Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.107
Ahad, 1 Rabiul Tsani 1448
Bahagia Mudah Bersyukur
Saudaraku, setelah sebulan penuh kita diingatkan tentang bahagia berilmu dalam rangka meneladani Rasulullah, kini kita memasuki bulan Rabiul Tsani dengan membawa ilmu itu ke dalam kehidupan nyata. Dan sebagai langkah awal setelah rangkaian “bahagia berilmu”, maka bersyukur merupakan jembatan dari ilmu menuju kesadaran nikmat dan amal. Sebab ilmu yang benar semestinya tidak hanya membuat kita semakin tahu, tetapi juga semakin sadar; tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga menambah kedekatan kepada Allah; dan salah satu buah kesadaran yang paling indah adalah bersyukur.
Bersyukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah ketika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, tapi dibarengi dengan kesadaran bahwa segala nikmat yang kita terima pada hakikatnya berasal dari Allah. Karena itu, orang yang berilmu akan melihat lebih dalam daripada sekadar apa yang ada di hadapan mata. Ia tidak hanya menikmati kesehatan, tetapi mampu melihat siapa yang memberikan kesehatan. Ia tidak hanya melihat rezeki, tetapi melihat siapa yang melapangkan rezeki. Ia tidak hanya melihat keberhasilan, tetapi menyadari siapa yang memudahkan jalan menuju keberhasilan itu.
Allah berfirman: Dan segala nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya). Kemudian apabila kamu ditimpa kesusahan, maka hanya kepada-Nya kamu meminta pertolongan.” (QS. an-Nahl 53)» Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa nikmat bukanlah semata-mata hasil kemampuan diri, tapi ada Allah di balik setiap kemudahan. Ada Allah di balik setiap kesempatan. Ada Allah di balik orang-orang baik yang dipertemukan dengan kita. Bahkan kemampuan kita untuk berpikir, bekerja, beribadah, mencintai, memaafkan, dan berbuat baik pun merupakan nikmat dari-Nya.
Karena itu, semakin berilmu seharusnya semakin mudah bersyukur. Ilmu membuat kita memahami betapa banyaknya nikmat yang selama ini sering dianggap biasa. Kita masih dapat membuka mata pada dini hari, masih dapat mendengar suara orang-orang yang kita cintai, masih diberi kesempatan untuk bekerja, belajar, beribadah, bersilaturahmi, dan memperbaiki kesalahan. Betapa banyak nikmat yang tidak kita sadari justru karena telah terlalu lama menyertai kehidupan kita.
Rasulullah adalah teladan terbaik dalam bersyukur. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa beliau melaksanakan salat malam hingga kedua telapak kakinya bengkak. Ketika ditanya mengapa beliau melakukan demikian, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, beliau menjawab: “Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. al-Bukhari dan Muslim)»
Rasulullah tidak menjadikan nikmat sebagai alasan untuk semakin banyak menuntut, tetapi sebagai alasan untuk semakin banyak bersyukur. Inilah keindahan ilmu yang hidup. Ilmu tidak membuat seseorang merasa paling hebat karena banyak mengetahui, tetapi membuatnya semakin tunduk karena menyadari betapa banyak yang tidak diketahuinya dan betapa besar karunia Allah kepadanya.
Syukur juga bukan hanya dengan lisan. Syukur memiliki dimensi hati, lisan, dan perbuatan. Hati mengakui bahwa nikmat berasal dari Allah. Lisan memuji-Nya dengan alhamdulillah. Anggota badan menggunakan nikmat itu untuk kebaikan. Mata yang diberi nikmat penglihatan digunakan untuk melihat yang baik. Telinga digunakan untuk mendengar kebenaran. Lisan digunakan untuk berkata baik. Harta digunakan untuk berbagi. Ilmu digunakan untuk mencerdaskan dan membimbing. Jabatan digunakan untuk melayani. Waktu digunakan untuk amal yang bermanfaat.
Dengan demikian, syukur bukan hanya mengatakan “Alhamdulillah” saja tetapi menjadikan nikmat Allah sebagai jalan untuk semakin taat kepada Allah. Dan ketika kita bersyukur, justru Allah akan menambah nikmat kepada kita. Allah menjanjikan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim 7)»
Pertambahan nikmat tidak selalu berarti bertambahnya harta, kedudukan, atau fasilitas kehidupan. Bisa jadi yang bertambah adalah ketenangan hati, keberkahan waktu, kesehatan, keluasan ilmu, kemudahan berbuat baik, kedekatan dengan keluarga, atau kemampuan menikmati kehidupan secara sederhana. Sebab nikmat yang paling indah bukan selalu nikmat yang paling banyak, melainkan nikmat yang paling berkah dan membawa kita semakin dekat kepada Allah.
Maka memasuki Rabiul Tsani ini, seyogyanya membawa ilmu yang telah kita pelajari ke dalam sikap hidup yang lebih bersyukur. Jangan sampai banyak ilmu tetapi sedikit syukur. Jangan sampai pandai menjelaskan nikmat tetapi lupa menikmati dan mensyukurinya. Jangan sampai sibuk menghitung apa yang belum dimiliki, sementara lupa menghitung begitu banyak yang telah Allah anugerahkan. Karena bahagia itu bukan karena semua yang kita inginkan telah kita miliki, tetapi karena kita mampu mensyukuri apa yang Allah berikan.
Sudahkah ilmu yang kita miliki menjadikan kita semakin bersyukur? Sudahkah nikmat yang Allah berikan kita gunakan untuk berbuat baik? Dan ketika sesuatu belum sesuai dengan keinginan, masihkah hati kita mampu berkata alhamdulillah atas apa yang tetap Allah titipkan?
Semoga memasuki Rabiul Tsani ini kita menjadi hamba yang tidak hanya pandai menerima nikmat, tetapi juga pandai mensyukurinya; tidak hanya menikmati karunia, tetapi juga menggunakannya untuk beribadah dan memberi manfaat kepada sesama. Aamiin