Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.109
Selasa, 3 Rabiul Tsani 1448
Bahagia Hati Lapang
Saudaraku, setelah diingatkan tentang bahagia berilmu bisa bersyukur dalam setiap keadaan dalam muhasabah yang baru lalu, kini kita diajak untuk melangkah lebih dalam, yaitu bahagia bersyukur dengan hati yang lapang. Ya, syukur yang sebenarnya bukan hanya kemampuan mengucapkan alhamdulillah atas apa yang kita terima, tetapi juga kemampuan menerima ketetapan Allah dengan hati yang luas tanpa terus-menerus dipenuhi keluhan.
Ya, hati manusia sering kali menjadi sempit bukan karena sedikitnya nikmat, melainkan karena terlalu banyaknya keinginan. Ketika yang diharapkan belum diperoleh, kita merasa kurang. Ketika yang dimiliki tidak sesuai dengan yang diinginkan, kita merasa kecewa. Bahkan ketika nikmat yang besar telah berada di tangan, perhatian kita masih tertuju kepada sesuatu yang belum ada. Akibatnya, banyak nikmat yang sebenarnya sudah memenuhi kehidupan justru tidak sempat kita syukuri. Padahal Allah mengingatkan: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nahl 18)»
Betapa banyak nikmat yang hadir tanpa kita minta dan bahkan tanpa kita sadari. Kita tidak pernah berdoa secara khusus agar jantung berdetak sepanjang hari, tetapi ia terus beraktivitas untuk kita. Kita tidak selalu meminta agar udara dapat dihirup dengan mudah, tetapi Allah terus memberikannya dengan cuma-cuma. Kita sering lupa memohon agar orang-orang yang kita cintai tetap hadir dalam kehidupan, tetapi Allah masih mempertemukan kita dengan mereka. Bahkan kesempatan untuk bangun dini hari, beribadah, bekerja, mengajar, belajar, dan memperbaiki kesalahan merupakan nikmat yang tidak ternilai.
Karena itu, hati yang lapang adalah hati yang mampu melihat nikmat di balik semua pernak pernik kehidupan yang kita jalani. Ia tidak menunggu memiliki banyak untuk bersyukur. Ia tidak menunggu semua keinginannya terpenuhi untuk merasa cukup. Ia mampu menikmati apa yang ada, sambil tetap berikhtiar terhadap apa yang belum ada.
Rasulullah mengajarkan kepada kita doa yang sangat indah: «Ø§Ù„Ù„َّÙ‡ُÙ…َّ اجْعَÙ„ْ رِزْÙ‚َ آلِ Ù…ُØَÙ…َّدٍ Ù‚ُوتًا
“Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad sekadar mencukupi.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)» Hadis ini memberikan pelajaran penting bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada banyaknya sesuatu yang dimiliki. Ada kebahagiaan dalam kecukupan. Ada ketenangan dalam kesederhanaan. Ada keluasan hati ketika seseorang tidak menjadikan dunia sebagai ukuran utama kebahagiaannya.
Hati yang lapang bukan berarti tidak mempunyai cita-cita. Bukan pula berarti berhenti berusaha untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Justru orang yang hatinya lapang dapat berusaha dengan sungguh-sungguh tanpa diperbudak oleh hasil. Ia bekerja, tetapi tidak menggantungkan seluruh kebahagiaannya kepada pekerjaan. Ia berusaha memperoleh harta, tetapi tidak menjadikan harta sebagai ukuran harga dirinya. Ia mengejar prestasi, tetapi tidak merasa lebih mulia daripada orang lain ketika berhasil.
Di sinilah ilmu kembali mengambil peran penting. Ilmu mengajarkan bahwa manusia hanya memiliki kewajiban untuk berikhtiar, sedangkan hasil akhirnya berada dalam ketentuan Allah. Ilmu juga mengajarkan bahwa kehidupan ini bukan perlombaan untuk memiliki segala sesuatu, melainkan perjalanan untuk menjadi hamba yang semakin baik.
Hati yang lapang juga membuat seseorang mudah menerima kelebihan orang lain. Ia tidak merasa gelisah ketika melihat saudaranya memperoleh rezeki lebih banyak. Ia tidak iri ketika orang lain mendapatkan jabatan lebih tinggi. Ia tidak merasa kehilangan kemuliaan ketika orang lain lebih dahulu berhasil. Sebaliknya, ia mampu berkata dalam hati, “Itu rezekinya dari Allah, dan Allah juga telah memberikan bagian terbaik kepadaku.”
Inilah salah satu bentuk syukur yang paling halus. Kita tidak hanya bersyukur atas apa yang kita punya, tetapi juga tidak merasa terganggu oleh apa yang Allah berikan kepada orang lain. Sebab hati yang sempit selalu menghitung milik orang lain, sedangkan hati yang lapang sibuk mensyukuri amanah yang Allah titipkan kepadanya.
Maka, seyogyanya kita mengukur kebahagiaan dengan panjangnya daftar keinginan yang telah terpenuhi. Kita ukur dengan sejauh mana hati kita mampu menerima, mensyukuri, dan menikmati karunia Allah. Boleh jadi yang membuat kita bahagia bukan karena nikmat kita bertambah, tetapi karena hati kita semakin luas dalam menerimanya.
Bukankah sering kali yang kita perlukan bukan tambahan nikmat, tetapi tambahan kemampuan untuk menyadari nikmat? Bukan selalu lebih banyak yang harus kita miliki, tetapi lebih luas hati yang harus kita miliki. Sebab nikmat yang banyak tanpa rasa syukur dapat terasa sedikit, sementara nikmat yang sedikit dengan hati yang bersyukur dapat terasa begitu cukup.
Sudahkah hati kita cukup lapang untuk mensyukuri apa yang ada? Sudahkah kita mampu menerima ketetapan Allah tanpa terus membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain? Ketika sesuatu belum kita miliki, apakah kita masih mampu menikmati apa yang telah Allah titipkan?
Bahagia itu ketika hati tidak sibuk menghitung kekurangan, karena ia terlalu sibuk mensyukuri begitu banyak karunia Allah. Semoga Allah melapangkan hati kita untuk menerima ketetapan-Nya, mencukupkan kita dengan rezeki yang halal dan berkah, serta menjadikan kita hamba yang mampu bersyukur dalam kelapangan maupun kesederhanaan. Aamiin