Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.098
Kamis, 21 Rabiul Awal 1448
Bahagia, Sejahtera Menyejahterakan
Saudaraku, pada periode Madinah, Rasulullah tidak hanya mengajarkan ibadah kepada para sahabat, tetapi juga membangun sebuah masyarakat yang memiliki tatanan kehidupan modern. Masjid dibangun sebagai pusat kehidupan, persaudaraan Muhajirin dan Ansar diperkokoh, kegiatan ekonomi masyarakat diperhatikan, dan kaum Muslimin didorong untuk bekerja serta memiliki kemandirian.
Kisah populis tentang Abdurrahman bin Auf yang minta ditunjukkan pasar memberikan pelajaran bahwa bekerja, kemandirian dan kedermawanan menjadi sangat penting. Dan kesejahteraan dalam Islam bukan sekadar persoalan memiliki harta, tetapi tentang kemampuan membangun kehidupan yang bermartabat sekaligus menghadirkan manfaat bagi orang lain. Ia tidak hanya ingin menjadi orang yang sejahtera, tetapi menjadikan kesejahteraannya sebagai jalan untuk menyejahterakan sesama. Kekayaan yang berada di tangannya tidak berhenti menjadi milik pribadi tetapi juga mengalir menjadi sedekah, pembiayaan perjuangan, bantuan kepada kaum miskin, dan berbagai kemaslahatan umat lainnya.
Muhasabah yang baru lalu telah mengajarkan kita bahwa bahagia memiliki ilmu adalah ketika mampu melayani. Hari ini kita melangkah satu tingkat lebih jauh: pelayanan yang baik hendaknya tidak hanya menyelesaikan persoalan sesaat, tetapi juga membangun kemandirian dan kesejahteraan. Memberi makan orang lapar adalah kebaikan; tetapi mengajarkan keterampilan agar ia mampu mencari nafkah sendiri adalah kebaikan yang lebih berkelanjutan. Membantu seseorang ketika jatuh adalah mulia; tetapi membantu agar mampu berdiri dan berjalan dengan kekuatannya sendiri adalah bentuk pelayanan yang lebih membahagiakan.
Di sinilah ilmu memainkan peranan yang sangat penting. Ilmu membuat manusia mampu mengubah potensi menjadi produksi, masalah menjadi peluang, dan keterbatasan menjadi kekuatan. Dengan ilmu, seseorang dapat bekerja lebih baik, mengelola sumber daya dengan lebih bijaksana, mengembangkan usaha, menciptakan teknologi, memperbaiki pendidikan, meningkatkan kesehatan, membangun lembaga, dan menciptakan lapangan pekerjaan. Karena itu, ilmu bukan hanya jalan menuju kepandaian, tetapi juga salah satu jalan menuju kesejahteraan.
Allah berfirman: Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.” ?QS. at-Taubah: 105). Ayat ini mengingatkan bahwa iman dan ilmu tidak boleh membuat kita pasif. Ada perintah untuk bekerja. Islam tidak memuliakan kemiskinan yang lahir dari kemalasan, sebagaimana Islam juga tidak memuliakan kekayaan yang lahir dari kezhaliman. Tapi yang dimuliakan adalah manusia yang bekerja dengan cara yang halal, mengembangkan kemampuan, memenuhi kebutuhan dirinya, lalu menggunakan kelebihan yang Allah berikan untuk kemaslahatan.
Rasulullah sendiri memberikan teladan bahwa tangan yang bekerja memiliki kemuliaan. Beliau mengajarkan umatnya untuk berusaha dan tidak menggantungkan hidup kepada orang lain tanpa kebutuhan yang dibenarkan. Bahkan dalam sebuah hadis disebutkan bahwa makanan terbaik yang dimakan seseorang adalah hasil dari pekerjaan tangannya sendiri. Pesannya sangat jelas: kemandirian adalah bagian dari kemuliaan.
Karena itu, orang berilmu hendaknya memiliki mentalitas produktif, bukan konsumtif semata. Ia tidak hanya bertanya, “Apa yang dapat saya dapatkan?” tetapi juga, “Apa yang dapat saya hasilkan?” Ia tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi bila memiliki kemampuan, ia juga berusaha menciptakan pekerjaan. Ia tidak hanya mencari kesejahteraan bagi keluarganya, tetapi berpikir bagaimana kesejahteraan itu dapat memberikan ruang hidup bagi orang lain.
Inilah yang kita lihat pada Abdurrahman bin Auf. Ia memiliki kekayaan, tetapi kekayaan itu tidak membuatnya jauh dari Allah. Justru semakin luas rezekinya, semakin luas pula manfaat yang diberikannya. Ia adalah contoh bahwa sejahtera dan saleh bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Seseorang dapat kaya sekaligus zuhud; kaya secara materi, tetapi hatinya tidak diperbudak oleh materi.
Kesejahteraan yang sejati juga tidak boleh hanya diukur dari banyaknya harta. Ada sejahtera ilmu, ketika pikiran tercerahkan semakin dekat dengan Allah. Ada sejahtera iman, ketika hati memiliki ketenangan. Ada sejahtera keluarga, ketika rumah dipenuhi kasih sayang. Ada sejahtera sosial, ketika manusia dapat hidup aman dan saling membantu. Ada sejahtera ekonomi, ketika kebutuhan hidup terpenuhi secara halal dan bermartabat. Dan semuanya bermuara pada satu tujuan: memperoleh kehidupan yang baik di dunia dan kebahagiaan di akhirat.
Karena itu, meneladani Rasulullah berarti membangun kesejahteraan yang tidak tercerabut dari nilai-nilai Ilahi. Kesejahteraan tidak boleh dibangun dengan riba, penipuan, korupsi, eksploitasi, atau mengambil hak orang lain. Sebab kesejahteraan yang dibangun di atas penderitaan orang lain pada hakikatnya bukan kesejahteraan, melainkan kezaliman yang dikemas sebagai kemajuan.
Ilmu membuat kita mampu membedakan keduanya. Orang berilmu memahami bahwa tidak semua yang menguntungkan itu baik, dan tidak semua yang menghasilkan banyak uang itu halal. Ia tahu bahwa keberkahan lebih penting daripada sekadar jumlah. Sedikit tetapi halal dan berkah jauh lebih menenteramkan daripada banyak tetapi merusak hati dan kehidupan.
Di sinilah hubungan antara ilmu, iman, amal, dan kesejahteraan menjadi sangat indah. Ilmu memberikan kemampuan. Iman memberikan arah. Amal mewujudkan kemampuan itu. Dan ketika ilmu, iman, serta amal berjalan bersama, lahirlah kemaslahatan. Kemaslahatan itulah yang kemudian menghadirkan kesejahteraan bagi diri dan sesama.
Maka orang berilmu hendaknya tidak puas hanya dengan menjadi orang yang berhasil. Ia perlu berusaha menjadi orang yang membuat orang lain berhasil. Tidak cukup menjadi orang yang sejahtera; tapi perlu menjadi sebab orang lain ikut sejahtera. Tidak cukup memiliki rumah yang baik; ia ikut memikirkan mereka yang belum memiliki tempat tinggal layak. Tidak cukup memiliki pendidikan tinggi; tapi membuka akses agar orang lain dapat belajar. Tidak cukup memiliki usaha yang maju; tapi membuka kesempatan kerja bagi orang lain. Inilah makna “sejahtera-menyejahterakan.”
Sejahtera tidak berhenti pada “aku”, tetapi bergerak menuju “kita.” Sebab manusia yang hanya memikirkan kesejahteraan dirinya akan berhenti pada kesuksesan pribadi. Tetapi manusia yang berpikir tentang kesejahteraan sesama akan bergerak menuju peradaban.
Bukankah Rasulullah ketika membangun Madinah sedang melakukan hal yang demikian? Beliau tidak hanya membangun individu-individu saleh, tetapi membangun masyarakat yang memiliki solidaritas, ekonomi, pendidikan, hukum, keamanan, dan kehidupan bersama yang berkeadaban. Karena itu, meneladani Nabi pada hari ini berarti menghadirkan ilmu yang mampu menjawab persoalan kehidupan nyata.
Mari kita bermuhasabah: apakah ilmu yang kita miliki sudah membuat kehidupan kita lebih baik? Apakah ia membantu keluarga kita menjadi lebih mandiri? Apakah ilmu kita membuka peluang bagi orang lain? Apakah pekerjaan kita memberikan manfaat? Apakah keberhasilan kita menciptakan ruang bagi keberhasilan orang lain? Ataukah ilmu kita hanya menambah gelar, tetapi belum banyak mengubah kehidupan?
Jangan sampai kita menjadi manusia yang berilmu tetapi tidak produktif, bekerja tetapi tidak memberi manfaat, kaya tetapi tidak peduli, atau sukses tetapi tidak menyejahterakan. Sebab ukuran keberhasilan seorang mukmin bukan hanya berapa tinggi ia naik, tetapi juga berapa banyak orang yang ia angkat bersama-sama.
Pada akhirnya, bahagia berilmu bukan sekadar ketika kita mampu memenuhi kebutuhan diri, tetapi ketika keberadaan kita menjadi sebab terpenuhinya kebutuhan orang lain. Kita bekerja agar keluarga sejahtera, belajar agar mampu berkarya, berkarya agar bermanfaat, dan memperoleh rezeki agar dapat berbagi. Inilah kesejahteraan yang memiliki ruh ibadah. Aamiin