Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.039
Senin, 21 Muharam 1448
Bahagia Menikmati Manisnya Iman
Saudataku, setelah Fathu Makkah, Rasulullah dan umat Islam tidak berhenti meraih kemenangan. Rasulullah melanjutkan perjalanan dakwah ke berbagai kabilah di Jazirah Arab agar tauhid tidak hanya tegak di Ka’bah, tetapi juga meluas di sekitarnya. Salah satu kisah pasca Fathu Makkah adalah datangnya utusan dari kabilah Tsaqif dari Thaif ke Madinah. Mereka datang setelah melihat bahwa kekuatan Islam bukan lagi gelombang sesaat, melainkan cahaya yang terus membesar. Mereka bernegosiasi, meminta beberapa keringanan agar dapat masuk Islam tanpa meninggalkan seluruh kebiasaan lama mereka, tetapi Rasulullah tetap menegaskan bahwa Islam bukan agama yang dibangun di atas tawar-menawar hawa nafsu, melainkan di atas ketundukan total kepada Allah. Pada akhirnya, mereka menerima Islam, dan dari situlah tampak bahwa kemenangan terbesar bukanlah tunduknya sebuah wilayah, melainkan tunduknya hati kepada kebenaran.
Di sinilah muhasabah hari ini bermula. Jika pada muhasabah sebelumnya kita diajak melihat bahwa keimanan harus teruji, maka hari ini kita diajak menyadari bahwa iman yang teruji dengan jujur akan berbuah manis di dalam hati. Manisnya iman bukan sekadar perasaan haru sesaat dalam ibadah, melainkan ketenangan yang lahir karena hati telah menemukan tempat bergantung yang benar. Ia adalah rasa lapang saat taat, rasa malu saat berdosa, rasa rindu saat jauh dari Allah, dan rasa damai ketika hidup berjalan di bawah tuntunan-Nya.
Secara filosofis, manusia selalu mencari kenikmatan. Namun banyak orang keliru mencarinya hanya pada benda, pujian, jabatan, atau kemenangan. Padahal semua itu hanya memberi rasa senang, bukan selalu memberi ketenteraman. Manisnya iman berbeda dengan manisnya dunia. Manisnya dunia sering bergantung pada apa yang kita miliki, sedangkan manisnya iman bergantung pada siapa yang kita yakini. Dunia membuat kita senang karena merasa memiliki sesuatu, sedangkan iman membuat kita tenang karena merasa dimiliki oleh Allah.
Pasca Fathu Makkah, Islam memasuki fase ketika orang-orang datang berbondong-bondong kepada agama Allah. Namun di situlah ujian lain muncul: apakah Islam hanya diterima sebagai arus kemenangan, atau sungguh-sungguh diresapi sebagai kebenaran yang menghidupkan jiwa? Sebab masuk Islam itu satu hal, tetapi menikmati manisnya iman adalah hal lain. Ada orang yang menjalankan agama sebagai beban, ada yang menjalaninya sebagai kebiasaan, dan ada pula yang menjalaninya sebagai kebutuhan ruhani. Orang yang merasakan manisnya iman tidak melihat shalat sebagai kewajiban yang memberatkan, melainkan perjumpaan yang menenangkan; tidak melihat Al-Qur’an sebagai bacaan rutin semata, melainkan cahaya penuntun hidup; tidak melihat hijrah sebagai kehilangan kesenangan, melainkan penemuan makna hidup yang lebih tinggi.
Semangat hijrah pada muhasabah ini adalah hijrah dari iman yang formal menuju iman yang lezat dirasakan. Bukan hanya Islam di kartu identitas, tetapi Islam di dalam kesadaran. Bukan hanya tauhid di lisan, tetapi tauhid yang mengalir menjadi sabar, syukur, jujur, tawakal, dan takut berbuat dosa. Sebab iman yang manis akan membuat seseorang tetap taat meski tidak dilihat manusia, tetap jujur meski ada kesempatan curang, tetap bersyukur meski nikmat tidak berlimpah, dan tetap tenang meski hidup tidak selalu mudah.
Karena itu, layak kita bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sudah merasakan agama sebagai nikmat, atau masih sering menjalaninya sebagai beban? Apakah hati kita merasa lapang saat mendengar azan, atau justru merasa terganggu? Apakah kita merasa kehilangan bila sehari jauh dari Al-Qur’an dan dzikir, atau biasa-biasa saja? Di situlah letak ukuran sederhana manisnya iman: sejauh mana hati merasa dekat dengan Allah sebagai kebutuhan, bukan sekadar kewajiban. Dan tentu, bahkan banyak yang merasakan sebagai kelazatan.