Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.102
Senin, 25 Rabiul Awal 1448
Bahagia Saling Bersinergi
Saudaraku, setelah diingatkan agar saling menasihati dalam muhasabah yang baru lalu, kini berilmu juga menuntun kita untuk saling bersinergi. Nasihat membuat kita saling mengingatkan, dan sinergi membuat kita saling menguatkan. Dengan demikian, kebaikan tidak berhenti pada kesadaran individual, tetapi berkembang menjadi kekuatan kolektif sehingga Islam dapat dilaksanakan secara kāffah.
Betapapun luas ilmu yang kita miliki, tetap saja kita adalah bagian dari kehidupan yang sangat kompleks dan luas. Kita memiliki kelebihan yang mungkin tidak dimiliki orang lain, tetapi pada saat yang sama kita memiliki kekurangan yang dapat dilengkapi oleh orang lain. Karena itu, ilmu yang benar tidak menjadikan seseorang merasa mampu berdiri sendiri saja, tapi mengantarkan seseorang pada kesadaran bahwa keterbatasan diri adalah alasan untuk bersinergi
Sinergi bukan sekadar bekerja bersama. Banyak orang dapat berada dalam satu tempat dan mengerjakan sesuatu secara bersama-sama, tetapi belum tentu menghasilkan kekuatan yang lebih besar. Sinergi lahir ketika berbagai potensi, posisi, ilmu, pengalaman, kemampuan, dan peran yang berbeda dipertemukan dalam satu orientasi kebaikan.
Seperti jari-jari tangan. Masing-masing memiliki bentuk, panjang, posisi dan fungsi yang berbeda. Namun ketika semuanya bersinergi, tangan mampu menggenggam, mengangkat, menulis, memberi, dan berkarya. Seandainya setiap jari merasa dirinya paling penting dan tidak mau bekerja sama dengan yang lain, tangan tidak akan berfungsi secara sempurna.
Demikian pula manusia dalam kehidupan. Ada yang kuat dalam ilmu, ada yang kuat dalam amal. Ada yang pandai merancang, ada yang terampil melaksanakan. Ada yang mampu berbicara, ada yang lebih kuat bekerja dalam diam. Ada yang memiliki keluasan jaringan, ada yang memiliki ketekunan. Perbedaan bukan untuk diributkan, tetapi untuk dipertemukan menjadi kekuatan.
Di sinilah ilmu bertemu dengan kebijaksanaan. Orang berilmu memahami bahwa kebenaran dan kebaikan terlalu luas untuk dimonopoli sendiri. Kita tidak perlu bertanya, “Bagaimana agar saya terlihat paling hebat?” tetapi bertanya, “Apa yang dapat kita lakukan agar kebaikan menjadi lebih banyak dilakukan?”
Rasulullah telah menggambarkan orang-orang beriman sebagai sebuah bangunan yang saling menguatkan. Beliau bersabda: Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti sebuah bangunan; sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Betapa filosofisnya perumpamaan ini. Sebuah bangunan tidak akan kokoh hanya karena satu batu kuat sekalipun tapi kokoh karena berbagai bagian saling terhubung dan saling menopang, malah yang di dalam yang tak kelihatan diam-diam menguatkan. Begitu pula umat Islam. Kekuatan umat Islam bukan hanya terletak pada banyaknya orang, tetapi pada seberapa kuat mereka saling menguatkan dalam kebenaran dan kebaikan.
Karena itu, Islam kāffah tidak cukup dimaknai sebagai kesalehan individual yang lengkap. Islam yang kāffah juga menuntut keterhubungan antara iman dan amal, ibadah dan akhlak, ilmu dan tindakan, kesalehan pribadi dan kepedulian sosial. Apa yang kita yakini dalam hati harus menemukan bentuknya dalam perilaku; apa yang kita pelajari harus memberi manfaat bagi kehidupan; dan apa yang kita lakukan sendiri hendaknya dapat diperkuat melalui kebersamaan.
Ilmu mengajarkan bahwa manusia memiliki banyak dimensi. Kita adalah makhluk spiritual, intelektual, emosional, sosial, bahkan ekologis. Karena itu, membangun kehidupan Islam tidak cukup hanya dengan mengembangkan satu sisi kehidupan sambil mengabaikan sisi yang lain. Kesempurnaan lahir dari keselarasan berbagai unsur dalam satu orientasi kepada Allah.
Mungkin di sinilah makna kāffah menemukan relevansinya dalam kehidupan sehari-hari. Shalat yang baik semestinya melahirkan akhlak yang baik. Ilmu yang luas semestinya melahirkan kerendahan hati. Kekayaan semestinya melahirkan kepedulian. Kekuasaan semestinya melahirkan pelayanan. Dan kesalehan pribadi semestinya melahirkan kemaslahatan sosial.
Semua itu tidak selalu dapat diwujudkan sendirian. Kita membutuhkan orang lain. Maka seyogyanya tidak merasa terganggu oleh perbedaan kemampuan, latar belakang, suku, pengalaman, dan peran. Yang perlu kita bangun bukanlah keseragaman, tetapi keselarasan dalam tujuan. Berbeda cara tidak harus berbeda arah. Berbeda kemampuan tidak harus berbeda kepentingan. Berbeda peran tidak harus saling merendahkan.
Bukankah pelangi menjadi indah justru karena terdiri atas warna yang berbeda? Begitu pula kehidupan umat. Perbedaan potensi dapat menjadi keindahan dan kekuatan apabila dipertemukan dalam iman, ilmu, amal, dan tujuan yang sama. Sebaliknya, potensi yang besar dapat menjadi kelemahan apabila masing-masing berjalan dengan ego sendiri.
Jadi bahagia berilmu bukanlah bahagia karena merasa paling tahu dan paling mampu, tetapi ketika ilmu membuat kita sadar bahwa kita saling membutuhkan. Kita melengkapi yang kurang, menguatkan yang lemah, berbagi yang lebih, dan bersama-sama menghadirkan kebaikan. Saling menasihati menyatukan pikiran. Saling melengkapi menyatukan potensi. Saling bersinergi menyatukan kekuatan. Dan ketika semuanya diarahkan untuk mencari ridha Allah, lahirlah kehidupan Islam yang lebih utuh dan kāffah. Semoga