Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.100
Sabtu, 23 Rabiul Awal 1448
Bahagia Bekerja Sama
Saudaraku, setelah pada muhasabah yang lalu kita diingatkan tentang indahnya saling memaafkan, hari ini kita melangkah pada kebaikan berikutnya, yaitu belajar untuk saling bekerja sama. Sebab, Islam mengajari seperti itu. Lagian, dalam menjalani kehidupan akan terasa lebih ringan dan membahagiakan ketika ilmu, kemampuan, dan pengalaman yang Allah anugerahkan kepada kita tidak hanya kita gunakan untuk diri sendiri, tetapi juga kita sinergikan dengan orang lain dalam kebaikan.
Dengan ilmu yang kita miliki, kita dapat saling melengkapi, saling mengisi, saling menguatkan, dan saling memudahkan. Tidak seorang pun di antara kita yang memiliki segala kemampuan. Karena itu, perbedaan yang ada bukanlah alasan untuk menjauh, melainkan kesempatan untuk saling membutuhkan dan memberi manfaat. Allah Swt. berfirman: Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan (QS. al-Ma'idah 2).
Ayat ini memberikan prinsip yang sangat penting dalam kehidupan bersama: kerja sama bukan sekadar berkumpul dan bekerja bersama, tetapi bersinergi dalam kebaikan dan ketakwaan. Karena itu, ukuran keberhasilan kerja sama bukan hanya tercapainya tujuan, melainkan juga apakah proses dan tujuannya diridhai Allah.
Saudaraku, manusia memang diciptakan sebagai makhluk sosial. Tidak ada seorang pun yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya sendirian. Seorang guru atau dosen membutuhkan murid atau mahasiswa. Seorang dokter membutuhkan perawat juga pasien, seorang pemimpin membutuhkan orang-orang yang dipimpinnya, dan sebuah keluarga membutuhkan kebersamaan seluruh anggotanya. Bahkan dalam ibadah pun terdapat dimensi kebersamaan yang sangat kuat. Shalat berjamaah, misalnya, mengajarkan bahwa kebersamaan membutuhkan keteraturan. Ada imam yang memimpin dan ada makmum yang mengikuti. Ketika imam rukuk, makmum rukuk; ketika imam sujud, makmum sujud. Tidak ada yang merasa lebih mulia karena berdiri di depan atau lebih rendah karena berada di belakang. Semuanya berdiri dalam satu barisan sebagai hamba Allah.
Di sinilah ilmu menemukan salah satu buah terbaiknya: kemampuan menempatkan diri. Orang berilmu mengetahui kapan harus memimpin, kapan harus mengikuti, kapan harus berbicara, kapan harus mendengar, kapan harus mengambil keputusan, dan kapan harus memberikan kesempatan kepada orang lain. Rasulullah saw. bersabda: Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti sebuah bangunan; sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikanlah sebuah bangunan. Batu bata yang satu tidak harus menjadi batu bata yang lain. Ada yang berada di bawah, ada yang di atas; ada yang menjadi tiang, ada yang menjadi dinding, ada yang menjadi penguat. Ada yang tidak kelihatan seperti besi ada yang tampak seperti dinding, marmar dan setetusnya. Masing-masing memiliki posisi dan fungsi. Bangunan menjadi kokoh bukan karena semua bagiannya sama, tetapi karena perbedaan fungsi itu disatukan dalam tujuan yang sama.
Begitu pula kehidupan. Kita tidak harus sama untuk dapat bekerja sama. Kita boleh berbeda suju bangsa, agama, juga keahlian, pengalaman, pemikiran, karakter, bahkan cara menyelesaikan masalah. Yang diperlukan adalah kesediaan untuk saling menghargai, saling melengkapi, dan mengarahkan perbedaan itu kepada kebaikan.
Saudaraku, salah satu penyakit yang sering menghambat kerja sama adalah ego ilmu (baca kesombongan). Seseorang yang baru memiliki sedikit pengetahuan terkadang merasa sudah merasa mengetahui semuanya. Ia sulit menerima pendapat orang lain karena menganggap perbedaan sebagai ancaman terhadap dirinya. Padahal semakin luas ilmu seseorang, semestinya semakin luas pula kesadarannya tentang keterbatasan dirinya.
Imam al-Syafi'i dikenal memiliki kelapangan hati dalam perbedaan pendapat. Dalam tradisi keilmuan Islam, perbedaan tidak selalu menjadi alasan untuk bermusuhan. Para ulama dapat berbeda dalam masalah tertentu, tetapi tetap saling menghormati sebagai saudara dalam ilmu dan iman. Maka, ilmu yang tinggi melahirkan kerendahan hati; dan kerendahan hati memudahkan kerja sama.
Saudaraku, bekerja sama juga berarti bersedia memberikan apa yang kita miliki untuk kemanfaatan bersama. Yang memiliki ilmu memberikan ilmunya, yang memiliki tenaga memberikan tenaganya, yang memiliki harta memberikan hartanya, yang memiliki pengalaman memberikan nasihatnya, yang memiliki jaringan membuka aksesnya, yang memiliki waktu memberikan waktunya. Dan seterusnya. Tidak semua orang harus memberikan hal yang sama. Yang penting, setiap orang memberikan yang terbaik dari apa yang Allah amanahkan kepadanya.
Dalam konteks ini, kita dapat belajar dari Rasulullah saw. ketika membangun masyarakat Madinah. Rasulullah tidak membangun umat hanya dengan ceramah, tetapi juga dengan membangun persaudaraan, mempersatukan Muhajirin dan Ansar, menyusun kehidupan bersama, dan membangun kesepakatan sosial. Perbedaan latar belakang tidak dihapus, tetapi diarahkan menjadi kekuatan untuk membangun masyarakat yang beradab. Inilah kerja sama yang berangkat dari iman: bukan sekadar bersama-sama melakukan pekerjaan, tetapi bersama-sama menghadirkan kemaslahatan.
Saudaraku, kerja sama juga menuntut kepercayaan. Tanpa kepercayaan, sebuah tim mudah dipenuhi kecurigaan. Tanpa amanah, pembagian tugas berubah menjadi saling menyalahkan. Tanpa komunikasi, perbedaan kecil dapat berkembang menjadi konflik. Dan tanpa keikhlasan, keberhasilan bersama justru dapat berubah menjadi perebutan pengakuan pribadi.
Saudaraku, mungkin hari ini kita mempunyai ilmu yang dibutuhkan orang lain, semoga tidak pelit membagikannya. Mungkin hari ini orang lain mempunyai ilmu yang kita butuhkan, maka jangan malu menerimanya. Karena orang yang benar-benar berilmu bukanlah orang yang selalu ingin menjadi guru, tetapi juga orang yang selalu bersedia menjadi murid. Maka, bahagia bekerja sama adalah ketika ilmu melahirkan sinergi, sinergi melahirkan kemanfaatan, kemanfaatan melahirkan persaudaraan, dan semuanya kita persembahkan sebagai amal saleh untuk menggapai ridha Allah. Aamiin