Sri Suyanta Harsa
Muhasabah10 Jumadil Akhir 1443
Keberkahan Anak
Saudaraku, bermaksud menyambung muhasabah yang lalu, di antara keberkahan yang Allah anugrahkan kepada manusia lainnya adalah kelahiran sibuah hati, kehadiran anak; mulai anak biologis, anak pedagogis hingga anak ideologis. Maka secara biologis ada sebutan anak kandung, secara pegagogis ada anak tiri, anak didik juga anak buah, dan secara ideologis ada orang-orang yang mewarisi ideologi dari tokoh tertentu dari para pendahulu.
Betapa tidak! Karena dalam praktiknya ternyata anak juga segala-galanya bagi orangtua. Pada mereka, orangtua menaruh harapan. Kondisi atau posisi atau prestasi apapun yang telah diraih orangtua selama ini setidaknya juga dapat diraih oleh anaknya atau bahkan kalau bisa dapat melampauinya. Maka anak didoakan dan dididik agar lebih cakep, lebih shalih, lebih dalam hal tahta dan hartanya, lebih sejahtera, lebih maju, lebih strata pendidikannya, lebih cerdas, dan lebih berbahagia. Dan sebaliknya, bila kondisi dan keberadaan orangtua selama ini belum sesuai harapan kemuliaannya atau cita cinta keluarganya, maka harapan itu semuanya bertumpu pada anaknya. Setidaknya orangtua sudah berdoa berikhtiar semampunya, bila ada cita cinta yang belum terealisir, maka didoakan dapat diraih oleh anaknya.
Di sinilah dapat domengerti bahwa dalam Islam anak merupakan anugrah di samping sebagai amanah. Semua ini bukankah sebagai keberkahan yang amat nyata? Apalagi anaknya banyak, rupawsn semua, baik semua, shalih semua, bertahta semua, profesor semua, dan sehatera semua.
Allah berfirman yang artinya, Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al-Furqan 74 ) Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Qs. Al-Kahfi 46)
untuk itulah di antara urusan utama yang semestinya disadari oleh setiap orangtua dan anaknya. Dalam praktiknya, seluruh kondisi (baik kondisi lahiriyah maupun kondisi psikologis) dan aktivitas keseharian antara orangtua dan anak bahkan anggota keluarga akan saling memengaruhi satu sama lain, secara perlahan-lahan namun pasti, dan berlangsung terus menerus. Oleh karenanya interaksinya harus edukatif.
Interaksi edukatif dalam keluarga menjadi sangat efektif, bukan saja karena durasi waktunya yang panjang dari bangun tidur sampai tidur kembali dan terus menerus sepanjang kehidupannya, tetap juga karena pranata keluarga menjadi madrasatul ula, sekolah pertama dan utama dimana pondasi kepribadian dibanguntegakkan. Inilah sebabnya mengapa awal-awal kehidupannya hingga masa remaja merupakan usia emas Di fase usia emas ini, memori dan ingatan anak sangat kuat, maka apapun perilaku yang dilihatnya, diterimanya, dan dialaminya menghunjam sangat kuat di hatinya.
Inilah mengapa sesaat anak lahir sampai usia remaja terdapat serangkaian tuntunan Islam yang etikanya harus dilakukan oleh orangtua agar keberkahannya terasa nyata. Sejak mula ada atau lahir sampai usia remajanya merupakan masa peletakan dasar-dasar keislaman, baik ranah akidah, ibadah maupun akhlak dan perilakunya. Ibarat bangunan masa-masa ini sebagai pondasi yang akan menjadi dasar menopang kuatnya bangunan keislaman di atasnya. Aamin
Tags:
Muhasabah Harian