Bahagia Menyemarakkan Lomba

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.156
Sabtu, 21 Jumadil Awal 1448 H

Bahagia Menyemarakkan Lomba
Saudaraku, setelah dalam muhasabah yang baru lalu kita merenungkan kebahagiaan merasakan indahnya bergotong royong, hari ini marilah kita menikmati bentuk kebersamaan lainnya, yaitu mengikuti perlombaan. 

Hari Sabtu dan Ahad atau hari libur sering menjadi hari yang dinanti-nantikan, terutama bagi kita dan tuan puan yang sepanjang pekan disibukkan oleh rutinitas pekerjaan yang menyita, pendidikan, dan berbagai tanggung jawab. Sabtu dan Ahad atau weekend, saatnya sejenak melepaskan kepenatan, menyegarkan pikiran, mempererat persaudaraan, dan menghadirkan keceriaan melalui kegiatan yang menggembirakan. Salah satunya dengan menyelenggarakan aneka lomba yang melibatkan seluruh anggota keluarga dan masyarakat.

Lomba bukan semata-mata tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah, melainkan tentang kebahagiaan berpartisipasi, berkreasi, dan menikmati kebersamaan. Bayangkan suasana lomba memasak yang diikuti bapak-bapak atau ibu-ibu. Mereka yang biasanya menikmati hidangan di meja makan, kali ini harus berkreasi sendiri di dapur atau di tempat perlombaan. Ada yang sibuk meracik bumbu, memotong bahan, mengatur komposisi, dan menyajikan masakan seindah mungkin. Ada pula yang sesekali tertawa karena hasil masakannya tidak sesuai rencana. Justru di situlah letak keindahannya: suasana akrab, penuh canda, dan menyenangkan.

Demikian pula lomba mewarnai bagi anak-anak. Dengan kertas gambar, pensil warna, krayon, dan imajinasi yang masih luas, mereka mengekspresikan kreativitasnya. Ada yang mewarnai dengan penuh ketelitian, ada yang berani memadukan warna-warna cerah, dan ada pula yang begitu bersemangat hingga warna keluar dari garis gambar. Bagi anak-anak, pengalaman itu bukan sekadar perlombaan, tetapi juga kesempatan belajar, berani tampil, bersosialisasi, dan menghargai hasil karya sendiri maupun teman-temannya.

Keindahan perlombaan terletak pada semangat berkompetisi secara sehat dan tetap menjaga persaudaraan. Kita tentu boleh berusaha menjadi yang terbaik, mempersiapkan diri, mengerahkan kemampuan, dan berharap memperoleh kemenangan. Namun, kemenangan tidak boleh membuat kita sombong, sementara kekalahan tidak seharusnya membuat kita kecewa berlebihan. Sebab, ada banyak hal berharga yang diperoleh dari sebuah perlombaan, bahkan ketika piala atau hadiah tidak berhasil kita bawa pulang. Kita memperoleh pengalaman, keberanian, keterampilan, pertemanan, dan kenangan indah yang mungkin akan terus dikenang.

Islam mengajarkan agar manusia berlomba-lomba dalam kebaikan. Allah Swt. berfirman yang artinya: “Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah 148, bagian akhir ayat). Ayat ini memberikan pijakan bahwa semangat berlomba merupakan bagian dari kehidupan seorang beriman, terutama ketika diarahkan kepada kebaikan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat berlomba meningkatkan kreativitas, memperbanyak ilmu, memperindah akhlak, memperluas manfaat, dan memberikan pelayanan terbaik. Perlombaan yang bersifat rekreatif pun dapat menjadi sarana pendidikan karakter apabila dilaksanakan dengan jujur, sportif, dan menggembirakan.

Ikut lomba juga mengajarkan keberanian untuk mencoba dan kesediaan menerima hasil dengan lapang dada. Tidak semua orang memiliki keterampilan yang sama. Ada yang pandai memasak, ada yang berbakat menggambar, ada yang cekatan dalam permainan, dan ada pula yang lebih menikmati peran sebagai penyemangat. Semua memiliki ruang untuk berpartisipasi. Karena itu, jangan terlalu takut kalah hingga tidak berani mencoba. Jangan pula merasa rendah diri karena kemampuan kita berbeda dari orang lain. Setiap orang memiliki potensi yang dapat dikembangkan dan setiap pengalaman dapat menjadi pelajaran.

Bagi anak-anak, lomba merupakan ruang belajar yang menyenangkan. Mereka belajar mengikuti aturan, menunggu giliran, berkonsentrasi, menyelesaikan tugas, menerima penilaian, dan menghargai teman. Orang tua sebaiknya tidak membebani anak dengan tuntutan harus menang. Yang lebih penting ialah keberanian untuk berpartisipasi, kesungguhan berusaha, dan kegembiraan selama mengikuti kegiatan. Pujian atas proses dan usaha sering kali lebih mendidik daripada sekadar hadiah bagi pemenang.

Bagi orang dewasa, lomba dapat menjadi kesempatan untuk menyegarkan suasana dan membangun hubungan sosial. Bapak-bapak yang mengikuti lomba memasak, misalnya, bukan hanya sedang menguji keterampilan mengolah bahan makanan, tetapi juga menunjukkan bahwa pekerjaan rumah tangga dapat menjadi tanggung jawab bersama. Ibu-ibu yang ikut berlomba juga memperoleh kesempatan untuk berekspresi, bersenang-senang, dan menikmati kebersamaan di luar rutinitas sehari-hari. Dengan demikian, lomba dapat menjadi ruang untuk saling menghargai, menghapus sekat, dan membangun suasana yang lebih akrab.

Rasulullah saw. bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ

Artinya: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing terdapat kebaikan.” (HR. Muslim, no. 2664). Hadis ini mengingatkan kita untuk terus mengembangkan potensi dan kekuatan diri. Kekuatan itu tidak hanya berupa fisik, tetapi juga kekuatan iman, ilmu, mental, keterampilan, dan kemampuan memberi manfaat. Perlombaan yang sehat dapat menjadi salah satu sarana melatih potensi tersebut, selama tidak melalaikan kewajiban, melanggar aturan, atau menimbulkan permusuhan.

Kebahagiaan mengikuti lomba tidak harus menunggu menjadi juara. Ada kebahagiaan ketika kita berani tampil, ada kepuasan ketika berhasil menyelesaikan tantangan, ada kehangatan ketika teman-teman memberikan dukungan, dan ada rasa syukur ketika seluruh kegiatan berlangsung dengan aman dan penuh kegembiraan. Bahkan, terkadang kenangan paling indah justru berasal dari kejadian lucu, kesalahan kecil, atau hasil yang tidak terduga selama perlombaan.

Oleh karena itu, kita menghidupkan kegiatan-kegiatan rekreatif yang mendidik dan mempererat hubungan sosial. Sabtu, Ahad, weekend ceria dapat diisi dengan lomba memasak, mewarnai, membaca puisi, permainan tradisional, olahraga ringan, atau kegiatan kreatif lainnya. Yang penting, kegiatan dirancang agar semua kelompok usia memperoleh kesempatan berpartisipasi. Jangan sampai perlombaan hanya menjadi ajang mencari pemenang, tetapi hendaknya menjadi sarana membangun keluarga dan masyarakat yang sehat, akrab, kreatif, serta bahagia.

Pada akhirnya, hidup sendiri sesungguhnya juga merupakan perjalanan panjang yang penuh perlombaan. Ada yang berlomba meraih prestasi, ada yang berlomba mengembangkan ilmu, ada yang berlomba dalam pengabdian, dan ada yang berlomba memperbanyak amal saleh. Maka, jangan sampai kita begitu bersemangat memenangkan perlombaan dunia, tetapi lupa berlomba-lomba dalam kebaikan yang menjadi bekal kehidupan akhirat.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama