Bahagia Mewariskan Jejak Kebaikan

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.095
Senin, 18 Rabiul Awal 1448

Bahagia Mewariskan Jejak Kebaikan
Saudaraku, ada sebuah kisah yang sangat indah dari kehidupan Abu Hurairah. Ia bukan sahabat yang dikenal karena kekayaan atau kedudukannya. Tetapi kecintaannya yang luar biasa terhadap ilmu dan hadis Rasulullah. Ia senantiasa mendampingi Nabi, mendengarkan sabda-sabda beliau, menghafalnya, kemudian menyampaikannya kepada orang lain.

Pada suatu ketika, Abu Hurairah pernah mengadukan kepada Rasulullah bahwa ia sering lupa terhadap hadis yang telah didengarnya. Rasulullah kemudian mendoakannya agar Allah memberikan kemampuan mengingat. Setelah itu, Abu Hurairah menjadi salah seorang sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis Nabi.

Bayangkan sebuah perjalanan yang awalnya sederhana: mendengar, lalu mengingat,  menjaga dan menyampaikan. Tetapi dari proses itu lahirlah sebuah warisan ilmu yang manfaatnya dirasakan umat Islam hingga berabad-abad setelah Abu Hurairah wafat.

Di situlah kita menemukan hakikat sebuah jejak. Ya jejak kebaikan (bahasa Ustad Muhammad Yasir Yusuf, Jejak Kesalihan).  Tidak semua jejak harus berupa bangunan yang megah atau nama yang besar. Ada jejak yang tidak terlihat, tetapi hidup di dalam pikiran, hati, dan amal manusia lain.

Muhasabah yang baru lalu mengajak kita bertanya tentang karya apa yang lahir dari ilmu yang Allah titipkan kepada kita, maka hari ini pertanyaannya kita lanjutkan: setelah karya itu lahir, apakah ia mampu meninggalkan jejak kebaikan? Sebab karya yang selesai belum tentu berarti; sebuah karya menjadi sangat bernilai ketika manfaatnya terus melampaui usia pembuatnya.

Rasulullah bersabda: “Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim). Hadis populis ini seakan mengajarkan kepada kita tentang kehidupan kedua dari sebuah amal. Nungkin ada amal yang selesai ketika kita selesai mengerjakannya. Tetapi ada amal yang terus tumbuh setelah kita tidak lagi berada di dunia: ilmu yang bermanfaat, kebaikan yang diwariskan, dan generasi yang meneruskan nilai-nilai kebajikan. Maka orang berilmu seharusnya tidak hanya berpikir tentang hari ini, tetapi juga tentang hari setelah dirinya tiada. Apa yang akan tersisa ketika usia selesai? Rumah mungkin ditempati orang lain. Jabatan akan berpindah. Harta akan diwariskan. Gelar akan tertinggal di belakang nama. Tetapi ilmu yang bermanfaat dapat terus hidup melalui orang-orang yang pernah belajar kepada kita.

Inilah salah satu makna mendalam dari meneladani Rasulullah. Beliau wafat lebih dari empat belas abad yang lalu, tetapi ajaran, akhlak, sunnah, dan keteladanannya masih hidup dan diuri-uri oleh antar generasi. Jutaan manusia hingga hari ini membaca Al-Qur'an yang beliau sampaikan, mempelajari hadis yang beliau ajarkan, meneladani akhlaknya, menyebut namanya dan bershalawat kepadanya. Usia manusia itu terbatas, tetapi kebaikan yang diwariskan dapat menembus batas usia. 

Karena itu, ilmu seharusnya membuat seseorang berpikir secara generatif. Ia tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan?”, tetapi juga, “Siapa yang bisa saya siapkan agar kelak mampu melanjutkan kebaikan ini?” Seorang guru tidak cukup hanya menyampaikan materi; ia harus melahirkan murid yang kelak mampu menjadi guru. Seorang pemimpin tidak cukup melaksanakan program; ia harus menyiapkan generasi yang mampu meneruskannya. Seorang ulama tidak cukup menulis kitab; ia perlu melahirkan orang-orang yang mampu memahami, mengembangkan, dan mengamalkan ilmu tersebut. Di sinilah ilmu berubah menjadi warisan peradaban.

Sebuah buku dapat menjadi warisan. Sebuah penelitian dapat menjadi warisan. Sebuah lembaga dapat menjadi warisan. Sebush karya dapat menjadi warisan. Tetapi yang paling berharga adalah ketika semua itu melahirkan manusia-manusia baik yang kemudian menjadi energi kebaikan yanh terus melahirkan kebaikan-kebaikan berikutnya.

Bukankah Rasulullah membangun para sahabat bukan hanya agar mereka menjadi pengikut beliau, tetapi agar mereka menjadi pembawa risalah setelah beliau? Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Mu'adz, Ibnu Abbas, Aisyah, Abu Hurairah, dan para sahabat lainnya kemudian menjadi mata rantai yang menyampaikan ilmu dan nilai Islam kepada generasi berikutnya. Mereka ini adalah bukti bahwa keteladanan yang baik melahirkan keteladanan baru.

Karena itu, semangat kita pada muhasabah  bukan sekadar menghasilkan karya, tetapi menanam kebaikan yang dapat tumbuh setelah kita tiada. Kita tidak perlu terlalu sibuk memastikan nama kita dikenang. Yang lebih penting adalah memastikan kebaikan kita diteruskan.

Ada perbedaan yang sangat mendasar antara ingin dikenang dan ingin bermanfaat. Orang yang ingin dikenang bertanya, “Apakah nama saya masih disebut?” Orang yang ingin bermanfaat bertanya, “Apakah kebaikan saya masih berjalan?” Yang pertama berorientasi kepada nama. Yang kedua berorientasi kepada Allah. Maka jangan kecewa jika suatu hari orang lupa siapa yang mengajarkan sebuah kebaikan kepada mereka. Jangan bersedih jika nama kita tidak tercantum dalam sejarah. Bisa jadi justru itulah keikhlasan yang sesungguhnya: kita tidak harus dikenal, tetapi kebaikan kita terus dikenal oleh Allah.

Mari kita bermuhasabah: jika suatu saat kelak Allah memanggil kita, apa yang akan tertinggal? Apakah hanya harta, jabatan, gelar, dan benda-benda duniawi? Ataukah ada ilmu yang pernah kita ajarkan, ada hati yang pernah kita kuatkan, ada murid yang pernah kita bimbing, ada mahasiswa yang kita notivasi, ada buku yang pernah kita tulis, ada kebaikan yang pernah kita mulai, dan apa ada orang yang kemudian meneruskannya?

Pertanyaan itu bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk mengingatkan bahwa hidup terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk meninggalkan benda. Alangkah indah jika kita dapat meninggalkan nilai. Lebih indah lagi jika nilai itu berubah menjadi amal. Dan lebih indah lagi jika amal itu melahirkan amal baru pada generasi berikutnya.

Pada akhirnya, bahagia berilmu bukan ketika kita berhasil membuat orang lain mengingat nama kita, tetapi ketika ilmu yang Allah titipkan kepada kita terus melahirkan kebaikan meskipun suatu hari kita sudah tidak ada. Itulah jejak yang paling indah: tidak selalu terlihat oleh mata, tetapi terus tumbuh dalam kehidupan manusia dan menjadi bekal ketika kita menghadap Allah. Semoga

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama