Bahagia Mulia Memuliakan

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.104
Rabu, 27 Rabiul Awal 1448

Bahagia Mulia Memuliakan
Saudaraku, setelah diingatkan untuk saling mendoakan kebaikan dalam muhasabah yang lalu, kini kita sampai pada satu buah ilmu yang sangat indah, yaitu mulia dan memuliakan. Berilmu bukan sekadar membuat seseorang mengetahui lebih banyak, tetapi semestinya menjadikannya pribadi yang lebih mulia sekaligus mampu memuliakan orang lain. Mengapa mulia? Ya, karena dengan ilmu, iman meningkat dan amal shalih berrambah-tambah. Allah berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. QS. al-Mujādilah 11)

Ayat ini menarik untuk direnungkan. Allah menyebut iman dan ilmu sebagai dua sebab pengangkatan derajat. Artinya, kemuliaan tidak cukup dibangun dengan pengetahuan semata. Ilmu yang tidak dibingkai iman dapat menjadi alat kesombongan, sedangkan iman yang tidak disertai ilmu dapat kehilangan arah. Ketika iman dan ilmu bertemu, lahirlah manusia yang mengetahui kebenaran, mencintainya, mengamalkannya dalam amal shalih, dan memuliakan sesama karenanya.

Menariknya lagi, ayat ini hadir dalam konteks adab dalam sebuah majelis. Allah mengajarkan agar ketika dikatakan kepada orang-orang beriman, “Berlapang-lapanglah dalam majelis,” mereka memberikan ruang kepada orang lain. Ketika dikatakan, “Berdirilah kamu,” mereka pun bangkit.

Seakan-akan Allah ingin mengajarkan bahwa kemuliaan ilmu dimulai dari kemuliaan adab. Orang berilmu tidak sibuk mencari tempat paling depan untuk menunjukkan kelebihannya. Ia justru mampu memberikan tempat kepada orang lain. Ia tidak merasa berkurang ketika orang lain dimuliakan. Sebab ia memahami bahwa memuliakan orang lain tidak akan mengurangi kemuliaannya. Bahkan, sering kali seseorang menjadi mulia justru karena ia mampu membuat orang lain merasa mulia.

Saudaraku, kita hidup dalam dunia yang mudah sekali mengukur kemuliaan dengan gelar, jabatan, kekayaan, popularitas, dan pengaruh. Padahal semua itu adalah kemuliaan yang berada di luar diri. Ia dapat datang dan pergi. Gelar dapat bertambah, jabatan dapat berganti, kekayaan dapat naik dan turun, popularitas dapat muncul lalu menghilang.

Adapun kemuliaan yang dibangun oleh iman, ilmu dan amal shalih jauh lebih dalam. Ia tumbuh menjadi akhlak. Karena itu, seseorang yang berilmu semestinya semakin memuliakan sesamanya, semakin santun kepada yang lebih muda, semakin hormat kepada yang lebih tua, semakin menghargai orang yang berbeda, semakin ramah kepada yang lemah, dan semakin rendah hati kepada siapa pun. Sebab ia mengetahui bahwa setiap manusia memiliki kehormatan yang harus dijaga.

Inilah perbedaan antara orang yang memiliki ilmu dan orang yang dimuliakan oleh ilmu.  Orang yang sekadar memiliki ilmu mungkin menggunakan ilmunya untuk meninggikan dirinya. Tetapi orang yang dimuliakan oleh ilmu menggunakan ilmunya untuk mengangkat martabat orang lain.

Orang yang sekadar memiliki ilmu mungkin senang ketika orang lain mengakui kehebatannya. Tetapi orang yang dimuliakan oleh ilmu justru bahagia ketika ilmunya membuat orang lain menjadi lebih baik. Maka, memuliakan orang lain adalah salah satu ukuran kematangan ilmu.

Ilmu seharusnya juga membuat kita semakin mampu memahami posisi orang lain. Kita tahu bahwa setiap orang sedang berjuang dengan persoalannya masing-masing. Karena itu, kita tidak mudah merendahkan, mempermalukan, atau menghakimi. Bukankah kita pun ingin dihargai ketika sedang lemah? Kita ingin didengarkan ketika sedang berbicara. Kita ingin dipahami ketika melakukan kesalahan. Kita ingin diberi kesempatan ketika belum mampu. Maka, sebagaimana kita ingin diperlakukan dengan kemuliaan, kita pun perlu belajar memuliakan.

Ada sebuah renungan yang sangat dalam: barangkali kemuliaan seseorang tidak terletak pada berapa banyak orang yang tunduk kepadanya, tetapi pada berapa banyak orang yang tumbuh menjadi lebih baik karena kehadirannya.

Seorang guru mulia bukan hanya karena gelarnya, tetapi karena murid-muridnya menemukan jalan melalui ilmunya. Seorang pemimpin mulia bukan hanya karena jabatannya, tetapi karena orang-orang yang dipimpinnya merasa dihargai dan berkembang. Seorang kaya mulia bukan hanya karena hartanya, tetapi karena banyak orang merasakan manfaat dari hartanya. Dan seorang berilmu mulia bukan karena ia mampu membuat orang lain merasa rendah diri, melainkan karena ia mampu membuat orang lain mencintai ilmu dan menemukan kemuliaan dirinya.

Di sinilah kita memahami kembali pesan QS. al-Mujadilah ayat 11. Allah mengangkat derajat orang beriman dan berilmu. Namun pada penghujung ayat Allah menegaskan: “Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” Seakan-akan ada pesan bahwa ilmu yang mengangkat derajat bukan sekadar apa yang tersimpan dalam pikiran, tetapi apa yang terwujud dalam perbuatan.

Ilmu yang membuat kita semakin sombong belum tentu mengangkat kita. Ilmu yang membuat kita meremehkan orang lain belum tentu memuliakan kita. Ilmu yang hanya menambah gelar tetapi tidak menambah akhlak belum tentu menjadi cahaya. Sebaliknya, ilmu yang membuat kita semakin tawaduk, semakin santun, semakin suka membantu, semakin menghargai orang lain, dan semakin takut kepada Allah, itulah ilmu yang menjadi jalan kemuliaan.

Maka marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Setelah sekian lama belajar, apakah kita menjadi semakin mulia? Dan apakah kehadiran kita membuat orang-orang di sekitar kita merasa dimuliakan? Apakah anak-anak kita merasa dihargai oleh kita? Apakah mahasiswa kita merasa dihormati? Apakah bawahan kita merasa manusiawi? Apakah teman-teman kita merasa aman bersama kita? Apakah orang yang berbeda pandangan dengan kita tetap merasakan penghormatan dari kita?

Jika jawabannya belum, mungkin ilmu kita masih perlu diturunkan dari kepala menuju hati, lalu dari hati menuju akhlak. Sebab ilmu yang sejati tidak hanya membuat seseorang naik derajat di hadapan manusia, tetapi membuatnya semakin dekat kepada Allah. Dan kedekatan kepada Allah selalu berbuah pada kemuliaan akhlak.

Muhasabah hari-hari sebelumnya telah membawa kita dari ilmu yang diamalkan, istiqamah dalam amal, saling menasihati, saling bersinergi, hingga saling mendoakan kebaikan. Hari ini kita menemukan buah yang lebih dalam: ilmu menjadikan kita mulia dan gemar memuliakan.

Akhirnya, bahagia berilmu adalah ketika kita tidak menjadikan ilmu sebagai tangga untuk menginjak orang lain, tetapi sebagai tangga untuk mengangkat diri dan mengangkat sesama. Kita tidak menggunakan ilmu untuk mencari kemuliaan dunia semata, tetapi menjadikannya jalan untuk memperoleh kemuliaan di sisi Allah. Ilmu mengangkat derajat. Iman menjaga arah. Amal membuktikan. Akhlak menyempurnakan. Dan memuliakan sesama menunjukkan bahwa ilmu itu benar-benar telah hidup dalam diri kita.

.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama