Bahagia Saling Menasihati

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.101
Ahad, 24 Rabiul Awal 1448

Bahagia Saling Menasihati
Saudaraku, setelah diingatkan agar bekerja sama dalam muhasabah yang baru lalu, kini kita disadarkan bahwa berilmu juga menuntun kita untuk saling menasihati dan saling melengkapi. Sebab ilmu tidak menjadikan kita mengetahui segala sesuatu, melainkan justru menyadarkan betapa luasnya sesuatu yang belum kita ketahui.

Betapapun tinggi ilmu yang kita miliki dan betapapun panjang gelar yang tersemat pada nama kita, tetap saja ada banyak keterbatasan yang tidak terjangkau oleh diri kita sendiri. Mata kita hanya mampu melihat dari satu sisi, pengalaman kita terbatas pada apa yang pernah kita jalani, dan pengetahuan kita tidak mungkin mencakup seluruh kenyataan, bahkan, sesuatu yang sangat jelas bagi orang lain terkadang luput dari perhatian diri kita.

Lebih dari itu, manusia bukan hanya makhluk intelektual, tetapi juga makhluk emosional dan spiritual. Keadaan batin kita tidak selalu berada dalam keadaan yang sama. Ada saat ketika hati terang sehingga mudah menerima kebenaran, tetapi ada pula saat ketika emosi mengaburkan kejernihan berpikir. Ada waktu ketika semangat ibadah meninggi, tetapi ada pula masa ketika jiwa terasa lemah dan lalai. Dalam keadaan seperti ini, nasihat orang lain dapat menjadi cermin yang menolong kita melihat diri sendiri.

Barangkali karena itulah Allah tidak menjadikan manusia hidup sendirian dalam menemukan kebenaran. Allah berfirman: Dan mereka saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.(QS. al-'Ashr 3)

Perhatikan, Allah menggunakan kata tawāṣaw, bukan sekadar waṣṣā sehingga ada makna saling di dalamnya. Kita bukan hanya orang yang menasihati, tetapi juga orang yang membutuhkan nasihat. Kita bukan hanya yang mengingatkan, tetapi juga yang harus bersedia diingatkan. Di sinilah ilmu menemukan salah satu kemuliaannya. Orang berilmu tidak alergi terhadap nasihat. Ia tidak merasa martabatnya jatuh hanya karena dikoreksi. Sebaliknya, ia memahami bahwa nasihat adalah bentuk kasih sayang yang memungkinkan dirinya bertumbuh.

Terkadang orang yang paling berjasa dalam hidup kita bukanlah orang yang selalu memuji kita, tetapi orang yang dengan tulus mengatakan, “Ada yang perlu diperbaiki dari dirimu.” Nasihat yang baik memang tidak selalu menyenangkan telinga, tetapi justru dapat menyelamatkan perjalanan kita.

Cermin tidak pernah memperindah wajah kita, tetapi ia memperlihatkan keadaan kita apa adanya sehingga kita tahu berbenah. Demikian pula nasihat yang tulus. Ia tidak selalu membuat kita nyaman, tetapi dapat membuat kita sadar. Karena itu, orang yang berilmu semestinya tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga pandai mendengarkan.

Ada kalanya Allah menghadirkan kebenaran kepada kita melalui lisan orang lain. Bisa jadi nasihat sebagai hikmah itu datang dari orang yang lebih muda, bawahan, mahasiswa, anak, pasangan, sahabat, bahkan seseorang yang secara akademik tidak memiliki gelar setinggi kita. Jangan sampai tingginya posisi membuat kita kehilangan kemampuan untuk belajar.

Sebab, ilmu yang sejati melahirkan kerendahan hati epistemik: kesadaran bahwa apa yang kita ketahui hanyalah sebagian kecil dari keluasan ilmu Allah. Semakin seseorang memahami keluasan ilmu, semakin ia menyadari keterbatasan dirinya.

Nabi Musa as yang seorang rasul pun masih diperintahkan Allah untuk belajar kepada Khidr. Kisah itu menjadi pelajaran yang sangat dalam bahwa seseorang dapat memiliki ilmu yang mulia, tetapi tetap memiliki ruang untuk belajar dari orang lain. Allah berfirman Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada Yang Maha Mengetahui.” (QS. Yusuf 76)

Maka seyogyanya kita tidak merasa kecil ketika menerima nasihat, dan tidak merasa besar ketika memberikan nasihat. Ketika menasihati, kita sebenarnya sedang menyampaikan amanah kebenaran; ketika menerima nasihat, kita sedang menerima karunia Allah melalui sesama.

Nasihat pun bukan berarti mencari-cari kesalahan. Nasihat adalah upaya menjaga agar saudara kita tetap berada di jalan yang baik. Karena itu, nasihat membutuhkan ilmu, hikmah, kasih sayang, dan ketulusan. Nasihat yang lahir dari kesombongan dapat berubah menjadi penghakiman. Sebaliknya, nasihat yang lahir dari kasih sayang dapat menjadi jalan perubahan. Bahkan Rasulullah bersabda: Agama itu adalah nasihat.” (HR. Muslim)

Nasihat, dengan demikian, bukan sekadar aktivitas berbicara. Ia adalah bentuk kepedulian. Kita menasihati karena kita tidak ingin saudara kita tersesat. Kita menerima nasihat karena kita tidak ingin berjalan sendirian dalam kegelapan keterbatasan diri.

Betapa indah kehidupan apabila orang-orang berilmu tidak berlomba menunjukkan siapa yang paling tahu, tetapi saling membantu agar semakin banyak yang benar-benar tahu. Tidak sibuk mempertahankan ego masing-masing, tetapi bersama-sama mencari kebenaran. Tidak takut dikoreksi, dan tidak gemar merendahkan orang yang melakukan kesalahan.

Bukankah kehidupan ini memang terlalu luas untuk dijalani hanya dengan satu perspektif? Kita membutuhkan mata orang lain untuk melihat titik buta kita. Kita membutuhkan pengalaman orang lain untuk melengkapi pengalaman kita. Kita membutuhkan nasihat orang lain untuk mengingatkan ketika hati mulai menyimpang. Dan pada saat yang sama, orang lain pun mungkin membutuhkan apa yang kita ketahui. Maka, saling menasihati sesungguhnya adalah bentuk saling melengkapi dalam keterbatasan. Tidak ada manusia yang sempurna, tetapi manusia dapat saling menyempurnakan dalam kebaikan. Tidak ada seorang pun yang mampu berdiri kokoh sendirian, tetapi banyak orang dapat saling menopang agar tetap tegak di jalan Allah.

Mungkin inilah salah satu tanda bahwa ilmu kita mulai berbuah: kita semakin rendah hati ketika mengetahui, semakin terbuka ketika diingatkan, dan semakin tulus ketika mengingatkan. Karena orang berilmu tidak hidup untuk menjadi yang paling benar di hadapan manusia, tetapi berusaha terus-menerus berada di jalan yang benar di hadapan Allah.

Bahagia berilmu adalah ketika ilmu membuat kita mau belajar. Bahagia berilmu adalah ketika nasihat tidak melukai harga diri, tetapi menyelamatkan perjalanan. Dan bahagia berilmu adalah ketika kita dapat menjadi cermin bagi sesama, sekaligus bersedia bercermin kepada sesama. Aamiin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama