Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 11 Jumadil Akhir 1443
Keberkahan Ber(Guru)
Saudaraku, pernahkan kita, saya juga tuan puan bertanya: bisa menjadi seperti sekarang ini, selain karena atas karunia Allah ta'ala, atas jasa siapa coba? Orang bijak pasti pernah bertanya pada diri sendiri dan atau setidaknya menyadari bahwa bisa menjadi seperti sekarang ini atas jasa banyak orang yang melatih, mengajari dan mendidik kita. Orang-orang mulia ini adalah guru kita. Maka ijinkan tema muhasabah hari ini mengingatkan kembali tentang keberkahan (ber)guru.
Sungguh luar biasa jasa guru. Malah di jagad raya ini, sejatinya hanya ada dua profesi saja yang digeluti oleh manusia. Tuan puan tahu profesi apa? Yaitu guru dan .... (pasti ada yang menjawab; dokter, bidan, perawat, insinyur, kontraktor, teknokrat, birokrat, tentara, polisi, hakim, jaksa, anggota dewan, menteri, prediden .... atau tukang, pedagang, petani, nelayan dan profesi lainnya). Ya benar, tapi kok menjadi banyak sekali???
Nah, yang lebih tepat dua profesi itu adalah GURU dan SELAIN GURU. Sudah dua ini saja. Tidak percaya? Coba renungkan sejenak! Ya, bukan? Tetapi makna tersirat yang ingin disampaikan di sini bahwa profesi selain guru itu lahir atau dilahirkan oleh guru. Nah luar biasa bukan jasa guru itu? Oleh karena itu seseorang bisa menjadi dokter, atau bidan, perawat, insinyur, kontraktor, teknokrat, birokrat, tentara, polisi, hakim, jaksa, anggota dewan, menteri, prediden .... atau tukang, pedagang, petani atau lainnya ya di antaranya karena ada ber(guru). Coba ditanya pada seorang dokter bagaimana bisa menjadi dokter! Pasti jawabannya di antaranya karena ada (ber)guru. Pak Presiden pun punya guru; Pak Menteri juga punya guru; Pak Tukang Kayu juga punya guru. Jadi semua profesi dilahirkan oleh guru.
Nah, di antara keberkahannya, ilmu dan kebaikan yang dididikkan oleh guru akan menjadi sangat banyak dan berkembang di altar murid-muridnya yang juga sangat banyak. Seorang saja mengajarkan ilmu dan kebaikan kepada orang lain akan menjadi amal jariyah dirinya dan juga amal jariyah gurunya. Demikian seterusnya, dari 1 menjadi 2, dari 2 menjadi 4, 8, 16, 32, 64, 128 ... seterusnya hingga unlimited jumlahnya. Bukankah ini merupakan keberkahan yang amat nyata?
Keberkahan lainnya, bila seorang guru mengetahui dan menyaksikan anak didiknya setelah dewasa menjadi seorang presiden atau menteri atau pejabat tinggi tinggi lainnya atau rektor, dosen atau lainnya, maka dirinya merasa sangat bersyukur. Apa berharap meminta dibalas jasanya? Tidak sama sekali. Jadi seorang guru seperti matahari yang menyinari tanpa harap kembali. Mendengar anak didiknya menjadi pejabat dalam berkidmat pada rakyat saja sudah menjadi terasa nikmat, apalagi hebatnya memengaruhi dan membawa pada bahagia dunia akhirat.
Itulah guru. Guru itu ya orangtua kita, ayah ibu kuta, saudara dan keluarga kita; ya guru yang mengasuh kita saat belajar di RA/TK, ya guru yang mendidik saat kita belajar di MI/SD, ya guru yang mentransfer nilai kemuliaan saat kita belajar di MTs/SMP, ya guru yang memberi keteladanan kebaikan saat kita belajar di MA/SMA, ya guru yang mencerdaskan saat kita belajar di kampus di S1, S2 dan S3, ya guru yang melatih meneladankan saat kita belajar di meunasah, surau, masjid, TPA, TQA, Dayah, Pondok Pesantren, dan guru yang memberitahu kita hatta satu huruf sekalipun.
Kini, masihkan kita mengingat mereka; masihkah kita mengenang jasa-jasanya? Dan pertanyaan yang lebih subtantif; masihkah kita istikamah "menguri-uri" laku kemuliaan yang dididik-pesankan mereka atas kita saat belajar bersamanya?
Nah, kini setidaknya untuk menolak lupa terhadap para guru yang sudah kembali ke haribaan Allah ta'ala mari sejenak membaca al-Fatihah dan mengirimkan doa semoga meniknati surga atas jasa-jasanya. Dan kepada para guru yang masih dikaruniai umur panjang kita doakan semoga dalam kondisi sehat wal afiat tidak kurang suatu apa, berkah hidupnya, meluas ilmu dan hikmahnya, hatinya selalu bersyukur ke haribaanNya.
Salam takdhim saya haturkan untuk semua guruku; Bu Jarwo saat diriku belajar, bernyanyi dan bermain di Taman Kanak-kanak Pertiwi Planggu; Bu Suhani, Pak Sumpono, Bu Sunarti dan semua guruku di SD Planggu 1 terutama yang berbakti pada 1975-1981; Pak Dasuki, Bu Suti, Pak Gino, dan semua guru di SMP 2 Cawas terutama yang bertugas pada 1981-1984; Pak Suparmin, Pak Suhardi, Bu Sri Rejeki, Pak Abid dan semua guruku di PGAN 1 Klaten terutama yang mengabdi pada 1984 -1987.
Salam takdhim saya haturkan untuk semua guruku di kampus strata satu. Prof. Safwan Idris, Prof. Muslim Ibrahim, Pak Ramli Maha, Pak Abdurrahman Ali, Pak Umar Ali Aziz, Pak Marzun, Prof. Zainal Abidin Alawy, Pak Yakuby, Prof. Darwis Sulaiman, Pak M. Nur Ismail, Pak Helmi Basyah, Pak Fakhruddin Hasballah, Bu Hafsah, Bu Raihan Putri, Bu Huaznah Husein, Bu Mustabsyirah, Bu Juhairiyah Umar, Prof. Arbiyah Lubis, Pak.Lutfi Aunie, Pak Luthfi Aziz, Pak Bakhtiar Ismail,Pak Bardad, Dr. Damanhuri, Pak Saidul Karnain, Dr. Mufakkir Muhammad, Pak Lukman, Dr. Nurjannah Ismail, Pak Ayyub, dan semua dosen yang mengabdi di FTK terutama pada tahun 1988-1993.
Salam takdhim saya haturkan untuk semua guruku di kampus studi purna ulama. Prof. Ibrahim Husin, Prof. Safwan Idris, Prof. Muslim Ibrahim, Pak Zaghlul Army, Pak. A. Syakir, Prof Al Yasa' Abubajar, Prof. Azman Ismail, Pak Ilyas, Pak Syauqas Rahmatillah, dan semua dosen yang mengabdi di SPU terutama pada 1993-1994.
Salam takdhim saya haturkan untuk semua guruku di kampus strata dua. Prof Harun Nasution (sang GBHN), Prof Aziz Dahlan, Dr. T. Safir Iskandar Wijaya, Prof. Al Yasa' Abubakar, Prof Rusdi Ali Muhammad, Dr M Gade Ismail, Dr M. Isa Sulaiman, Prof Bahrein T. Sugihen, Prof Hakim Nyak Pha, Prof Jamaluddin Ahmad, Prof. Arbiyah Lubis, Prof. Safwan Idris, Prof. Muslim Ibrahim, Prof Azman Ismail, Prof. Iskandar Usman, Prof. Hasbi Amirudfin, Prof. Warul Walidin, Prof Nasir Budiman, Prof Jamaluddin Idris, dan seluruh dosen terutama yang mengabdi di Pascasarjana IAIN Ar-Raniry pada 1994-1996.
Salam takdhim saya haturkan untuk semua guruku di kampus strata tiga. Prof Harun Nasution (sang GBHN), Prof Aziz Dahlan, Prof. Safwan Idris, Prof. Quraish Shihab, Prof. Munawir Sadzali, Cak Nur(cholis Madjid), Prof. Bahtiar Effendy, Prof Azyumardi Azra, Prof Komaruddin Hidayat, Prof. Said Aqil Munawar, Prof. Said Aqil Siradj, Prof. Bustami, Prof Mulyadi Kartanegara, Prof Suwito, Prof. Bahtiar Amtsal, Prof Badri Yatim, Dr. Wahib Mukti, Pak Muktar Aziz dan seluruh maha guru terutama yang mengabdi di SPS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Begitu juga halnya salam takdhim loen tuan kepada semua guru di kampus Universitas Kehidupan. Di sini tentu saya tak kuasa dan tak ingat menyebutnya satu persatu, saking banyaknya. Saya belajar menghadapi kerasnya hidup dan kehidupan ini
pada ayah dan simbok yang amat sabar, ulet dan qanaah. Saya belajar mengistikamahi shalat-shalat sunat seperti shalat malam, rawatib dan dhuha dari banyak guru seperti dari Abuya Prof Muhsin Nyak Umar, Ustad Muharir Asy'ary, Prof. Al-Yasa' Abubakar, Dr. Ridwan Nurdin dan guru lainnya. Saya belajar istikmah puasa sunah senin kamis dan ayyamul bidh dari Prof Amin Rais, Prof Syabuddin Gade, Khatib A. Latif, Dr. Husna Amin dan para guru lainnya. Saya belajar istikamah menulis dari semangat Prof Farid Wajdi Ibrahim, Prof. Quraish Shihab, Prof Imam Suprayogo, Prof Hasbi Amiruddin, Mas Pranowo dan para guru lainnya. Saya belajar disiplin dan tertib administrasi dari Prof Al Yasa' Abubakar, Abuya Prof Muhsin Nyak Umar dan para guru lainnya. Dan saya masih terus belajar tentang kehidupan dan keberagamaan kepada banyak pihak agar menjadi lebih baik, lebih berkah dan memberkahi. Allahu a'lam
Tags:
Muhasabah Harian