Bahagia Waris Mewarisi

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.105
Kamis, 28 Rabiul Awal 1448

Bahagia Waris Mewarisi
Saudaraku, setelah diingatkan tentang kemuliaan dalam muhasabah yang lalu, kini kita sampai pada satu buah ilmu yang sangat indah, yaitu waris-mewarisi. Ya, ilmu yang benar tidak berhenti pada diri orang yang memilikinya, tapi akan mencari jalan untuk diteruskan, diwariskan, dididikkan dan dihidupkan kembali oleh dan antargenerasi. Maka dalam hal ini, kehidupan manusia sejatinya merupakan perjalanan menerima dan meninggalkan warisan. Kita menerima banyak hal dari orang-orang yang telah mendahului kita: iman dari orang tua, ilmu dari guru, keteladanan dari para ulama, pengalaman dari orang-orang terdahulu, bahkan bahasa dan kebudayaan yang memungkinkan kita memahami dunia. Setelah itu, tanpa terasa, kita pun sedang menyiapkan sesuatu yang kelak akan diterima oleh orang-orang sesudah kita.

Allah mengingatkan: “Dan itulah surga yang diwariskan kepadamu disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. az-Zukhruf [43]: 72). Ayat ini mengingatkan bahwa ada warisan yang jauh lebih agung daripada harta dunia. Ada warisan yang tidak habis ketika dibagikan, tidak berkurang ketika diberikan, bahkan justru semakin bertambah ketika diwariskan: ilmu dan kebaikan.

Rasulullah ï·º bersabda: Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah). Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tapi mewariskan ilmu dan hikmah. Maka siapa pun yang memperoleh ilmu memiliki tanggung jawab moral untuk tidak membiarkan ilmu itu berhenti pada dirinya. Ilmu menjadi hidup ketika diajarkan, diamalkan, diteladankan, dan diwariskan.

Di sinilah indahnya konsep waris-mewarisi. Kita bukan pemilik mutlak ilmu. Kita hanyalah penerima amanah untuk sementara. Apa yang kita ketahui hari ini mungkin dahulu diajarkan oleh guru kita, yang dahulu belajar dari gurunya, yang belajar dari gurunya lagi, hingga bersambung kepada para ulama dan akhirnya kepada sumber ilmu yang diwariskan para nabi. Maka ketika kita mengajarkan ilmu kepada anak, mahasiswa, murid, keluarga, atau masyarakat, sesungguhnya kita sedang menyambung mata rantai peradaban.

Betapa indah apabila suatu hari seseorang telah tiada, tetapi ilmunya masih berbicara melalui anak cucu dan murid-muridnya. Ia tidak lagi hadir secara fisik, tetapi pikirannya terus hidup dalam karya orang-orang yang pernah belajar kepadanya. Ia tidak lagi dapat berbicara, tetapi nasihatnya masih terdengar melalui lisan generasi yang pernah dididiknya. Inilah makna warisan yang sesungguhnya. Rasulullah bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Perhatikanlah, saudaraku, ilmu yang bermanfaat tetap hidup setelah pemiliknya meninggal dunia. Inilah salah satu bentuk waris-mewarisi yang paling luhur. Kita mewariskan ilmu, kemudian orang lain mengamalkannya. Dari amal itu lahir manfaat. Dari manfaat lahir kebaikan. Dari kebaikan lahir kebaikan berikutnya. Dan rantai itu dapat terus berlangsung meskipun kita sudah tidak berada di dunia.

Karena itu, mungkin kita perlu mengubah cara memandang usia. Bertambahnya usia bukan semata-mata berkurangnya kesempatan hidup, tetapi bertambahnya kesempatan untuk mewariskan sesuatu yang bermakna. Semakin panjang usia, semakin penting pertanyaan tentang warisan. Bukan berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi berapa banyak kebaikan yang berhasil kita tanamkan. Bukan berapa banyak orang mengenal nama kita, tetapi berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena ilmu dan keteladanan kita.

Harta memang dapat diwariskan kepada anak-anak. Jabatan dapat diwariskan dalam bentuk pengalaman dan jaringan. Rumah dapat diwariskan sebagai tempat tinggal. Tetapi ilmu, akhlak, dan keteladanan memiliki keistimewaan: ketika diwariskan, ia tidak berpindah dari kita kepada orang lain, melainkan tetap berada pada kita sekaligus hidup pada mereka.

Seorang guru tidak kehilangan ilmu ketika muridnya menjadi lebih pandai. Justru keberhasilan murid merupakan salah satu tanda keberhasilan gurunya. Seorang ayah tidak menjadi berkurang ketika anaknya melampaui dirinya. Justru kebahagiaan seorang ayah adalah ketika nilai-nilai baik yang ditanamkannya tumbuh lebih tinggi pada diri anak-anaknya.

Begitu pula seorang ulama. Ia tidak takut ilmu yang dimilikinya menjadi “milik orang lain”. Ia justru bahagia ketika murid-muridnya mampu meneruskan, mengembangkan, dan menghadirkan ilmu itu dalam konteks zaman yang berbeda.

Inilah filosofi waris-mewarisi: kita tidak hidup hanya untuk menjadi titik dalam sejarah, tetapi menjadi mata rantai yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Kita menerima warisan dari generasi terdahulu agar dapat mengolahnya menjadi bekal bagi generasi yang akan datang. Karena itu, mewarisi tidak berarti sekadar menyalin. Warisan ilmu harus dipahami, dihayati, dikembangkan, dan diaktualisasikan sehingga tetap relevan tanpa kehilangan nilai dasarnya.

Bukankah demikian Rasulullah mewariskan risalah? Para sahabat menerima ajaran beliau, menghayatinya, mengamalkannya, lalu meneruskannya kepada generasi berikutnya. Dari generasi ke generasi, ilmu dan keteladanan itu terus mengalir hingga sampai kepada kita. Maka pada bulan Rabiul Awal ini, ketika kita mengenang kelahiran Rasulullah, sesungguhnya kita sedang diingatkan kembali tentang sebuah warisan agung: warisan risalah, ilmu, iman, akhlak, rahmah, dan keteladanan.

Mungkin inilah salah satu ukuran keberhasilan hidup: ketika setelah kita pergi, kebaikan kita tidak ikut pergi. Maka berbahagialah orang yang ilmunya diwarisi, akhlaknya diteladani, nasihatnya diingat, dan amal baiknya diteruskan. Ia mungkin telah meninggalkan dunia, tetapi warisan kebaikannya masih menjadi bagian dari kehidupan orang lain.

Akhirnya, bahagia berilmu bukan hanya ketika kita berhasil mengetahui, tetapi ketika kita berhasil mewariskan apa yang kita ketahui dalam bentuk ilmu yang bermanfaat, iman yang kokoh, akhlak yang mulia, dan keteladanan yang hidup. Kita semua adalah pewaris sekaligus calon yang diwarisi. Hari ini kita menerima amanah dari orang-orang terdahulu. Esok kita akan mempertanggungjawabkan apa yang telah kita teruskan kepada generasi berikutnya. Semoga ketika tiba saatnya kita meninggalkan dunia, ada ilmu yang masih dipelajari, ada amal yang masih dilakukan, ada kebaikan yang masih diteruskan, dan ada manusia yang masih mendoakan kita. Aamiin


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama