Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.097
Rabu, 20 Rabiul Awal 1448
Bahagia Bisa Melayani
Saudaraku, pada suatu hari, ketika Rasulullah berada bersama para sahabat, datang seorang perempuan tua yang membutuhkan bantuan. Ia meminta beliau berjalan bersamanya untuk menyelesaikan keperluannya. Rasulullah tidak merasa bahwa kedudukannya sebagai Rasul, pemimpin umat, atau tokoh yang sangat dihormati membuat beliau tidak pantas melayani seorang perempuan tua. Beliau bersedia membersamai dan memenuhi kebutuhannya.
Dalam berbagai riwayat juga tergambar bagaimana Rasulullah membantu pekerjaan keluarga di rumah, memperbaiki sandal, menjahit pakaian, dan mengerjakan pekerjaan rumah. Kehidupan beliau menunjukkan sebuah prinsip yang sangat luhur: semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar semestinya kesediaannya untuk melayani.
Kisah tersebut memberikan gambaran bahwa kebesaran Rasulullah tidak membuat beliau berjarak dari manusia. Beliau duduk bersama sahabat, makan bersama, mendengarkan keluhan, mengunjungi yang sakit, membantu yang membutuhkan, dan memperhatikan orang-orang yang sering kali tidak menjadi pusat perhatian masyarakat. Beliau tidak menjadikan kepemimpinan sebagai kesempatan untuk dilayani, tetapi sebagai amanah untuk melayani. Di sinilah kita menemukan salah satu rahasia kebesaran beliau: Rasulullah memimpin dengan memberi, bukan dengan meminta.
Muhasabah kita sebelumnya telah membawa kita dari ilmu yang diamalkan menuju istiqamah, akhlak, kasih sayang, keteladanan, ukhuwah, menjaga lisan, mensyukuri akal, memilih yang terbaik, menciptakan peluang, menghadirkan solusi, meneladani Nabi menundukkan hawa nafsu, membedakan hak dan batil, menjadi cahaya, menembus batas, melahirkan karya, meninggalkan jejak kebaikan, membangun persaudaraan, dan kini kita sampai pada satu buah ilmu yang sangat penting: melayani. Sebab ilmu yang benar pada akhirnya mengubah orientasi seseorang dari “apa yang dapat diperoleh” menjadi “apa yang dapat diberikan?”
Allah menggambarkan Rasulullah sebagai pribadi yang sangat peduli kepada umatnya: Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri; terasa berat olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan kebaikan bagimu, dan terhadap orang-orang mukmin beliau sangat penyantun dan penyayang.” (QS. at-Taubah: 128). Perhatikan ungkapan “ḥarīṣun 'alaikum”—sangat menginginkan kebaikan bagi kalian. Seseorang yang demikian tidak bertanya terlebih dahulu, “Apa keuntungan saya?” Ia bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan agar orang-orang yang di sekitar saya menjadi lebih baik?” Inilah pelayanan.
Ilmu membuat seseorang memahami bahwa kedudukan bukanlah kemuliaan jika tidak diiringi pengabdian. Jabatan hanyalah amanah. Gelar hanyalah identitas akademik. Kekayaan hanyalah titipan. Kekuasaan hanyalah kesempatan untuk berbuat lebih banyak. Semakin besar kemampuan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab sosialnya. Karena itu, orang berilmu tidak seharusnya semakin sulit ditemui, semakin sulit dimintai bantuan, atau semakin tinggi hati ketika memiliki kedudukan tinggi.
Sebaliknya, ilmu semestinya membuat seseorang semakin mudah didekati. Ia mau mendengar. Ia mau membantu. Ia mau turun tangan. Ia tidak malu melakukan pekerjaan yang sederhana. Ia tidak merasa rendah ketika melayani orang lain. Karena ia memahami bahwa kemuliaan manusia bukan terletak pada seberapa banyak orang melayaninya, tetapi pada seberapa banyak manusia memperoleh manfaat darinya.
Rasulullah memberikan teladan yang luar biasa tentang hal ini. Beliau adalah pemimpin negara, panglima perang, guru, hakim, kepala keluarga, sekaligus Rasulullah. Namun kebesaran tanggung jawab itu tidak menjadikan beliau kehilangan kerendahan hati. Beliau tetap membantu keluarganya. Beliau tetap memperhatikan orang miskin. Beliau tetap mendatangi orang sakit. Beliau tetap mendengarkan keluhan. Beliau tetap memberikan waktunya kepada manusia. Kebesaran tidak membuat beliau berhenti melayani; kebesaran justru membuat pelayanan beliau semakin luas.
Di sinilah ilmu memiliki hubungan yang sangat erat dengan amanah. Orang yang berilmu mengetahui bahwa kemampuan yang dimilikinya bukan milik mutlak dirinya. Allah dapat memberikan ilmu kepada seseorang agar ilmu itu menjadi jalan kemaslahatan bagi orang lain. Karena itu, ilmu yang tidak pernah memberikan manfaat sosial perlu kita pertanyakan. Bukan berarti setiap ilmu harus menghasilkan sesuatu yang besar, tetapi setidaknya harus ada manusia yang menjadi lebih baik karena keberadaan kita.
Melayani juga tidak selalu berarti memberikan sesuatu yang bersifat material. Guru atau dosen melayani dengan ilmu dan bimbingannya. Dokter melayani dengan layanan pengobatannya. Pemimpin melayani dengan kebijakannya. Orang tua melayani dengan kasih sayang dan pengayomannya. Ulama melayani dengan bimbingan fatwa-fatwanya. Tetangga melayani dengan kepeduliannya. Bahkan seseorang yang bersedia mendengarkan keluhan atau curhatan orang lain dengan tulus sebenarnya sedang melakukan pelayanan yang sangat berarti. Maka melayani sesungguhnya adalah bahasa cinta dalam bentuk tindakan.
Dalam ajaran Islam bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Pesan ini sejalan dengan seluruh perjalanan muhasabah kita. Ilmu tidak boleh berhenti sebagai kepandaian pribadi. Ilmu harus mengalir menjadi amal, amal menjadi manfaat, dan manfaat menjadi pengabdian. Semakin berilmu, semakin semestinya seseorang semakin banyak melayani.
Semangat meneladani Nabi hari ini adalah mengubah posisi menjadi pelayanan. Jika kita guru atau dosen, jadilah guru atau dosen yang melayani kebutuhan ilmu murid atau mahsiswa. Jika menjadi pemimpin, jadilah pemimpin yang mengayomi mensejahterakan bawahan. Jika menjadi orang tua, jadilah orang tua yang terus "hadir" pada kehidupan keluarganya. Jika menjadi anggota masyarakat, jadilah tetangga yang baik. Jika memiliki ilmu, bagikanlah. Jika memiliki kemampuan, gunakanlah. Jika memiliki kesempatan, bukalah aksesnya bagi orang lain. Dan seterusnya. Semoga keberadaan kita dapat dirasakan manfaatnya oleh sesama. Aamiin