Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.155
Jumat, 20 Jumadil Awal 1448 H
Bahagia Turutserta Bergotong Royong
Saudaraku, hari Jumat adalah sayyidul ayyam, penghulu segala hari, yang memiliki keutamaan tersendiri dalam Islam. Pada hari yang mulia ini, kita kembali diingatkan untuk lebih memperbanyak ibadah, mempererat persaudaraan, dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Betapa indah apabila semangat Jumat tidak hanya terasa di masjid melalui ibadah mahdhah, tetapi juga hadir di lingkungan tempat tinggal, tempat kerja, kampus, sekolah, dan ruang-ruang kehidupan bersama. Salah satu wujudnya adalah bergotong royong, bekerja bersama dengan hati yang ikhlas demi kebaikan bersama.
Setelah dalam muhasabah yang baru lalu kita merenungkan kebahagiaan memperoleh keberkahan bermasyarakat melalui cita-cita membangun masyarakat utama, hari ini marilah kita menengok salah satu kekuatan sosial yang telah lama hidup dalam tradisi masyarakat kita, yaitu gotong royong. Masyarakat utama tidak cukup dibangun dengan gagasan dan kata-kata, tetapi memerlukan tindakan nyata yang mempertemukan kepedulian, tanggung jawab, dan kebersamaan. Gotong royong menjadi salah satu jalan sederhana untuk mewujudkannya.
Gotong royong mengajarkan bahwa pekerjaan yang berat terasa lebih ringan ketika dipikul bersama, sedangkan kebahagiaan menjadi lebih luas ketika dibagikan kepada sesama. Membersihkan lingkungan, memperbaiki jalan, membantu tetangga yang sedang mengadakan hajatan, menolong keluarga yang tertimpa musibah, atau bekerja bersama merawat fasilitas umum merupakan contoh bahwa kebersamaan dapat melahirkan manfaat yang tidak mudah diwujudkan seorang diri. Kita mungkin datang dengan kemampuan yang berbeda-beda, tetapi ketika semua bersedia mengambil bagian, perbedaan itu justru menjadi kekuatan.
Dalam gotong royong, yang paling berharga bukan hanya pekerjaan yang selesai, melainkan juga persaudaraan yang tumbuh selama prosesnya. Ketika seseorang membersihkan rumput, menyapu halaman, yang lain mengangkat sampah, dan yang lain menyediakan air minum dan makanan ringan, sesungguhnya mereka sedang membangun lebih dari sekadar lingkungan yang bersih. Mereka sedang menumbuhkan rasa memiliki, kepercayaan, kepedulian, dan kebiasaan untuk saling membantu. Ada canda yang mencairkan suasana, ada tegur sapa yang mempererat hubungan, dan ada kebahagiaan sederhana ketika menyaksikan hasil kerja bersama.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur'an yang artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS. Al-Ma'idah 2). Ayat ini memberikan pijakan teologis bagi semangat gotong royong. Islam mendorong kita bekerja sama dalam kebajikan dan ketakwaan, bukan hanya dalam urusan ibadah secara individual, tetapi juga dalam kegiatan sosial yang membawa kemaslahatan. Namun, kebersamaan tetap harus diarahkan oleh nilai-nilai yang benar. Kita bergotong royong untuk membersihkan lingkungan, bukan merusaknya; bekerja sama untuk menolong yang lemah, bukan menindasnya; serta membangun persaudaraan, bukan menyuburkan permusuhan.
Gotong royong juga merupakan salah satu kekayaan nilai ketimuran yang patut dirawat dan dikembangkan. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, semangat ini tumbuh melalui kebiasaan saling membantu, menjenguk tetangga yang sakit, menghadiri kegiatan sosial, menyelesaikan pekerjaan kampung bersama-sama, dan meringankan beban keluarga yang sedang mengalami kesulitan. Nilai tersebut memperlihatkan bahwa manusia tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri. Kita menjadi bagian dari kehidupan yang lebih luas, sehingga kebahagiaan pribadi akan terasa lebih bermakna ketika terhubung dengan kesejahteraan bersama.
Nilai ketimuran ini tidak berarti bahwa budaya gotong royong hanya milik masyarakat Timur atau bahwa masyarakat lain tidak mengenalnya. Gotong royong merupakan nilai kemanusiaan yang dapat tumbuh di mana saja. Akan tetapi, tradisi kebersamaan yang diwariskan oleh para pendahulu kita merupakan modal sosial yang layak dijaga. Tantangan kita sekarang ialah memastikan agar nilai itu tidak terkikis oleh sikap individualistis, kesibukan yang berlebihan, atau kecenderungan menyerahkan semua urusan bersama kepada pihak lain.
Jumat bersih dapat menjadi contoh sederhana untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong. Di rumah, kita membersihkan halaman dan menata lingkungan bersama anggota keluarga. Di sekolah dan kampus, warga lembaga pendidikan merawat ruang belajar, halaman, taman, dan fasilitas bersama. Di lingkungan masyarakat, warga membersihkan saluran air, mengumpulkan sampah, menata tempat ibadah, atau merawat jalan lingkungan. Kegiatan tersebut tampak sederhana, tetapi mengandung pendidikan karakter yang penting: disiplin, tanggung jawab, kepedulian terhadap lingkungan, dan penghormatan terhadap pekerjaan orang lain.
Jumat bersih juga dapat menjadi pengingat bahwa kebersihan bukan semata-mata urusan petugas kebersihan. Lingkungan yang bersih merupakan tanggung jawab bersama. Tidak adil apabila seseorang mengotori ruang publik, kemudian menyerahkan seluruh beban membersihkannya kepada orang lain. Sebaliknya, masyarakat yang baik membiasakan setiap orang menjaga kebersihan sejak dari dirinya sendiri, kemudian memperluas kepedulian itu melalui kerja bersama. Dengan demikian, gotong royong tidak menjadi alasan untuk mengabaikan tanggung jawab pribadi, melainkan sarana untuk memperkuat tanggung jawab kolektif.
Rasulullah saw. bersabda:
وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
Artinya: “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Muslim, no. 2699). Hadis ini memberikan harapan yang menenteramkan bahwa menolong sesama merupakan jalan untuk memperoleh pertolongan Allah. Ketika kita meluangkan waktu untuk membantu tetangga, ikut membersihkan lingkungan, mendampingi warga yang kesulitan, atau menyumbangkan tenaga untuk kepentingan umum, kita tidak sedang kehilangan waktu secara sia-sia. Kita sedang menanam kebaikan, merawat hubungan kemanusiaan, dan berharap memperoleh pertolongan serta rida Allah. Bahkan bantuan yang tampak kecil dapat menjadi sangat berarti bagi orang yang menerimanya.
Keindahan bergotong royong semakin terasa ketika kebersamaan dijalani dengan sukacita, bukan karena keterpaksaan. Kita datang bukan untuk menunjukkan siapa yang paling kuat, paling rajin, atau paling berjasa, melainkan untuk memberikan kontribusi sesuai kemampuan. Ada yang menyumbangkan tenaga, ada yang menyediakan peralatan, ada yang membantu dengan dana, dan ada pula yang mengatur pekerjaan agar berlangsung tertib. Tidak semua orang harus melakukan hal yang sama, tetapi setiap orang dapat mengambil bagian dalam kebaikan.
Dalam suasana seperti itulah gotong royong melahirkan kebahagiaan yang khas. Kita bergembira bukan karena memperoleh keuntungan pribadi yang besar, melainkan karena melihat pekerjaan selesai, lingkungan menjadi lebih baik, dan orang-orang yang sebelumnya jarang bertegur sapa kembali duduk bersama. Sesudah bekerja, secangkir kopi, hidangan sederhana, dan percakapan ringan dapat menjadi kenangan indah yang mempererat persaudaraan. Kebersamaan menghadirkan rasa bahwa kita tidak sendirian menjalani kehidupan ini.
Namun, gotong royong yang sehat juga harus menjunjung keadilan dan penghormatan terhadap setiap orang. Jangan sampai kebersamaan menjadi sarana memaksa warga yang tidak mampu, mempermalukan orang yang berhalangan, atau membebankan pekerjaan secara tidak seimbang. Semangat gotong royong justru mengajak kita memahami keadaan sesama dan membuka ruang kontribusi sesuai kemampuan masing-masing. Orang yang tidak dapat hadir karena sakit, lanjut usia, atau memiliki tanggung jawab mendesak tetap layak dihormati. Yang utama bukan keseragaman bentuk kontribusi, melainkan ketulusan dan kemaslahatan yang hendak diwujudkan.
Jadi kita menjadikan hari Jumat ini sebagai kesempatan untuk menumbuhkan kembali kebahagiaan dalam kebersamaan. Memulai dari hal yang dekat: membersihkan rumah bersama keluarga, merawat halaman masjid, menjaga kebersihan kampus, membantu tetangga, atau berpartisipasi dalam kegiatan sosial di lingkungan kita. Tidakmenunggu pekerjaan besar untuk berbuat baik. Sebab, masyarakat yang kuat dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, dengan ikhlas, dan penuh tanggung jawab. Semoga