Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.099
Jumat, 22 Rabiul Awal 1448
Bahagia Memaafkan
Ssudaraku, betapa mulia akhlak Rasulullah, saat ditolak oleh penduduk Thaif, beliau memaafkan. Saat Fathu Makkah sebagai pemenang, orang-orang Quraisy yang dahulu mengusir, menyakiti, memusuhi, bahkan merencanakan pembunuhan terhadap beliau berdiri dalam ketakutan, Rasulullah memaafkan. Beliau tidak dendam dan membalasnya.
Memaafkan menjadi pelajaran besar bahwa kemenangan sejati bukanlah ketika seseorang mampu mengalahkan orang lain, tetapi ketika ia mampu mengalahkan dirinya sendiri untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan. Allah berfirman “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?” (QS. an-Nur 22). Ayat ini mengajarkan bahwa memaafkan bukan tanda kelemahan. Memaafkan justru menunjukkan keluasan jiwa. Orang yang tidak memiliki ilmu mungkin mengira bahwa membalas adalah bentuk keberanian. Tetapi orang yang berilmu memahami bahwa tidak setiap kesalahan harus dibalas dan tidak setiap luka harus dipelihara.
Muhasabah kemarin mengajak kita memahami bahwa ilmu dapat menghadirkan kesejahteraan dan membuat seseorang mampu menyejahterakan sesamanya. Hari ini kita melangkah lebih dalam. Apa gunanya seseorang memiliki ilmu, kedudukan, kekayaan, dan kemampuan menyejahterakan orang lain jika hatinya masih sempit, mudah tersinggung, menyimpan dendam, sulit melupakan kesalahan, dan gemar membalas?
Ilmu seharusnya membuat hati semakin luas. Semakin seseorang memahami manusia, semakin ia menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang tidak luput dari salah. Kita pun pernah salah, pernah khilaf, mungkin pernah menyakiti orang lain, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Karena itu, sebagaimana kita berharap Allah mengampuni kesalahan kita, kita pun belajar memaafkan kesalahan sesama. Rasulullah bersabda:“Allah tidak menambah kepada seorang hamba karena sikap pemaafnya kecuali kemuliaan. (HR. Muslim)
Betapa tidak, dalam logika manusia, memaafkan kadang dianggap kehilangan harga diri, padahal dalam logika iman, memaafkan justru mendatangkan kemuliaan. Sebab orang yang memaafkan telah menunjukkan bahwa dirinya tidak diperbudak oleh kemarahan, tidak dikendalikan oleh dendam, dan tidak membiarkan masa lalu menguasai masa depannya.
Memaafkan juga bukan berarti membenarkan kesalahan. Kita boleh mengatakan bahwa sebuah perbuatan itu salah, tetapi tidak harus menyimpan kebencian kepada pelakunya. Kita boleh menjaga jarak dari orang yang berbuat dhalim, mengambil pelajaran dari sebuah kesalahan, bahkan menempuh jalan hukum bila diperlukan, tetapi hati tetap dapat dibebaskan dari dendam.
Di sinilah ilmu bertemu dengan akhlak. Ilmu memberi kita kemampuan untuk mengetahui, iman memberi kita kekuatan untuk meyakini, dan akhlak memberi kita kemampuan untuk mengendalikan diri. Orang berilmu tidak hanya tahu mana yang benar dan salah, tetapi juga tahu kapan harus berbicara, kapan harus diam, kapan harus menegur, dan kapan harus memaafkan. Allah bahkan memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan manusia: “Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali ‘Imran [3]: 134)
Maka, bahagia berilmu suka memaafkan adalah kebahagiaan orang yang hatinya tidak berat membawa masa lalu. Ia tidak terus-menerus mengulang kesalahan orang lain dalam pikirannya. Ia tidak menjadikan luka sebagai identitas. Ia memilih sembuh, memilih berdamai, dan memilih melanjutkan perjalanan hidup dengan hati yang lebih ringan.
Terlebih pada bulan Rabiul Awal, bulan ketika kita memperbanyak cinta kepada Rasulullah. Mencintai Nabi tidak cukup hanya dengan memperbanyak pujian kepada beliau, tetapi yang lebih penting lagi dengan meneladani akhlaknya. Rasulullah adalah manusia yang sangat kuat dalam prinsip, tetapi juga sangat luas dalam memberi maaf. Beliau tidak lemah ketika memaafkan; justru karena kekuatan iman dan kemuliaan akhlaknya, beliau mampu memaafkan ketika memiliki kesempatan untuk membalas.
Karena itu, mari kita bertanya kepada diri sendiri: adakah orang yang sampai hari ini masih belum kita maafkan? Adakah luka lama yang masih kita simpan? Adakah kesalahan seseorang yang terus kita ceritakan kepada orang lain? Jangan-jangan bukan orang lain yang terus kita hukum, tetapi justru diri kita sendiri yang terus kita bebani.
Ilmu yang benar semestinya membuat hati semakin dewasa. Kita belajar bahwa manusia bisa berubah, keadaan bisa berubah, dan hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dalam dendam. Kita memaafkan bukan karena kesalahan itu tidak berarti, tetapi karena ketenangan hati, persaudaraan, dan ridha Allah jauh lebih berarti.
Kemarin kita belajar bahagia berilmu bisa sejahtera dan menyejahterakan. Hari ini kita belajar bahwa kesejahteraan lahir akan semakin sempurna apabila disertai kesejahteraan batin: hati yang lapang, jiwa yang damai, dan kesediaan untuk memaafkan. Semoga