Bahagia Saat Keimanan Teruji

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.038
Ahad, 20 Muharam 1448

Bahagia Saat Keimanan Teruji
Saudaralu, pada bulan Syawal tahun 8 Hijriah, tidak lama setelah Fathu Makkah, Rasulullah  memimpin kaum muslimin keluar dari Makkah menuju lembah Hunain, sebuah kawasan di antara Makkah dan Thaif. Hal ini dilatari adanya ancaman dari kabilah Hawazin dan Tsaqif yang merasa terancam oleh bangkitnya kekuatan Islam, sehingga mereka menyiapkan serangan lebih dahulu. Rasulullah pun bergerak untuk menghadapi ancaman itu. Namun di Hunain, kaum muslimin mengalami peristiwa yang sangat mengguncang: pada awal pertempuran mereka disergap dari berbagai arah, barisan kacau, sebagian pasukan mundur, dan suasana panik melanda. Padahal mereka baru saja merasakan kemenangan besar di Makkah.

Peristiwa Hunain menjadi pelajaran besar bahwa kemenangan tidak otomatis berarti iman sudah matang. Sebagian kaum muslimin ketika itu sempat merasa kuat karena jumlah mereka banyak. Dalam riwayat disebutkan ada yang berkata bahwa hari itu mereka tidak akan kalah karena jumlah pasukan yang besar. Kalimat itu tampak sederhana, tetapi ia mengandung isyarat psikologis yang penting: hati mulai menoleh kepada jumlah, bukan sepenuhnya kepada Allah. Maka Allah memperlihatkan bahwa banyaknya jumlah tidak menjamin kemenangan bila hati mulai bergeser dari tawakal menuju rasa aman semu pada kekuatan diri.

Di tengah kekacauan itu, Rasulullah tetap teguh di atas bagalnya, tidak lari, tidak panik, tidak kehilangan arah. Beliau memanggil pasukan muslimin untuk kembali, menyeru para sahabat agar berkumpul, dan tetap memimpin di titik paling berbahaya. Perlahan, kaum muslimin sadar, kembali kepada Rasulullah, menyusun barisan, lalu Allah menurunkan pertolongan-Nya hingga keadaan berbalik menjadi kemenangan. Dari Hunain kita belajar bahwa setelah kemenangan besar pun, seorang mukmin masih bisa diuji; bahkan kadang ujian setelah kemenangan justru lebih halus dan lebih berbahaya daripada ujian saat tertekan.

Jika pada muhasabah sebelumnya kita berbicara tentang memperkuat keyakinan melalui Fathu Makkah, maka hari ini kita melangkah ke tahap berikutnya: bahagia saat keimanan teruji. Keyakinan yang telah diperkuat tidak cukup hanya disimpan sebagai kesadaran batin; ia harus dibuktikan di medan kehidupan. Iman yang tidak diuji akan mudah dikira sudah kokoh, padahal mungkin baru sebatas semangat. Karena itu Allah tidak hanya memberi kemenangan kepada hamba-hamba-Nya, tetapi juga menghadirkan ujian setelah kemenangan agar iman menjadi matang, rendah hati, dan jernih.

Secara filosofis, manusia sering mengira ujian hanya datang dalam bentuk kesulitan. Kita terbiasa memandang sakit, kehilangan, kegagalan, kemiskinan, dan kesempitan sebagai ujian. Padahal keberhasilan, popularitas, kemudahan, kelapangan, bahkan kemenangan pun adalah ujian. Ujian kesulitan menampakkan kadar kesabaran, sedangkan ujian kemenangan menampakkan kadar kerendahan hati. Ujian kekurangan menyingkap sejauh mana kita mampu bertahan, sedangkan ujian kelimpahan menyingkap sejauh mana kita mampu bersyukur dan tetap bergantung kepada Allah.

Di sinilah letak kehalusan pendidikan ilahi. Allah tidak hanya mendidik hamba-Nya ketika ia lemah, tetapi juga ketika ia merasa kuat. Allah tidak hanya menguji hamba-Nya ketika ia kalah, tetapi juga ketika ia menang. Sebab kadang manusia lebih mudah menangis ketika gagal daripada tunduk ketika berhasil. Banyak orang tetap rajin berdoa ketika hidupnya susah, tetapi mulai lalai ketika hidupnya lapang. Banyak orang merasa sangat membutuhkan Allah ketika terjepit, tetapi mulai percaya berlebihan kepada dirinya ketika sukses. Maka ujian setelah Fathu Makkah dan Hunain seakan berkata kepada kita: “Jangan sampai kemenangan membuatmu lupa bahwa engkau tetap hamba.”

Semangat hijrah pada muhasabah ini menjadi sangat relevan. Hijrah bukan hanya berpindah dari kekafiran menuju iman, dari maksiat menuju taat, atau dari kelalaian menuju kesadaran. Hijrah juga berarti berpindah dari iman yang reaktif menuju iman yang stabil. Iman yang reaktif hanya hidup ketika ada musibah; ia rajin ketika susah, tetapi lemah ketika lapang. Adapun iman yang stabil tetap tunduk dalam segala keadaan: ketika miskin ia sabar, ketika kaya ia syukur; ketika gagal ia beristighfar, ketika berhasil ia merendah; ketika kalah ia bertahan, ketika menang ia tidak mabuk kemenangan.

Peristiwa Hunain juga mengajarkan bahwa salah satu ujian keimanan yang paling berat adalah ujian rasa cukup pada diri sendiri. Saat seseorang merasa cukup dengan ilmunya, ia mulai malas berdoa. Saat seseorang merasa cukup dengan jabatannya, ia mulai menganggap dirinya penting. Saat seseorang merasa cukup dengan hartanya, ia mulai memandang orang lain dari atas. Saat seseorang merasa cukup dengan pengalaman ibadahnya, ia mulai sulit dinasihati. Semua itu adalah tanda bahwa iman sedang diuji: apakah ia tetap sadar bahwa dirinya hamba, atau mulai diam-diam memindahkan sandaran dari Allah kepada dirinya sendiri?

Maka “bahagia saat keimanan teruji” bukan berarti kita senang terhadap rasa sakit, keguncangan, atau kegagalan. Maksudnya adalah kita bahagia karena ujian itu membuka kualitas iman kita yang sebenarnya. Ujian adalah cermin yang jujur. Ketika hidup tenang, kita bisa saja mengira diri kita tawakal, sabar, dan ikhlas. Tetapi ketika keadaan berguncang, barulah tampak apakah hati ini benar-benar bergantung kepada Allah atau hanya bergantung kepada suasana yang nyaman. Dalam bahasa lain, ujian adalah cara Allah memperlihatkan kepada kita posisi ruhani kita yang sesungguhnya.

Keimanan yang teruji juga akan melahirkan dua kematangan sekaligus. Pertama, kematangan spiritual, yaitu kesadaran bahwa Allah adalah pusat segala sesuatu. Kedua, kematangan psikologis, yaitu kemampuan mengelola gejolak jiwa ketika keadaan tidak sesuai rencana. Di Hunain, kepanikan sempat terjadi. Itu manusiawi. Namun iman mengajarkan bahwa kepanikan tidak boleh dibiarkan memimpin hidup. Hati boleh bergetar, tetapi kompas harus tetap menunjuk kepada Allah. Pikiran boleh bingung sesaat, tetapi keputusan akhir harus tetap berada dalam koridor iman.

Muhasabah ini sangat penting untuk kehidupan kita hari ini. Ada orang yang imannya diuji oleh jabatan baru. Dulu ketika belum menjadi pemimpin, ia rajin ke masjid, rendah hati, dan mudah menangis dalam doa. Tetapi setelah diberi jabatan, ia berubah: sulit dihubungi, mudah marah, merasa paling benar, dan makin jauh dari Allah. Ada orang yang imannya diuji oleh rezeki. Dulu ketika susah, lisannya basah oleh istighfar. Setelah lapang, lisannya lebih sibuk menyebut pencapaian dirinya daripada menyebut nikmat Allah. Ada pula orang yang imannya diuji oleh pujian. Dulu ia bekerja ikhlas, tetapi setelah dipuji, ia mulai mencintai sorotan, memburu pengakuan, dan kecewa bila tidak dihargai. Semua itu adalah “Hunain-Hunain kecil” dalam kehidupan kita.

Karena itu, setelah muhasabah tentang menjadikan Allah sebagai tempat berharap dan memperkuat keyakinan, hari ini kita diajak bertanya lebih dalam: bagaimana kualitas iman kita ketika diuji? Apakah kita hanya tampak saleh ketika hidup baik-baik saja? Apakah kita hanya tampak tawakal ketika hasil sesuai keinginan? Apakah kita masih ingat Allah ketika sedang dipuji, sedang berhasil, sedang menang, sedang lapang? Ataukah justru pada saat itulah kita mulai longgar dalam ketaatan?

Keimanan yang teruji akan selalu melahirkan kerendahan hati. Orang yang pernah diuji oleh Allah lalu selamat akan sadar bahwa dirinya tidak pernah benar-benar kuat tanpa pertolongan Allah. Ia tidak mudah meremehkan orang lain, sebab ia tahu betapa rapuhnya manusia. Ia tidak mudah sombong dengan keberhasilannya, sebab ia tahu bahwa kemenangan dapat berubah menjadi kekalahan bila Allah mencabut pertolongan. Ia juga tidak mudah putus asa saat jatuh, sebab ia tahu bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan undangan untuk kembali meluruskan sandaran hati.

Mungkin inilah salah satu makna terdalam dari hijrah ruhani: berhijrah dari iman yang bergantung pada keadaan menuju iman yang bergantung pada Allah. Selama iman kita masih bergantung pada keadaan, kita akan rajin hanya ketika sempat, tenang hanya ketika semua baik-baik saja, dan percaya diri hanya ketika banyak dukungan. Namun ketika iman bergantung kepada Allah, kita akan tetap menjaga shalat meski sibuk, tetap bersyukur meski tertunda, tetap jujur meski tertekan, tetap rendah hati meski berhasil, dan tetap berharap meski jalan belum terbuka.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama