Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.124
Selasa, 18 Rabiul Tsani 1448
Bahagia Bisa Memaafkan Diri Sendiri
Saudaraku, setelah diingatkan tentang bahagia bisa belajar dari kesalahan dalam muhasabah yang baru lalu, kini kita melangkah lagi pada bahagia bisa memaafkan diri dan melanjutkan kebaikan. Setelah kesalahan disesali, diperbaiki, dan dijadikan pelajaran, kita tidak seharusnya terus-menerus menghukum diri dengan masa lalu.
Ada orang yang sudah bertaubat, sudah meminta maaf, sudah memperbaiki kesalahan, bahkan sudah berusaha tidak mengulanginya, tetapi hatinya masih terus terbebani dengan masa lalu. Akhirnya, masa lalu yang seharusnya menjadi pelajaran berubah menjadi beban. Ia sulit menikmati hari ini karena terus hidup di antara bayang-bayang masa silam.
Padahal Allah menghendaki kita kembali kepada-Nya dengan harapan, bukan dengan keputusasaan. Allah berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. az-Zumar [39]: 53)
Ayat ini mengajarkan bahwa sebesar apa pun kesalahan masa lalu, rahmat Allah lebih luas. Jika Allah telah membuka pintu taubat, maka tidak elok kita menutup sendiri dengan keputusasaan. Jika Allah telah memberi kesempatan memperbaiki diri, tidak bijak kita menyia-nyiakannya dengan terus membenci diri sendiri.
Tapi, tentu memaafkan diri bukan berarti membenarkan kesalahan. Memaafkan diri berarti menerima bahwa kita pernah salah, mengambil pelajarannya, memperbaiki apa yang masih dapat diperbaiki, kemudian memberi kesempatan kepada diri untuk tumbuh menjadi lebih baik.
Sebab boleh jadi ada hikmah yang baru terlihat setelah perjalanan menjadi lebih panjang. Kesalahan membuat kita mengenal kelemahan diri. Kegagalan mengajarkan kesabaran. Kehilangan mengajarkan penghargaan. Penyesalan mengajarkan kehati-hatian. Dan pengalaman pahit kadang membuat hati lebih lembut terhadap penderitaan orang lain.
Saudaraku, hidup di dunia ini terlalu singkat jika seluruh energi kita habiskan untuk menyesali sesuatu yang tidak mungkin dikembalikan. Idealnya yang telah berlalu biarlah menjadi sejarah, yang belum datang biarlah menjadi rahasia Allah, dan yang ada di tangan kita adalah hari ini. Maka setelah bertaubat, kita bekerja, berikhtiar menjadi lebih baik. Setelah meminta maaf, kita memperbaiki. Setelah belajar dari kesalahan, kita melangkah. Setelah jatuh, kita bangkit. Kita tidak berhenti pada penyesalan ketika Allah masih memberi kita kesempatan untuk melakukan kebaikan.
Bukankah bisa jadi amal shalih yang kita lakukan hari ini justru menjadi sebab Allah mengangkat derajat kita? Bukankah orang yang dahulu pernah salah dapat menjadi orang yang kemudian banyak memberi manfaat? Bukankah seseorang yang pernah merasakan pahitnya kesalahan dapat menjadi lebih bijaksana dalam membimbing orang lain? Karena itu, kita tidak membiarkan masa lalu menghalangi masa depan. Kita tidak dapat mengubah apa yang sudah terjadi, tetapi kita masih dapat menentukan apa yang akan kita lakukan setelahnya.
Memaafkan diri juga berarti tidak menjadikan kesalahan masa lalu sebagai alasan untuk larut dalam penyesalan tapi sebagai pelajaran. Inilah perbedaan antara menerima masa lalu dan menyerah kepadanya. Maka jjika Allah saja membuka pintu ampunan bagi hamba-Nya yang sungguh-sungguh bertaubat, mengapa kita tidak belajar membuka pintu harapan bagi diri sendiri? Jika Allah masih memberi umur, itu berarti masih ada kesempatan. Jika Allah masih memberi kesehatan, itu berarti masih ada kesempatan. Jika Allah masih memberi ilmu, itu berarti masih ada kesempatan. Jika Allah masih memberi waktu, itu berarti masih ada kesempatan. Jadi, bahagia itu bukan karena kita tidak pernah salah. Bahagia adalah ketika kita pernah salah, lalu Allah memberi kita kesadaran untuk bertaubat, kekuatan untuk memperbaiki, kebijaksanaan untuk belajar, dan kesempatan untuk melanjutkan kebaikan.