Bahagia Saling Mendoakan

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.103
Selasa, 26 Rabiul Awal 1448

Bahagia Saling Mendoakan 
Saudaraku, setelah diingatkan agar saling bersinergi dalam muhasabah yang baru lalu, kini berilmu juga menuntun kita untuk saling mendoakan kebaikan antar sesama. Ya, bersinergi mempertemukan kekuatan kita dalam amal dan ilmu kita dengan sesama, sedangkan doa mempertemukan iman di hati kita dalam pengharapan kepada Allah ta'ala.

Ketika kita mendoakan kebaikan bagi saudara kita, pada saat yang sama ada malaikat yang mendoakan kebaikan yang serupa bagi kita. Rasulullah bersabda: “Doa seorang Muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah doa yang dikabulkan. Di dekat kepalanya ada malaikat yang ditugaskan; setiap kali ia mendoakan kebaikan bagi saudaranya, malaikat itu berkata, ‘Aamiin, dan bagimu kebaikan yang serupa.’ (HR. Muslim)

Betapa indahnya ajaran ini. Kita mendoakan orang lain, tetapi sesungguhnya kebaikan itu kembali kepada diri kita. Kita memohon agar Allah melapangkan rezeki saudara kita, malaikat mendoakan agar kita pun mendapatkan kelapangan. Kita memohon kesehatan, keselamatan, keberkahan, ilmu, dan kebahagiaan bagi orang lain, malaikat menjawab: “Dan bagimu yang serupa.”

Di sini ilmu mengajarkan sebuah kebijaksanaan yang sering terlupakan: kebaikan tidak pernah benar-benar berkurang karena dibagikan. Bahkan dalam doa, semakin banyak kebaikan yang kita harapkan bagi orang lain, semakin luas pula ruang kebaikan yang kita buka bagi diri sendiri. Maka mendoakan orang lain sesungguhnya merupakan latihan untuk keluar dari kungkungan ego atau ananiah. .

Perubahan kecil dalam cara berdoa itu sesungguhnya menunjukkan perubahan besar dalam cara memandang kehidupan. Orang yang hanya memikirkan dirinya akan melihat keberhasilan orang lain sebagai ancaman. Sebaliknya, orang yang hatinya luas akan mampu melihat keberhasilan saudaranya sebagai bagian dari kebahagiaan bersama. Ia tidak merasa kehilangan ketika orang lain mendapatkan nikmat. Ia justru bersyukur dan mendoakan agar nikmat itu menjadi berkah. Inilah salah satu bentuk kebersihan hati.

Allah mengajarkan doa yang sangat indah dalam Al-Qur'an:

«Ų±َŲØَّنَŲ§ Ų§ŲŗْفِŲ±ْ Ł„َنَŲ§ وَŁ„ِŲ„ِŲ®ْوَانِنَŲ§ Ų§Ł„َّŲ°ِŁŠŁ†َ Ų³َŲØَŁ‚ُŁˆŁ†َŲ§ ŲØِŲ§Ł„ْŲ„ِŁŠŁ…َانِ وَŁ„َŲ§ ŲŖَŲ¬ْŲ¹َŁ„ْ فِي Ł‚ُŁ„ُوبِنَŲ§ ŲŗِŁ„ًّŲ§ Ł„ِŁ„َّŲ°ِŁŠŁ†َ آمَنُوا»

“Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. al-Hasyr [59]: 10)

Perhatikan, saudaraku, orang-orang beriman tidak hanya berdoa untuk dirinya sendiri, tapi mendoakan saudara-saudaranya, bahkan generasi beriman yang telah mendahului. Doa menjadi jembatan yang menghubungkan satu hati dengan hati lainnya, satu generasi dengan generasi lainnya, bahkan mereka yang masih hidup dengan mereka yang telah meninggalkan dunia.

Karena itu, doa adalah bentuk kasih sayang yang paling dalam. Ketika kita menasihati, orang lain mungkin mengetahui. Ketika kita membantu, orang lain mungkin melihat. Tetapi ketika kita mendoakan seseorang dalam kesunyian, tanpa ia tahu, kita sedang melakukan kebaikan yang tidak membutuhkan pengakuan manusia.

Di situlah keikhlasan menemukan ruangnya. Mendoakan kebaikan bagi orang yang kita cintai tentu mudah. Tetapi ilmu yang berbuah akhlak mengajarkan sesuatu yang lebih tinggi: mendoakan orang yang pernah menyakiti kita, orang yang berbeda dengan kita, bahkan orang yang mungkin tidak menyukai kita.

Betapa beratnya, tetapi betapa mulianya. Ketika kita mampu berkata, “Ya Allah, berikanlah dia petunjuk, kebaikan, keberkahan, dan kebahagiaan,” padahal hati kita pernah terluka olehnya, sesungguhnya kita sedang memenangkan pertarungan besar dalam diri sendiri. Kita tidak lagi membiarkan luka menentukan arah hati.

Bukankah Rasulullah juga mengajarkan kita untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan? Maka doa dapat menjadi jalan untuk mengubah hubungan. Yang semula berjarak menjadi dekat, yang semula berselisih menjadi damai, yang semula saling curiga menjadi saling percaya. Tidak selalu perubahan itu terjadi seketika, tetapi doa menjaga hati kita agar tetap berada di jalan kebaikan.

Saudaraku, ada sebuah keindahan lain yang sering tidak kita sadari. Kita tidak pernah tahu berapa banyak orang yang diam-diam mendoakan kita. Bisa jadi ada orang tua yang selalu menyebut nama kita dalam doanya. Ada guru yang mendoakan muridnya. Ada sahabat yang berharap kita dimudahkan Allah. Ada orang yang pernah kita bantu, lalu dalam kesunyian ia mendoakan kebaikan untuk kita.

Dan boleh jadi, keberkahan yang kita rasakan hari ini bukan hanya hasil dari doa kita sendiri, tetapi juga buah dari doa orang lain yang tidak pernah kita ketahui. Maka tidak elok meremehkan doa untuk sesama. Jika kita belum mampu membantu dengan harta, kita masih dapat membantu dengan tenaga. Jika belum mampu membantu dengan tenaga, kita dapat membantu dengan ilmu. Jika tidak mampu dengan semuanya, setidaknya jangan berhenti mendoakan kebaikan. Makanya doa adalah sedekah hati. Ia tidak mengurangi apa yang kita miliki, tetapi justru memperbanyak harapan kebaikan.

Pada akhirnya kita sadar bahwa kita tidak pernah benar-benar hidup sendiri. Ada begitu banyak tangan yang membantu, hati yang peduli, lisan yang menasihati, dan doa yang mengiringi perjalanan kita. Maka seyogyanya kita membiasakan diri mengawali kebaikan dengan mendoakan kebaikan bagi orang lain. Ketika melihat saudara memperoleh keberhasilan, kita doakan agar Allah memberkahinya. Ketika melihat seseorang sedang menghadapi kesulitan, kita doakan agar Allah memberikan jalan keluar. Ketika melihat anak-anak kita tumbuh, kita doakan agar mereka menjadi generasi yang saleh. Kepada guru dan orang tua, kita doakan agar Allah melimpahkan rahmat kepada mereka. Dan ketika suatu saat kita sendiri membutuhkan pertolongan Allah, boleh jadi doa-doa kebaikan yang selama ini kita tebarkan telah lebih dahulu mengetuk pintu langit untuk kita.

Bahagia berilmu adalah ketika ilmu membuat kita tidak hanya memikirkan kebaikan untuk diri sendiri, tetapi juga gemar mengharapkan kebaikan bagi orang lain. Bahagia berilmu adalah ketika kebahagiaan saudara kita tidak menjadi ancaman bagi kita, melainkan menjadi alasan untuk bersyukur. Dan bahagia berilmu adalah ketika kita menyadari bahwa mendoakan kebaikan bagi orang lain sesungguhnya sedang menghadirkan kebaikan bagi diri sendiri.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama