Bahagia Bisa Memperbaiki Diri

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.119
Kamis Puasa Hari Putih Ayyamul Bidh Ke-1, 13 Rabiul Tsani 1448

Bahagia Bisa Memperbaiki Diri
Saudaraku, setelah diingatkan tentang bahagia bersyukur bisa bertaubat dalam muhasabah yang baru lalu, kini kita diajak menyadari bahwa salah satu nikmat terbesar setelah taubat adalah kesempatan untuk memperbaiki diri. Ya, hidup semestinya tidak berhenti pada kesalahan yang pernah kita lakukan. Selama Allah masih memberikan umur, masih ada hari esok, masih ada kesehatan, akal, ilmu, iman dan kesempatan, berarti masih ada ruang untuk memperbaiki agar menjadi lebih baik.

Ada orang yang ketika mengingat masa lalunya hanya melihat kesalahan. Ia berkata dalam hati, “Seandainya waktu dapat diulang, saya tidak akan melakukan itu.” atau “Seandainya waktu dapat diputar, saya akan melakukan yang baik-baik saja” Memang masa lalu tidak mungkin dikembalikan. Tetapi Allah memberikan sesuatu yang tidak kalah berharga, yaitu kesempatan untuk memperbaiki apa yang masih dapat diperbaiki. Allah berfirman: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra‘d 11)»

Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan kehidupan berawal dari perubahan diri. Tidak cukup hanya berharap keadaan menjadi lebih baik; kita juga perlu memperbaiki cara berpikir, cara bersikap, cara berbicara, cara bekerja, cara beribadah, dan cara memperlakukan sesama.

Maka, semestinya kita tidak meremehkan perubahan kecil. Bisa jadi hari ini kita belum mampu menjadi orang yang sangat dermawan, tetapi kita dapat mulai berbagi sesuai kemampuan. Kita belum mampu membaca Al-Qur’an dalam jumlah banyak, tetapi kita dapat membiasakan lembaran demi lembaran setiap hari. Kita belum mampu menjadi orang yang selalu sabar, tetapi kita dapat belajar menahan satu kemarahan hari ini. Kita belum mampu mengubah seluruh kebiasaan buruk sekaligus, tetapi kita dapat meninggalkan satu kebiasaan buruk dan menggantinya dengan satu kebiasaan baik.

Perbaikan diri tidak selalu dimulai dengan langkah besar; sering kali ia tumbuh dari kesetiaan terhadap langkah kecil yang dilakukan terus-menerus. Rasulullah bersabda: Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang paling terus-menerus, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)»

Karena itu, kita tidak menunggu menjadi sempurna untuk mulai berubah. Tidak berkata, “Nanti kalau sudah siap saya akan memperbaiki diri.” Sebab kesiapan sering kali justru lahir setelah kita memulai. Kita belajar sambil berjalan, memperbaiki diri sambil menjalani kehidupan, dan bertumbuh melalui pengalaman.

Jika dahulu kita mudah marah, hari ini kita belajar lebih tenang. Jika dahulu mudah menghakimi, hari ini kita belajar memahami. Jika dahulu mudah berbicara tanpa berpikir, hari ini kita belajar menjaga lisan. Jika dahulu sulit meminta maaf, hari ini kita belajar merendahkan hati. Jika dahulu mudah melihat kekurangan orang lain, hari ini kita belajar melihat kekurangan diri sendiri.

Jika dahulu waktu banyak terbuang, hari ini kita mulai mendisiplinkannya. Jika dahulu shalat sering ditunda, hari ini kita berusaha menjaganya di awal waktu dan berjamaah. Jika dahulu belajar hanya ketika membutuhkan, hari ini kita membangun kebiasaan membaca dan menuntut ilmu. Jika dahulu ilmu berhenti sebagai pengetahuan, hari ini kita berusaha menjadikannya amal dan manfaat. Inilah indahnya kesempatan memperbaiki diri. Allah tidak menuntut kita menjadi manusia tanpa kekurangan, tetapi menuntun kita agar tidak berhenti memperbaiki kekurangan.

Di samping itu sebaiknya kita juga tidak sibuk melihat perubahan orang lain. Kita tidak bertugas mengubah semua orang. Kita bertanggung jawab pertama-tama atas diri sendiri. Tugas kita adalah terus memperbaiki hubungan dengan Allah, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan memperbaiki cara kita menjalani amanah kehidupan.

Bahkan ketika perubahan kita belum terlihat oleh banyak orang, tidak perlu berkecil hati. Ada amal yang tumbuh dalam kesunyian. Ada perjuangan batin yang tidak diketahui siapa pun. Ada kebiasaan baik yang perlahan-lahan menjadi karakter. Ada dosa yang berhasil kita tinggalkan meskipun tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.

Dan boleh jadi, perubahan yang paling besar justru terjadi di tempat yang paling sunyi: di dalam hati. Maka bersyukurlah jika hari ini kita mampu mengenali kesalahan yang kemarin belum kita sadari. Bersyukurlah jika hari ini kita lebih mudah meminta maaf. Bersyukurlah jika hati mulai tidak nyaman melakukan dosa. Bersyukurlah jika kita mulai rindu kepada Al-Qur’an, shalat, majelis ilmu, sedekah, silaturahmi, dan amal-amal kebajikan. Semua itu bisa menjadi tanda bahwa Allah sedang membuka jalan perbaikan bagi kita.

Saudaraku, jangan berkata, “Saya sudah tua untuk berubah.” Jangan pula berkata, “Saya sudah terlanjur seperti ini.” Selama napas masih ada, pintu perbaikan belum tertutup. Bahkan seseorang yang baru memperbaiki dirinya di penghujung kehidupan tetap lebih baik daripada seseorang yang tidak pernah mau memperbaiki diri.

Hari kemarin telah menjadi sejarah. Hari esok masih menjadi rahasia. Dan yang kita miliki hanyalah hari ini. Maka jangan sia-siakan hari ini dengan terus menyesali kemarin dan terlalu cemas terhadap esok. Gunakan hari ini untuk memperbaiki satu hal, melakukan satu kebaikan, meninggalkan satu keburukan, dan mendekat satu langkah kepada Allah. Bahagia bersyukur adalah ketika kita menyadari bahwa setiap pagi merupakan kesempatan baru dari Allah untuk menjadi manusia yang lebih baik daripada kemarin.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama