dan istiqamah.

Bahkan dalam urusan taubat pun, seorang hamba harus menjadikan Allah sebagai tempat berharap. Betapa pun banyak dosa, jangan putus asa. Betapa pun kelam masa lalu, jangan menyerah. Betapa pun sering kita jatuh, jangan berhenti kembali. Sebab Allah yang kita sembah adalah Allah yang membuka pintu ampunan lebih luas daripada luas dosa-dosa kita. Jika Makkah yang dahulu menjadi pusat penentangan terhadap Rasulullah ﷺ pada akhirnya dibersihkan dan dimuliakan oleh Allah, maka hati kita pun—betapa pun kotor oleh dosa—masih mungkin dibersihkan selama kita kembali kepada-Nya dengan jujur.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama