Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.153
Rabu, 18 Jumadil Awal 1448 H
Bahagia Nikmati Berkahnya Berkeluarga
Saudaraku, setelah dalam muhasabah yang baru lalu kita merenungkan kebahagiaan meraih keberkahan dari langit dan bumi, hari ini marilah kita menyelami salah satu anugerah keberkahan di bumi yang paling dekat, paling nyata, dan paling berpengaruh dalam kehidupan kita, yaitu keberkahan berkeluarga. Allah menghadirkan orang-orang yang tepat dalam perjalanan hidup kita: ayah dan ibu yang menjadi perantara kehadiran kita di dunia, suami atau istri yang tulus setia berbagi suka duka menemani perjalanan sepanjang kehidupan, anak-anak yang menjadi amanah sekaligus "penyejuk mata" pelipur hati, serta cucu-cucu yang menghadirkan kebahagiaan dan harapan baru. Mereka semua merupakan bagian penting dari kisah kehidupan yang Allah izinkan kita jalani. Semoga juga Allah ridhai.
Keluarga bukan sekadar sekumpulan orang yang terikat oleh hubungan darah atau pernikahan, melainkan ruang tempat cinta dilabuhkan, kesabaran dilatih, pengorbanan dibuktikan, dan tanggung jawab ditunaikan. Di dalam keluarga, kita belajar menerima kelebihan dan kekurangan, memaafkan kesalahan, merawat harapan, serta bertumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa. Tidak semua perjalanan keluarga berlangsung mudah, tetapi melalui dinamika itulah Allah memberi kesempatan kepada kita untuk belajar tentang makna kasih sayang, keikhlasan, dan kedewasaan.
Keberkahan berkeluarga bukan terletak pada sempurnanya anggota keluarga, melainkan pada tumbuh kembangnya kebaikan di antara anggotanya. Ayah dan ibu mungkin tidak selalu mampu memenuhi semua keinginan kita, tetapi kasih sayang dan pengorbanannya sering kali melampaui apa yang sanggup kita pahami. Suami atau istri mungkin memiliki kekurangan yang sesekali menguji kesabaran, tetapi melalui kesediaan saling memahami, hubungan dapat tumbuh semakin dewasa. Anak-anak mungkin tidak selalu sesuai dengan harapan orang tua, tetapi mereka tetap merupakan amanah yang harus dibimbing dengan kasih sayang dan keteladanan. Demikian pula cucu-cucu, yang kehadirannya mengingatkan kita bahwa kehidupan terus berlanjut dan kebaikan perlu diwariskan lintas generasi.
Allah Swt. menggambarkan salah satu anugerah kehidupan berkeluarga melalui firman-Nya dalam Surah Ar-Rum ayat 21 yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum 21).
Ayat ini mengajarkan bahwa keluarga yang diberkahi dibangun di atas sakinah, mawaddah, dan rahmah. Sakinah adalah ketenteraman yang membuat anggota keluarga merasa aman dan diterima. Mawaddah adalah cinta yang mendorong seseorang untuk memberikan yang terbaik bagi orang yang dicintainya. Rahmah adalah kasih sayang yang tetap hadir ketika usia bertambah, keadaan berubah, kekurangan terlihat, dan ujian kehidupan datang silih berganti. Ketiganya bukan sekadar harapan ketika memasuki pernikahan, melainkan nilai yang harus terus dirawat sepanjang kehidupan keluarga.
Beruntunglah orang yang masih memiliki kesempatan untuk berbakti kepada ayah dan ibu. Selagi keduanya masih hidup, kasih sayang dapat diwujudkan melalui perhatian, tutur kata yang lembut, bantuan yang tulus, dan doa yang tidak putus. Jangan sampai kesibukan mencari penghidupan membuat kita lupa kepada orang-orang yang dahulu berjuang demi kehidupan kita. Apabila mereka telah tiada, bakti tetap dapat diteruskan dengan mendoakan, memohonkan ampunan bagi mereka, menjaga silaturahim dengan kerabat, serta meneruskan kebaikan yang mereka ajarkan. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Isra' ayat 23 yang artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra' 23, bagian awal ayat).
Perintah berbuat baik kepada kedua orang tua yang disebutkan setelah perintah menyembah Allah menunjukkan betapa luhur kedudukan bakti kepada mereka. Keberkahan keluarga tumbuh ketika anak-anak menghormati orang tua, bukan hanya saat membutuhkan pertolongan, melainkan juga ketika ingin membalas kasih sayang mereka dengan ketulusan.
Berbahagialah pula orang yang mampu menjadikan pasangan hidup sebagai sahabat dalam ketaatan dan perjalanan menuju kebaikan. Pernikahan bukanlah pertemuan dua manusia yang telah sempurna, melainkan perjumpaan dua pribadi yang bersedia saling belajar, memperbaiki diri, dan menguatkan dalam menghadapi kehidupan. Ada masa ketika rezeki terasa lapang, ada pula masa ketika kebutuhan datang bersamaan. Ada hari-hari yang dipenuhi tawa, tetapi ada juga waktu yang menuntut kesabaran dan pengertian. Dalam semua keadaan itu, keberkahan hadir ketika suami dan istri tidak berhenti saling menghargai, menjaga amanah, menunaikan tanggung jawab, dan mengingatkan satu sama lain dalam kebaikan.
Demikian pula anak-anak dan cucu-cucu. Mereka bukan sekadar kebanggaan yang dapat diceritakan kepada orang lain, melainkan amanah yang harus dipelihara dan generasi yang perlu dipersiapkan. Orang tua yang bijaksana tidak hanya berusaha meninggalkan harta, tetapi juga menanamkan iman, ilmu, akhlak, kemandirian, dan kepedulian. Sebab, warisan yang paling bermakna bukan semata-mata apa yang dapat mereka nikmati setelah kita tiada, melainkan kebaikan yang terus mereka lakukan dan manfaat yang mereka tebarkan kepada sesama.
Rasulullah saw. bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Artinya: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim, no. 1631).
Hadis ini mengingatkan kita bahwa salah satu keberkahan keluarga dapat berlanjut melampaui usia. Anak yang saleh bukan hanya kebanggaan orang tua ketika masih hidup, melainkan juga harapan bagi keberlanjutan doa dan kebaikan setelah orang tua meninggal dunia. Karena itu, mendidik anak bukan sekadar memenuhi kebutuhan jasmani dan menyekolahkannya setinggi mungkin, melainkan juga menumbuhkan hati yang mengenal Allah, akhlak yang menghormati sesama, dan jiwa yang bersedia memberi manfaat bagi kehidupan.
Namun, memperoleh keberkahan berkeluarga bukan berarti kita selalu mendapatkan keluarga yang sesuai dengan seluruh keinginan kita. Ada orang yang harus belajar bersabar menghadapi anggota keluarga yang berbeda pandangan. Ada yang diuji oleh jarak, kehilangan, sakit, kesulitan ekonomi, atau hubungan yang belum pulih. Dalam keadaan seperti itu, kita tetap dapat berikhtiar menghadirkan keberkahan melalui doa, komunikasi yang baik, kesediaan meminta maaf, kemauan memaafkan, dan upaya mencari jalan keluar yang adil. Kasih sayang tidak berarti membenarkan semua perilaku, tetapi menuntun kita untuk menyelesaikan persoalan tanpa merendahkan martabat siapa pun.
Oleh sebab itu, kita tidak hanya sibuk menuntut keluarga menjadi baik, tetapi mulailah dengan bertanya kepada diri sendiri: sudahkah aku menjadi anak yang berbakti, pasangan yang dapat dipercaya, orang tua yang memberi teladan, atau kakek dan nenek yang menebarkan kebijaksanaan? Jangan hanya menghitung kekurangan orang-orang terdekat, tetapi hitung pula nikmat yang mereka hadirkan. Terkadang, keberkahan itu begitu dekat sehingga kita baru menyadari besarnya ketika jarak memisahkan atau waktu tidak lagi memberi kesempatan.
Ya, keluarga adalah salah satu ladang pengabdian yang paling panjang. Di sinilah kita berlatih mencintai tanpa selalu menuntut balasan, memberi tanpa harus selalu dipuji, dan bertahan dalam kebaikan tanpa menunggu keadaan menjadi sempurna. Jika Allah masih memberi kita orang tua, syukurilah kesempatan berbakti. Jika Allah menganugerahkan pasangan, rawatlah kepercayaan dan kasih sayang. Jika Allah menitipkan anak dan cucu, didiklah mereka dengan iman, ilmu, akhlak, dan keteladanan. Jika keluarga kita sedang diuji, jangan putus asa untuk berikhtiar dan berdoa.
Kita berikhtiar dan memohon kepada Allah agar keluarga kita bukan hanya menjadi tempat berkumpul di dunia, melainkan juga jalan menuju rida-Nya dan kebersamaan dalam kebaikan hingga akhirat. Sebagaimana doa yang diajarkan dalam Al-Qur'an:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan 74). Aamiin