Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.037
Sabtu, 19 Muharam 1448
Bahagia Memperkuat Keyakinan
Saudaraku, setelah Makkah dalam kekuasaan Islam, ia sekaligus menjadi moment yang mengakhiri dominasi penyembahan berhala di sekitar Ka’bah. Dalam riwayat disebutkan terdapat sekitar 360 berhala, simbol dari berlapis-lapisnya kesyirikan yang telah menyelimuti rumah tauhid sejak sekian lama.
Peristiwa Fathu Makkah itu bukan sekadar kemenangan politik atau militer umat Islam, tetapi juga pemurnian dan penguatan keyakinan. Sebelumnya bertahun-tahun saat tinggal di Makkah kaum muslimin hidup dalam tekanan, harus hijrah berkali-kali, peperangan, pemboikotan, pengusiran, dan berbagai luka sejarah. Namun pada akhirnya, Allah memperlihatkan kepada mereka bahwa janji-Nya benar. Ka’bah yang dahulu dipenuhi berhala kini dibersihkan kembali. Kota yang dahulu mengusir Rasulullah kini tunduk kepada risalah yang beliau bawa. Orang-orang yang dahulu menertawakan ayat-ayat Allah kini menyaksikan sendiri bagaimana Allah menolong agama-Nya. Di situlah keyakinan tidak lagi hanya menjadi konsep di dalam dada, tetapi menjelma kenyataan di hadapan mata.
Jika pada muhasabah sebelumnya kita diajak menjadikan Allah sebagai tempat berharap, maka hari ini kita diajak melangkah lebih dalam lagi, memperkuat keyakinan. Harapan adalah benih, sedangkan keyakinan adalah akar. Harapan membuat kita menengadah kepada langit, sedangkan keyakinan membuat kaki kita tetap kokoh menapak bumi meski badai datang silih berganti. Harapan berkata, “Allah pasti punya jalan.” Keyakinan berkata, “Sekalipun aku belum melihat jalan itu, aku tetap percaya Allah sedang menyiapkannya.”
Secara filosofis, hidup manusia sesungguhnya ditentukan oleh apa yang diyakini. Pikiran kita dibentuk oleh keyakinan, pilihan kita diarahkan oleh keyakinan, bahkan keberanian dan ketakutan kita pun sangat ditentukan oleh keyakinan. Orang yang yakin bahwa dunia adalah segala-galanya akan hidup dengan cara duniawi: rakus, cemas, dan takut kehilangan. Sebaliknya, orang yang yakin bahwa Allah adalah pemilik segalanya akan hidup dengan cara yang berbeda: lebih tenang, lebih ikhlas, lebih sabar, dan lebih berani menempuh jalan kebenaran.
Karena itu, memperkuat keyakinan bukan sekadar menambah ilmu tentang Islam saja, melainkan harus membangun fondasi batin yang membuat seluruh hidup memiliki arah yang jelas dan mengamalkan ajarannya. Keyakinan adalah tenaga rohani yang membuat seseorang tetap jujur saat orang lain curang, tetap sabar saat ujian datang, tetap tawaduk saat kemenangan tiba, dan tetap taat meski godaan begitu besar. Tanpa keyakinan, ibadah menjadi gerak mekanis. Tanpa keyakinan, hijrah menjadi semangat sesaat. Tanpa keyakinan, manusia mudah jatuh ketika harapannya tertunda.
Fathu Makkah memberi pelajaran bahwa keyakinan tumbuh melalui perjalanan panjang, bukan melalui kenyamanan instan. Rasulullah tidak tiba-tiba menaklukkan Makkah tanpa fase-fase sebelumnya. Ada fase dakwah sembunyi-sembunyi, fase penolakan, fase boikot, fase hijrah, fase perang Badar, Uhud, Khandaq, Hudaibiyah, hingga akhirnya Fathu Makkah. Semua itu adalah madrasah keyakinan. Seolah Allah ingin mengajarkan bahwa keyakinan yang kokoh lahir dari kesetiaan berjalan bersama Allah dalam waktu yang panjang.
Di sinilah semangat hijrah menemukan maknanya. Hijrah bukan hanya meninggalkan tempat lama, tetapi meninggalkan cara lama dalam mempercayai hidup. Sebelum hijrah, mungkin kita sering menilai sesuatu hanya dari ukuran lahiriah: siapa yang kuat, siapa yang kaya, siapa yang berkuasa, siapa yang tampak menang. Namun setelah hijrah ruhani, kita belajar melihat dengan mata iman: bahwa yang menentukan bukan semata kekuatan lahir, melainkan pertolongan Allah; bukan semata cepat atau lambat hasil, melainkan benar atau tidak jalan yang ditempuh; bukan semata menang di hadapan manusia, melainkan diridhai di hadapan Allah.
Memperkuat keyakinan juga berarti membersihkan hati dari “berhala-berhala batin” yang diam-diam masih bercokol di dalam diri. Fathu Makkah mengajarkan pembersihan Ka’bah dari berhala batu, sedangkan muhasabah hari ini mengajak kita membersihkan “hati” dari berhala-berhala yang lebih halus: berhala gengsi, berhala pujian, berhala harta, berhala jabatan, berhala rasa aman semu, bahkan berhala ego yang membuat kita lebih percaya kepada diri sendiri daripada kepada Allah. Selama berhala-berhala batin itu masih berdiri, keyakinan kita akan mudah retak, sebab hati sedang terbagi antara Allah dan selain Allah.
Kadang kita mengira keyakinan hanya diuji saat hidup sulit. Padahal keyakinan juga diuji saat hidup lapang. Ketika Fathu Makkah terjadi, ujian kaum muslimin bukan lagi rasa takut kalah, melainkan kemungkinan tergoda oleh euforia kemenangan. Karena itu Rasulullah masuk Makkah dengan kepala tertunduk, bukan dengan dada membusung. Beliau seakan mengajarkan bahwa keyakinan sejati melahirkan kerendahan hati. Orang yang benar-benar yakin kepada Allah tidak akan sombong dengan keberhasilannya, sebab ia tahu bahwa semua itu hanyalah karunia, bukan semata hasil kehebatannya.
Maka memperkuat keyakinan tidak cukup dengan berkata, “Saya beriman.” Keyakinan harus dibuktikan dengan beberapa hal. Pertama, dengan menjaga kedekatan kepada Allah, sebab hati yang jauh dari Allah, dari Al-Qur’an, doa, dzikir, dan ibadah akan kosong dari makna. Kedua, dengan mengingat kembali jejak pertolongan Allah dalam hidup, sebab banyak orang lemah keyakinan karena terlalu fokus pada masalah hari ini dan lupa pada pertolongan Allah kemarin. Ketiga, dengan bergaul bersama orang-orang saleh, karena iman itu menular sebagaimana kelalaian juga menular. Keempat, dengan membiasakan diri taat meski belum melihat hasil, sebab keyakinan bertumbuh ketika kita tetap patuh kepada Allah walau belum memahami seluruh hikmah-Nya.
Muhasabah ini juga penting untuk melihat keadaan zaman sekarang. Banyak orang mudah goyah hanya karena komentar manusia, gagal satu kali, kehilangan jabatan, atau tertunda keinginannya. Mengapa? Karena yang rapuh bukan selalu situasinya, tetapi keyakinannya. Hati yang lemah keyakinan akan mudah ditaklukkan oleh statistik, angka, opini, dan suasana. Ia cepat pesimis, cepat marah, cepat curiga kepada takdir. Sebaliknya, hati yang kuat keyakinan tidak berarti bebas dari sedih, tetapi ia memiliki pusat kestabilan. Ia boleh menangis, tetapi tidak putus asa. Ia boleh lelah, tetapi tidak menyerah. Ia boleh diuji, tetapi tidak menuduh Allah tidak adil.
Muharam adalah bulan hijrah, dan hijrah yang paling mendasar adalah hijrah dari iman yang lemah menuju iman yang kokoh. Hijrah dari keyakinan yang mudah goyah oleh keadaan menuju keyakinan yang tetap tegak walau badai belum reda. Hijrah dari hati yang dipenuhi berhala-berhala dunia menuju hati yang hanya diisi oleh keagungan Allah. Sebab sejatinya, Fathu Makkah bukan hanya peristiwa pembebasan sebuah kota, tetapi simbol pembebasan hati manusia dari segala sesuatu selain Allah.