Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.121
Sabtu, Puasa Hari Putih Puncak Ayyamul Bidh, 15 Rabiul Tsani 1448
Bahagia Bisa Mengganti Kesalahan dengan Kesalihan
Saudaraku, setelah diingatkan tentang bahagia bisa menyesali kesalahan dalam muhasabah yang baru lalu, kini kita sampai pada satu langkah yang lebih indah, yaitu bahagia bisa mengganti kesalahan dengan amal shalih. Sebab penyesalan yang paling bermakna bukanlah penyesalan yang hanya membuat hati sedih, tetapi penyesalan yang menggerakkan kaki untuk melangkah menuju kesalihan.
Allah memberikan kabar gembira Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapus kesalahan-kesalahan.”
(QS. Hūd 114). Ayat ini seakan mengajarkan kepada kita bahwa setelah menyadari kesalahan, jangan terlalu lama berdiri di hadapan masa lalu. Segeralah melangkah menuju kesalihan. Jika pernah melakukan keburukan, gantilah dengan kebaikan. Jika pernah melukai, obatilah dengan kasih sayang. Jika pernah menyakiti dengan lisan, perbanyaklah perkataan yang baik. Jika pernah menyia-nyiakan waktu, isi sisa umur dengan amal yang bermanfaat.
Saudaraku, kehidupan ini tidak dapat memutar kembali waktu yang telah berlalu. Andai kita tidak dapat menghapus halaman yang sudah tertulis. Namun, kita masih dapat menulis halaman berikutnya dengan tinta amal shalih. Kesalahan kemarin tidak harus menentukan seluruh perjalanan kita hari ini dan esok.
Rasulullah bersabda: Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya.” (HR. Tirmidzi)». Betapa praktis tuntunan Nabi ini. Setelah tergelincir, segera bangkit. Setelah salah, segera memperbaiki. Setelah lalai, segera kembali. Jangan menunggu hati menjadi sempurna untuk berbuat baik. Justru amal shalih dapat menjadi jalan untuk membersihkan hati dan membangun kembali kekuatan jiwa.
Jika sebelumnya kita lalai menjaga shalat, hari ini kita berusaha lebih disiplin mendirikannya. Jika dahulu sering meninggalkan membaca Al-Qur’an, kini kita mulai menyediakan waktu walaupun beberapa ayat setiap hari. Jika pernah terlalu banyak berbicara yang tidak bermanfaat, kita menggantinya dengan dzikir, membaca, menulis, atau perkataan yang memberi manfaat.
Jika pernah menyakiti orang tua, jangan berhenti pada penyesalan; tapi segera datangi, sapa, bantu, doakan dan muliakan mereka selagi masih ada kesempatan. Jika pernah menyakiti pasangan, jangan hanya berkata “maaf”, tetapi buktikan dengan perubahan sikap. Jika pernah membuat anak merasa kurang diperhatikan, hadirkan waktu untuk mendengarkan dan membersamainya. Jika pernah berselisih dengan saudara atau sahabat, mulailah membuka pintu silaturahmi.
Jika pernah mengambil hak orang lain, kembalikan. Jika pernah berutang, tunaikan. Jika pernah merugikan, berusaha memperbaiki kerugiannya. Jika pernah menyebarkan kabar yang salah, luruskan. Jika pernah menulis atau membuat status yang menyakiti orang lain, jangan mengulanginya dan gunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan.
Begitu pula dengan harta. Jika dahulu harta lebih banyak digunakan untuk kesenangan diri, sekarang sisihkan untuk sedekah. Jika pernah berlebihan dalam membelanjakan sesuatu, belajarlah hidup sederhana dan berbagi. Jika pernah menikmati rezeki tanpa memikirkan orang lain, jadikan sebagian rezeki sebagai jalan menolong mereka yang membutuhkan.
Inilah indahnya amal shalih: ia tidak hanya memperbaiki hubungan kita dengan Allah, tetapi juga dapat memperbaiki hubungan kita dengan sesama.
Namun, Saudaraku, mengganti kesalahan dengan amal shalih bukan berarti dosa kepada manusia cukup ditebus dengan memperbanyak ibadah tanpa menyelesaikan hak manusia. Jika kesalahan menyangkut hak orang lain, maka kita perlu berusaha menyelesaikan hak tersebut: meminta maaf, mengembalikan hak, atau memperbaiki kerugian sejauh yang mampu dilakukan. Setelah itu, perbanyak amal shalih sebagai bukti kesungguhan taubat.
Karena itu, jangan sampai kita rajin beribadah tetapi masih ringan menyakiti orang lain. Jangan sampai kita banyak bersedekah tetapi masih mengambil hak orang. Jangan sampai kita sering membaca Al-Qur’an tetapi lisan masih digunakan untuk merendahkan sesama. Amal shalih yang benar semestinya membuat diri semakin baik akhlaknya.
Hari ini kita berada pada puncak Ayyamul Bidh, hari putih yang kita isi dengan puasa. Alangkah indah apabila putihnya hari juga menjadi momentum untuk memutihkan kembali hati dengan taubat dan amal shalih. Kita menahan makan dan minum, sekaligus belajar menahan marah. Kita menahan hawa nafsu, sekaligus belajar menahan lisan. Kita menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, sekaligus berusaha menahan diri dari hal-hal yang mengotori jiwa.
Mungkin ada kesalahan masa lalu yang tidak dapat kita ubah. Tetapi masih banyak kebaikan masa depan yang dapat kita bangun. Jangan habiskan umur hanya untuk menyesali pintu yang telah tertutup; syukuri pintu kebaikan yang masih terbuka.
Saudaraku, boleh jadi kita pernah memiliki masa lalu yang kurang baik. Tetapi Allah tidak memerintahkan kita untuk tetap tinggal di sana. Kita diperintahkan untuk bertaubat, memperbaiki diri, dan memperbanyak kebaikan. Bahkan bisa jadi seseorang yang pernah jatuh dalam kesalahan, setelah bertaubat dengan sungguh-sungguh, menjadi lebih rendah hati, lebih berhati-hati, lebih penyayang, dan lebih dekat kepada Allah daripada sebelumnya. Maka jangan tanyakan terus, “Mengapa dulu saya melakukan kesalahan itu?” Sesekali tanyakan, “Kebaikan apa yang dapat saya lakukan hari ini untuk membuktikan bahwa saya telah belajar dari kesalahan itu?”
Kesalahan yang sama tidak boleh terus diulang. Penyesalan harus melahirkan perubahan. Taubat harus melahirkan amal. Dan amal shalih harus melahirkan akhlak yang semakin baik.
Bahagia itu ketika kesalahan masa lalu tidak lagi menjadi alasan untuk berputus asa, tetapi menjadi energi untuk memperbanyak amal shalih. Bahagia itu ketika setiap kali teringat pernah salah, kita terdorong untuk melakukan lebih banyak kebaikan.