Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.125
Rabu, 19 Rabiul Tsani 1448
Bahagia Tidak Menunda-Nunda Kebaikan
Saudaraku, setelah diingatkan tentang bahagia bisa memaafkan diri dan melanjutkan kebaikan dalam muhasabah yang baru lalu, kini kita mengulang kembali tentang tuntunan untuk tidak menunda-nunda kebaikan. Bukankah hidup terus berjalan, waktu di sini di dunia ini terus berkurang, dan kesempatan yang datang hari ini belum tentu kembali pada esok hari?
Bila masih sering berkata, “Nanti saja.” Nanti saja shalatnya, nanti saja membaca Al-Qur’an, nanti saja bersedekah, nanti saja bersilaturahmi, nanti saja meminta maaf, nanti saja belajar, nanti saja membantu, nanti saja memperbaiki diri, nanti saja taubatnya. Padahal “nanti” merupakan kata yang tampak sederhana, tetapi dapat menjadi tempat bersembunyinya banyak kesempatan yang akhirnya tidak pernah terlaksana.
Maka kita mesti ingat bahwa Allah telah menuntun: Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. al-Baqarah 148). Titah untuk berlomba dalam kebaikan menunjukkan bahwa kebaikan tidak semestinya hanya menjadi niat atau rencana. Ia perlu segera diwujudkan. Sebab kesempatan berbuat baik memiliki batas waktu. Ketika kesempatan itu berlalu, belum tentu Allah menghadirkannya kembali dalam bentuk yang sama.
Jika hari ini ada kesempatan meminta maaf, tidak elok menunggu sampai esok lusa. Jika ada orang tua yang masih dapat kita bahagiakan, maka membahagiakannya selagi masih ada waktu adalah kemuliaan. Jika ada saudara yang sedang membutuhkan bantuan, maka membantu sesuai kemampuan adalah kemuliaan. Jika ada ilmu yang dapat dipelajari, maka belajar merupakan keharusan. Jika ada ilmu yang dapat diajarkan, maka mengajarkan adalah keluhuran. Jika ada rezeki yang dapat dibagikan, maka berbagi adalah kemuliaan.
Bahkan kebaikan yang tampak kecil sekalipun, tidak elok bila diremehkan. Senyum kepada sesama, menjawab salam, menyingkirkan sesuatu yang mengganggu jalan, berkata lembut, mendengarkan orang lain dengan baik, mendoakan saudara, memberi makan, memudahkan urusan orang, dan menahan diri dari menyakiti semuanya dapat menjadi amal yang bernilai di sisi Allah. Rasulullah bersabda: Janganlah engkau meremehkan sedikit pun suatu kebaikan.” (HR. Muslim)
Kadang kita menunggu melakukan kebaikan besar sehingga lupa melakukan kebaikan kecil yang sebenarnya sudah ada di hadapan mata. Kita menunggu memiliki banyak harta untuk bersedekah, padahal ada orang yang membutuhkan perhatian. Kita menunggu memiliki ilmu yang tinggi untuk berbagi, padahal ada pengetahuan sederhana yang bermanfaat bagi orang lain. Kita menunggu waktu luang untuk membaca Al-Qur’an, padahal beberapa ayat dapat dibaca dalam waktu yang singkat. Ya, kebaikan tidak selalu membutuhkan kesempatan yang besar; sering kali ia hanya membutuhkan hati yang peka terhadap kesempatan kecil.
Saudaraku, apalagi menunda taubat. Sebaiknya tidak berkata, “Nanti kalau sudah tua saya akan lebih rajin beribadah.” Kita tidak tahu apakah usia tua itu akan sampai kepada kita. Atau berkata, “Nanti kalau sudah lapang saya akan bersedekah.” Kita tidak tahu kapan kelapangan datang. Atau berkata, “Nanti kalau sudah selesai semua pekerjaan saya akan mendekatkan diri kepada Allah.” Sebab pekerjaan manusia tidak pernah benar-benar selesai. Yang kita miliki hanyalah waktu yang sedang dijalani. Maka kita gunakan dengan sebaik-baiknya.
Allah berfirman: “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu, niscaya aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’” (QS. al-Munāfiqūn 10). Ayat ini mengingatkan kita bahwa kelak manusia akan berharap mendapatkan tambahan waktu bukan untuk mengejar dunia, tetapi untuk melakukan kebaikan. Maka sungguh bijaksana apabila sebelum kesempatan itu menjadi penyesalan, kita menggunakan waktu yang ada untuk beramal.
Saudaraku, setelah kemarin kita belajar memaafkan diri dan melanjutkan kebaikan, hari ini jangan hanya melanjutkan, segerakan kebaikan itu. Jika ada satu amal yang sudah lama kita niatkan, maka kita mulai hari ini. Jika ada satu keburukan yang ingin ditinggalkan, maka kita tinggalkan hari ini juga. Jika ada satu orang yang ingin kita bahagiakan, kita bahagiakan hari ini.
Sebab bisa jadi, kebaikan yang kita tunda hari ini adalah kebaikan yang sangat dibutuhkan seseorang, sementara kita tidak tahu apakah besok kita masih memiliki kesempatan untuk memberikannya. Maka bahagia itu ketika kita tidak hanya pandai merencanakan kebaikan, tetapi juga segera mengerjakannya. Tidak hanya berniat menjadi lebih baik, tetapi mulai berubah. Tidak hanya mengatakan ingin bermanfaat, tetapi benar-benar menghadirkan manfaat. Semoga