Bahagia Ridha terhadap Takdir

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.108
Senin, 2 Rabiul Tsani 1448

Bahagia Ridha terhadap Takdir
Saudaraku, setelah diingatkan tentang bahagia bersyukur atas nikmat Allah dalam muhasabah yang baru lalu, kini kita melangkah lebih dalam, yaitu bahagia berilmu bisa ridha terhadap takdir. Ya, bersyukur ketika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan tentu relatif mudah, tetapi tetap mampu bersyukur dan ridha ketika keadaan tidak sesuai dengan harapan merupakan kematangan ilmu, kedalaman iman, dan keluasan hati.

Kehidupan memang tidak selalu berjalan sebagaimana yang kita rencanakan. Ada saatnya kita mendapatkan apa yang diharapkan, tetapi ada pula saatnya harus menerima sesuatu yang tidak kita inginkan. Ada waktu lapang dan ada waktu sempit, ada sehat dan ada sakit, ada kemudahan dan ada kesulitan, ada keberhasilan dan ada kegagalan. Semuanya silih berganti. Allah berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah 216)»

Di sinilah ilmu memberi kita cara pandang yang berbeda. Orang yang hanya melihat kehidupan dengan mata keinginan akan mudah bersyukur ketika memperoleh hal-hal yang disukai dan mudah mengeluh ketika luput dari yang diinginkan.  Orang yang berilmu memandang lebih jauh dan menyadari bahwa pengetahuannya terbatas, sedangkan pengetahuan Allah tidak terbatas. Apa yang menurutnya baik belum tentu baik menurut Allah, dan apa yang menurutnya buruk belum tentu buruk dalam keseluruhan perjalanan hidupnya.

Karena itu, syukur tidak berarti bahwa kita harus menyukai semua keadaan. Syukur juga bukan berarti kita tidak boleh sedih, menangis, kecewa, atau berikhtiar mengubah keadaan. Syukur adalah kemampuan hati untuk tetap melihat adanya karunia Allah di tengah keadaan yang belum sesuai dengan keinginan.

Nabi memberikan gambaran yang sangat indah tentang keadaan seorang mukmin. Nabi bersabda: “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)»

Hadis ini tidak mengatakan bahwa seorang mukmin selalu mendapatkan keadaan yang menyenangkan. Justru kehidupan mukmin mencakup dua keadaan: ketika memperoleh kesenangan ia bersyukur, dan ketika menghadapi kesusahan ia bersabar. Keduanya menjadi jalan kebaikan.

Maka, syukur dalam setiap keadaan bukan berarti setiap keadaan harus diberi nama “nikmat” dalam pengertian yang sama. Ketika mendapatkan keberhasilan, kita bersyukur agar tidak sombong. Ketika mendapatkan kegagalan, kita bersyukur karena masih diberi kesempatan belajar dan memperbaiki diri. Ketika mendapat kelapangan, kita bersyukur dengan berbagi. Ketika berada dalam kesempitan, kita bersyukur karena masih memiliki Allah sebagai tempat bergantung dan masih diberi kesempatan untuk berikhtiar.

Begitulah ilmu mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa menilai kehidupan hanya berdasarkan apa yang tampak sesaat. Hal yang menyenangkan belum tentu menjadi kebaikan apabila membuat kita jauh dari Allah, dan yang tidak menyenangkan belum tentu menjadi keburukan apabila justru membuat kita semakin dekat kepada-Nya.

Karena itu, orang berilmu tidak mudah melayang ketika berada di atas dan tidak mudah patah ketika berada di bawah. Ia memahami bahwa keadaan hanyalah pergiliran. Ketika lapang, ia bersyukur. Ketika sempit, ia bersabar. Ketika berhasil, ia rendah hati. Ketika gagal, ia memperbaiki diri. Ketika diberi, ia menerima dengan syukur. Ketika belum diberi, ia tetap berbaik sangka kepada Allah.

Bukankah Allah telah mengingatkan bahwa boleh jadi kita tidak mengetahui apa yang sebenarnya terbaik bagi kita? Maka tugas seorang hamba bukan memaksa Allah mengikuti seluruh keinginannya, melainkan terus berikhtiar, berdoa, bersyukur, bersabar, lalu bertawakal kepada-Nya. Inilah bahagia yang sesungguhnya. Bahagia bukan berarti selalu mendapatkan keadaan yang kita inginkan, tetapi mampu menemukan jalan menuju Allah dalam keadaan apa pun yang kita jalani.

Semoga ilmu yang kita miliki tidak hanya membuat kita pandai memahami kehidupan, tetapi juga membuat hati kita matang dalam menjalaninya: bersyukur ketika diberi, bersabar ketika diuji, berikhtiar ketika menghadapi kesulitan, dan bertawakal dalam setiap keadaan. Aamiin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama