Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.106
Sabtu, 30 Rabiul Awal 1448
Bahagia Saat Menggenggam,
Bahagia Saat Melepaskan
Saudaraku, setelah diingatkan tentang bahagia membahagiakan dalam muhasabah yang baru lalu, kini saat sampai di penghujung bulan Rabiul Awal, kita juga sampai pada satu buah ilmu berikutnya yang sangat indah, yakni bahagia saat menggenggam dan bahagia saat melepaskan.
Bahagia ketika memperoleh dan bahagia ketika kehilangan. Bahagia ketika naik dan bahagia ketika turun. Bahagia ketika diberi amanah dan bahagia ketika amanah itu kita dikembalikan. Sebab hidup memang tidak selamanya berada dalam satu keadaan. Hari-hari terus berputar, keadaan terus berganti, dan manusia berjalan di antara apa yang datang dan apa yang pergi.
Allah mengingatkan: “Dan masa itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali 'Imran 140). Ayat ini sangat dalam untuk direnungkan. Tidak ada keadaan duniawi yang benar-benar menetap. Ada hari ketika seseorang berada di atas, ada hari ketika ia berada di bawah. Ada saat ketika kita menggenggam, ada saat ketika kita harus ikhlas melepaskan. Ada yang datang, ada yang pergi. Ada yang bertambah, ada yang berkurang. Ada yang bertemu, ada yang berpisah. Ini alamiah. Ini sunatullah. Karena itu, ilmu yang tinggi mengajarkan kita untuk tidak terlalu "mabuk" ketika menggenggam dan tidak terlalu larut ketika melepaskan.
Ketika mendapatkan jabatan, kita bahagia, tetapi tidak lupa bahwa jabatan adalah amanah. Ketika mendapatkan harta, kita bersyukur, tetapi tidak merasa bahwa harta itu milik mutlak kita. Ketika mendapatkan kesempatan, kita manfaatkan sebaik-baiknya, tetapi tidak lupa bahwa kesempatan pun ada batas waktunya.
Demikian pula ketika harus melepaskan. Kita belajar menerima bahwa sesuatu yang pergi tidak selalu berarti musibah; bisa jadi Allah sedang memindahkan kita kepada keadaan yang lain yang lebih maslahat. Bukankah seluruh kehidupan ini memang bergerak di antara datang dan pergi, memperoleh dan kehilangan, menggenggam dan melepaskan?
Kita pernah menggenggam masa kanak-kanak, kemudian harus melepaskannya untuk menjadi remaja. Kita menggenggam masa muda, lalu kita lepaskan untuk menjadi dewasa. Kini perlahan kita pun melepaskannya menuju usia tua. Kita menggenggam orang-orang yang kita cintai, tetapi suatu saat harus merelakan sebagian mereka pergi lebih dahulu atau jusyru mereka yang harus ikhlas melepaskan kita. Kita menggenggam kesehatan, kekuatan, kesempatan, jabatan, kekayaan dan berbagai kenikmatan duniawi, tetapi semuanya pada akhirnya akan kita lepaskan. Bahkan kehidupan kita di dunia itu sendiri suatu hari harus kita lepaskan.
Karena itu, orang yang berilmu tidak hanya belajar bagaimana memperoleh, tetapi juga belajar bagaimana ikhlas dan bahagia melepaskan. Ilmu dan hikmah mengajarkan bahwa menggenggam harus dengan amanah, sedangkan melepaskan harus dengan ikhlas.
Menggenggam tanpa ilmu dan iman dapat melahirkan keserakahan. Melepaskan tanpa iman dapat melahirkan kesedihan, atau bahkan keputusasaan. Tetapi menggenggam dengan iman dan ilmu melahirkan syukur, dan melepaskan dengan iman melahirkan tawakal dan ridha. Inilah keseimbangan jiwa.
Rasulullah telah memberikan teladan yang sangat agung tentang hal ini. Beliau pernah berada dalam keadaan sangat sulit di Makkah, kemudian Allah mengangkat dakwah beliau hingga memiliki kekuatan dan kemenangan di Madinah. Tetapi ketika Fathu Makkah tiba, beliau tidak menjadikan kemenangan sebagai kesempatan untuk membanggakan diri atau membalas dendam.
Begitu pula ketika beliau berada dalam posisi kuat, beliau tetap rendah hati. Ketika memperoleh dunia, beliau tidak menggenggamnya dengan rakus. Dan ketika harus meninggalkan dunia, beliau meninggalkannya dengan hati yang tertambat kepada Allah.
Maka yang penting bukanlah apa yang sedang kita genggam, tetapi siapa yang menggenggam hati kita. Jika hati menggenggam dan terikat dengan dunia, ketika dunia pergi kita akan merasa kehilangan segalanya. Tetapi jika hati menggenggam iman pada Allah, maka ketika sesuatu pergi kita masih memiliki tempat untuk kembali. Allah berfirman: “Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. al-Hadid 23)
Bukan berarti kita tidak boleh bahagia ketika mendapatkan nikmat dan tidak boleh bersedih ketika kehilangan. Bukan itu. Manusia tetap memiliki perasaan. Dan ini lumrah saja. Nilai yang diajarkan adalah jangan sampai apa yang datang membuat kita lupa kepada Allah, dan jangan sampai apa yang pergi membuat kita kehilangan Allah.
Betapa banyak orang bahagia ketika naik, tetapi lupa diri. Ketika turun, ia kecewa dan merasa hidupnya berakhir. Padahal naik dan turun hanyalah pergiliran keadaan saja. Yang penting adalah bagaimana sikap kita dalam setiap keadaan. Saat naik, tetap rendah hati. Saat turun, tetap percaya diri. Saat menggenggam, tetap berbagi. Saat melepaskan, tetap ikhlas mengabdi.
Saat diberi kekuasaan, kitapun melayani. Saat kekuasaan berakhir, kitapun tetap mengabdi. Saat memiliki harta, kita bersedekah. Saat berkurang, kita tetap bersyukur. Saat sehat, kita beramal. Saat sakit, kita bersabar. Saat muda, kita terus berkarya. Saat tua, kita bahagia sudah mewariskan hikmah. Inilah kedewasaan yang lahir dari iman, ilmu dan amal shalih.
Saudaraku, mungkin di antara kesalahan kita dalam menjalani kehidupan adalah terlalu menganggap yang sementara sebagai sesuatu yang kekal. Kita mengira jabatan akan selamanya. Kita mengira kekayaan akan selamanya. Kita mengira kekuatan akan selamanya. Kita mengira orang-orang yang kita cintai akan selalu bersama kita. Padahal ya padahal semuanya sedang berjalan menuju waktu untuk dilepaskan.
Maka tidak elok terlalu sombong ketika sedang menggenggam sesuatu, karena boleh jadi sebentar lagi Allah meminta kita melepaskannya. Dan tidak elok terlalu putus asa ketika harus melepaskan sesuatu, karena boleh jadi Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik bagi perjalanan kita. Ya, keadaan boleh berubah, boleh ada yang datang dan ada yang pergi. Yang tidak boleh berubah adalah arah hati kita kepada Allah.
Rabiul Awal pun demikian. Ia datang membawa kenangan dan kecintaan kepada Rasulullah, lalu hari ini ia sampai di penghujungnya. Kita telah menapaki hari demi hari dengan belajar bahwa ilmu harus menjadi amal, istiqamah, akhlak, kasih sayang, keteladanan, ukhuwah, nasihat, sinergi, doa, kemuliaan, warisan, dan kebahagiaan yang dibagikan kepada sesama. Kini kita belajar menutupnya dengan satu kesadaran: semua perjalanan akan sampai pada penghujungnya. Maka yang paling penting bukan berapa panjang perjalanan, tetapi apa yang kita bawa pulang.
Ilmu yang kita pelajari jangan hanya menjadi ingatan. Ia harus menjadi iman, amal, akhlak, dan manfaat. Cinta kepada Rasulullah jangan hanya menjadi ungkapan, tetapi menjadi keteladanan. Dan seluruh kebaikan yang telah kita usahakan jangan berhenti pada diri kita, tetapi diwariskan dan diteruskan.
Akhirnya, bahagia berilmu saat menggenggam dan saat melepaskan adalah ketika kita memahami bahwa kita tidak pernah benar-benar memiliki apa pun secara mutlak. Kita hanya sedang diberi kesempatan untuk mengelola amanah Allah dalam waktu tertentu..Karena itu, saat menggenggam kita bersyukur. Saat melepaskan kita bersabar. Saat naik kita tawaduk. Saat turun kita tetap teguh. Saat datang kita menyambut dengan amanah. Saat pergi kita mengiringinya dengan ikhlas.
Sebab bagi orang yang berilmu dan beriman, yang datang tidak membuatnya lupa kepada Allah, dan yang pergi tidak membuatnya jauh dari Allah. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang pandai menerima dan pandai melepaskan; pandai bersyukur ketika menggenggam dan pandai bersabar ketika melepaskan. Semoga segala yang pernah Allah titipkan kepada kita—ilmu, kesehatan, harta, jabatan, keluarga, kesempatan, dan umur—menjadi amanah yang kita tunaikan dengan sebaik-baiknya. Dan ketika tiba waktunya semua itu harus kita kembalikan kepada-Nya, semoga kita dapat melepaskannya dengan hati yang ikhlas dan jiwa yang tenang. Aamiin