Bahagia Membahagiakan

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.105
Jumat, 29 Rabiul Awal 1448

Bahagia Membahagiakan
Saudaraku, setelah diingatkan tentang waris-mewarisi dalam muhasabah yang lalu, kini kita sampai pada satu buah ilmu yang sangat indah, yaitu bahagia membahagiakan. Ya, ilmu yang benar tidak hanya membuat kita mengetahui apa yang baik, tetapi juga mengajarkan bagaimana menghadirkan kebaikan sehingga diri sendiri dan orang lain dapat merasakan kebahagiaan.

Kebahagiaan sering kali kita cari ke mana-mana, seolah-olah berada di luar diri: dipikir ada dalam harta, jabatan, kedudukan, pujian, keberhasilan, atau berbagai kesenangan instan yang dapat dirasakan. Padahal, kebahagiaan itu di hati masing-masing kita. Dan ternyata, semakin memahami kehidupan, semakin kita menyadari bahwa kebahagiaan yang paling dalam bukanlah sekadar mendapatkan kebahagiaan, melainkan mampu menjadi sebab hadirnya kebahagiaan bagi orang lain.

Ada kebahagiaan ketika kita menerima, tetapi ada kebahagiaan yang lebih luas ketika kita memberi. Ada bahagia karena disayangi, tetapi ada bahagia yang lebih dalam ketika kita mampu menyayangi. Ada bahagia karena dibantu, tetapi ada kebahagiaan tersendiri ketika Allah menjadikan kita tangan yang membantu orang lain.

Inilah salah satu buah ilmu yang menguatkan iman, dan menjadi akhlak. Allah berfirman: Dan bahwa usahanya kelak akan diperlihatkan. Kemudian dia akan diberi balasan yang paling sempurna.” (QS. an-Najm 40–41). Ayat ini mengingatkan bahwa setiap usaha kebaikan tidak pernah sia-sia di hadapan Allah. Bahkan ketika kebahagiaan yang kita hadirkan bagi orang lain tidak sempat mereka balas, Allah mengetahuinya. Ketika senyum kita menguatkan seseorang, ketika nasihat kita menenangkan hati, ketika bantuan kita meringankan beban, ketika ilmu kita membuka jalan bagi orang lain, semuanya berada dalam pengetahuan Allah. Maka membahagiakan orang lain sesungguhnya bukan sekadar aktivitas sosial. Ia dapat menjadi ibadah yang lahir dari ilmu, iman, amal shalih berupa kasih sayang.

Rasulullah adalah teladan utama dalam hal ini. Kehadiran beliau bukan untuk menambah berat kehidupan manusia, tetapi untuk membawa rahmat. Allah berfirman: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. al-Anbiya 107). Rahmat berarti kehadiran yang menghadirkan kebaikan. Karena itu, meneladani Rasulullah pada bulan Rabiul Awal tidak cukup hanya dengan memperbanyak ungkapan cinta kepada beliau. Cinta kepada Nabi semestinya menghadirkan pertanyaan yang lebih dalam: Apakah kehadiran kita juga telah menjadi rahmat bagi orang-orang di sekitar kita?

Apakah keluarga kita merasa lebih bahagia karena kehadiran kita? Apakah anak-anak merasa aman dan dicintai? Apakah mahasiswa merasa dihargai? Apakah sahabat merasa mendapatkan ketenangan ketika bersama kita? Apakah masyarakat merasakan manfaat dari ilmu dan kemampuan yang Allah titipkan kepada kita? Jika jawabannya iya, maka ilmu kita mulai menemukan buahnya. Sebab ilmu yang hanya memenuhi kepala belum tentu membahagiakan. Ilmu yang masuk ke hati lalu keluar melalui akhlak, pelayanan, kepedulian, dan amal saleh, itulah ilmu yang memberi cahaya kepada kehidupan.

Saudaraku, membahagiakan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Terkadang seseorang hanya membutuhkan senyum atau sapaan. Kadang membutuhkan telinga yang bersedia mendengar. Kadang membutuhkan kata-kata yang menenangkan. Kadang membutuhkan maaf. Kadang membutuhkan kesempatan. Bahkan terkadang, seseorang hanya membutuhkan kehadiran kita untuk meyakinkan bahwa ia tidak sendirian. Karena itu, jangan mengira bahwa kita harus kaya terlebih dahulu untuk membahagiakan orang lain. Jangan menunggu memiliki banyak harta untuk berbagi. Jangan menunggu memiliki jabatan untuk melayani. Jangan menunggu menjadi tokoh untuk memberi manfaat. Dengan ilmu kita dapat membimbing. Dengan harta kita dapat berbagi. Dengan tenaga kita dapat membantu. Dengan lisan kita dapat menguatkan. Dengan senyum kita dapat menghangatkan. Dengan doa kita dapat mengiringi.

Semua orang memiliki jalan untuk membahagiakan sesama. Bahkan Rasulullah mengajarkan bahwa senyum pun merupakan sedekah. Dalam sebuah hadis disebutkan: Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HR. at-Tirmidzi)

Betapa luas pintu kebaikan yang Allah bukakan. Membahagiakan tidak selalu berarti memberi sesuatu yang mahal. Yang mahal justru sering kali adalah ketulusan. Seseorang dapat memberikan hadiah yang mahal tetapi tanpa kehangatan. Sebaliknya, seseorang dapat memberikan sesuatu yang sederhana tetapi membuat hati orang lain merasa sangat berharga. Karena itu, yang membahagiakan bukan semata-mata apa yang kita berikan, tetapi bagaimana kita menghadirkan diri ketika memberikannya.

Di sinilah ilmu mengajarkan kepekaan. Orang berilmu tidak hanya tahu apa yang benar, tetapi belajar memahami apa yang dibutuhkan manusia. Ia tidak asal memberi, tetapi berusaha memberi yang tepat. Tidak asal berbicara, tetapi memilih kata yang menguatkan. Tidak sekadar membantu, tetapi membantu dengan cara yang menjaga martabat orang yang dibantu.

Membahagiakan orang lain bahkan dapat menjadi cara untuk membahagiakan diri sendiri. Ketika kita melihat wajah orang lain berubah dari sedih menjadi tersenyum karena kebaikan yang kita lakukan, hati kita pun ikut merasakan kebahagiaan. Seolah ada hukum kehidupan yang sangat indah: kebaikan yang kita pancarkan sering kali memantul kembali kepada hati kita sendiri.

Maka tidak elok menunggu bahagia untuk berbuat baik. Berbuat baiklah, lalu rasakan bagaimana Allah menumbuhkan kebahagiaan di dalam hati. Muhasabah kemarin mengajarkan bahwa ilmu yang kita miliki harus dapat diwariskan. Hari ini kita melihat untuk apa ilmu itu diwariskan: agar kebaikan terus hidup dan semakin banyak manusia yang merasakan manfaatnya. Ilmu yang diwariskan melahirkan generasi. Generasi yang berilmu melahirkan amal. Amal yang baik melahirkan manfaat. Dan manfaat yang dirasakan orang lain dapat menghadirkan kebahagiaan.

Inilah mata rantai kebaikan yang indah. 
Maka kita berbahagi bila karena ilmu kita, seseorang menjadi lebih dekat kepada Allah. Berbahagia jika karena nasihat kita, seseorang kembali bangkit. Berbahagia jika karena pelayanan kita, seseorang merasa dimudahkan. Berbahagia jika karena kehadiran kita, keluarga merasa tenteram. Berbahagia jika setelah kita tiada, masih ada orang yang mengenang kita dengan doa dan kebaikan.

Itulah kebahagiaan yang melampaui diri. Bahagia berilmu bukan hanya bahagia karena memiliki ilmu. Bahagia berilmu adalah ketika ilmu membuat kita mampu membahagiakan. Bukan hanya ingin dicintai, tetapi mampu mencintai. Bukan hanya ingin diperhatikan, tetapi mampu memperhatikan. Bukan hanya ingin dibahagiakan, tetapi bersedia menjadi sebab kebahagiaan bagi sesama.
 Dan barangkali, inilah salah satu bentuk nyata meneladani Rasulullah menjadikan kehadiran kita sebagai rahmat, bukan beban; sebagai manfaat, bukan mudarat; sebagai penyejuk, bukan sumber kegelisahan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama