Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.157
Ahad, 22 Jumadil Awal 1448 H
Bahagia Turut Family Gathering
Saudaraku, setelah dalam muhasabah yang baru lalu kita merenungkan kebahagiaan mengikuti perlombaan dalam suasana Sabtu weekend ceria, hari ini marilah kita menikmati bentuk kebersamaan yang lebih luas melalui family gathering.
Dalam rangkaian Dies Natalis UIN Ar-Ranry tahun 2026, kegiatan family gathering di antaranya diisi dengan jalan santai berkeliling kampus, permainan bersama, hiburan, dan pembagian aneka doorprize. Suasananya terasa akrab, penuh tawa, dan menyenangkan. Orang-orang yang biasanya bertemu dalam kesibukan pekerjaan atau rutinitas sehari-hari kini dapat duduk bersama, bercengkerama, dan menikmati waktu tanpa terlalu dibebani urusan kedinasan maupun pekerjaan.
Family gathering merupakan kesempatan untuk merawat hubungan antarmanusia melalui kebersamaan yang menggembirakan. Dalam kehidupan modern, banyak orang disibukkan oleh pekerjaan, target, rapat, pelayanan, dan berbagai tanggung jawab. Bahkan, di antara orang-orang yang setiap hari bekerja dalam satu lembaga, tidak selalu tersedia waktu yang cukup untuk saling mengenal secara lebih dekat. Melalui family gathering, sekat-sekat formalitas dapat mencair. Atasan dan bawahan, dosen dan tenaga kependidikan, senior dan junior, bahkan anggota keluarga masing-masing dapat berbaur dalam suasana yang lebih santai dan bersahabat.
Jalan santai berkeliling menjadi salah satu kegiatan sederhana yang sehat menyenangkan. Kita melangkah bersama, menikmati udara segar, menyaksikan pemandangan, menyapa orang-orang yang dijumpai, dan sesekali berhenti untuk bercengkerama. Langkah yang mungkin terasa biasa ketika dilakukan sendiri menjadi lebih bermakna ketika dijalani bersama. Meski tidak untu adu kecepatan, ada yang berjalan cepat, ada yang berjalan perlahan, dan ada pula yang memilih menikmati perjalanan sambil berbincang. Tidak perlu semuanya memiliki kecepatan yang sama, karena yang terpenting adalah kebersamaan dan kegembiraan selama perjalanan.
Dalam kebersamaan, kita belajar bahwa setiap orang memiliki ritme dan keadaan yang berbeda, tetapi semuanya tetap dapat berjalan menuju tujuan yang sama. Ada yang lebih muda dan bertenaga, ada yang sudah berusia lanjut dan membutuhkan waktu lebih banyak. Ada yang gemar berbicara, ada pula yang lebih senang mendengarkan. Ada yang mudah bergaul, ada yang memerlukan waktu untuk merasa nyaman. Family gathering memberi ruang bagi perbedaan itu untuk bertemu dalam suasana saling menghargai. Kita tidak harus menjadi sama untuk dapat menikmati kebersamaan.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur'an yang artinya: “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. (QS. Ali 'Imran 103,). Ayat ini mengingatkan bahwa persatuan dan persaudaraan merupakan nikmat yang harus disyukuri dan dirawat. Kebersamaan bukan sekadar berkumpul secara fisik, tetapi juga membangun kedekatan hati. Family gathering dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk mempererat hubungan, mengurangi jarak sosial, dan menumbuhkan rasa saling memiliki. Tentu, kegiatan semacam ini bukan satu-satunya cara membangun persaudaraan, tetapi dapat menjadi momentum yang baik untuk memulainya.
Aneka doorprize juga dapat menghadirkan kegembiraan tersendiri dalam family gathering. Ketika nomor undian dibacakan, sebagian besar peserta menunggu dengan penuh harap. Ada yang tersenyum karena namanya disebut, ada yang bersorak ketika mendapatkan hadiah, dan ada pula yang tertawa karena belum memperoleh keberuntungan. Hadiah yang dibagikan mungkin berbeda-beda nilainya, tetapi kegembiraan yang tercipta dapat dirasakan bersama. Bahkan, orang yang tidak mendapatkan doorprize pun dapat ikut bahagia melihat temannya menerima hadiah.
Di sinilah kita belajar tentang makna rezeki dan rasa syukur. Hadiah yang diperoleh merupakan anugerah yang patut disyukuri, sedangkan belum mendapatkannya bukan alasan untuk bersedih. Sebab, sesungguhnya ada hadiah yang jauh lebih berharga daripada barang yang dibawa pulang: kesehatan karena dapat berjalan bersama, persahabatan yang semakin erat, pengalaman yang menyenangkan, dan kenangan indah yang tersimpan dalam ingatan. Semua itu merupakan nikmat yang tidak selalu dapat diukur dengan nilai materi.
Rasulullah saw. bersabda “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 594). Hadis ini mengajarkan bahwa pemberian dapat menjadi sarana menumbuhkan kasih sayang. Dalam family gathering, hadiah dan doorprize bukan sekadar benda yang diperebutkan, melainkan simbol perhatian dan kegembiraan yang dibagikan. Yang memberi belajar ikhlas berbagi, yang menerima belajar bersyukur, dan yang menyaksikan belajar ikut bergembira atas kebahagiaan orang lain.
Family gathering yang baik tidak berhenti pada kesenangan sesaat, tetapi meninggalkan dampak positif bagi kehidupan setelah kegiatan selesai. Setelah jalan santai, permainan, dan pembagian hadiah berakhir, semestinya hubungan antarpeserta menjadi lebih akrab. Orang-orang yang sebelumnya hanya saling mengenal nama mulai mengenal pribadi dan keluarganya. Rekan kerja yang jarang berkomunikasi dapat membangun kedekatan baru. Perbedaan pendapat yang mungkin muncul dalam pekerjaan dapat dikelola dengan lebih bijaksana karena telah tumbuh rasa saling memahami.
Bagi sebuah lembaga, kegiatan ini juga dapat menjadi investasi sosial. Hubungan kerja yang sehat tidak hanya dibangun melalui pembagian tugas, aturan, dan evaluasi kinerja, tetapi juga melalui kepercayaan, komunikasi, dan rasa kebersamaan. Orang yang merasa dihargai dan menjadi bagian dari keluarga besar lembaga biasanya lebih mudah membangun kerja sama. Dengan demikian, suasana santai dalam family gathering dapat memberikan energi positif untuk kembali bekerja dengan semangat, tanggung jawab, dan produktivitas yang lebih baik.
Namun, kebersamaan yang indah tetap perlu dilandasi sikap saling menghormati. Kegiatan hendaknya memperhatikan kemampuan peserta, kesehatan, keselamatan, serta kebutuhan anak-anak dan orang lanjut usia. Jangan sampai kegembiraan sebagian orang justru membuat orang lain merasa tersisih. Family gathering sebaiknya menjadi ruang yang inklusif, tempat setiap orang merasa diterima dan memperoleh kesempatan untuk menikmati kebersamaan.
Ya, hidup tidak hanya membutuhkan kesungguhan dalam bekerja, tetapi juga kebijaksanaan dalam menikmati kebersamaan. Kita perlu bekerja dengan profesional, mengabdi dengan penuh tanggung jawab, dan berusaha mencapai prestasi. Namun, kita juga perlu menyediakan waktu untuk menyapa, tertawa, berjalan bersama, berbagi cerita, dan merasakan kebahagiaan sederhana. Jangan sampai kesibukan mengejar keberhasilan membuat kita kehilangan kesempatan untuk membangun hubungan yang hangat dengan orang-orang di sekitar kita.
Family gathering mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu harus dicari di tempat yang jauh atau melalui sesuatu yang mahal. Terkadang, kebahagiaan hadir ketika kita berjalan santai bersama, menikmati udara pagi, mendengar tawa anak-anak, menyaksikan teman memperoleh hadiah, atau duduk bersama menikmati hidangan sederhana. Yang menjadikan semua itu indah bukan semata-mata kegiatannya, melainkan hati yang bersedia hadir, menghargai, dan mensyukuri kebersamaan. Semoga