Bahagia Bisa Menyesali Kesalahan

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.120
Jumat, Puasa Hari Putih Ayyamul Bidh Ke-2, 14 Rabiul Tsani 1448

Bahagia Bisa Menyesali Kesalahan
Saudaraku, ada kalanya seseorang baru menyadari betapa berharganya sesuatu setelah ia kehilangannya. Ada yang baru menyadari betapa berartinya kesehatan setelah jatuh sakit, betapa berharganya orang tua setelah mereka tiada, dan betapa mahalnya waktu setelah kesempatan berlalu. Begitu pula dengan kesalahan. Kadang kita baru benar-benar memahami buruknya sebuah perbuatan setelah hati merasa tidak nyaman mengingatnya. Di sinilah rasa penyesalan itu menyeruak.

Namun, tentu kita tidak selalu memandang bahwa penyesalan sebagai kesedihan. Ada penyesalan yang justru merupakan tanda kebahagiaan karena hati kita masih hidup. Karena hati yang mati tidak lagi akan merasa risau ketika berbuat salah. Sebaliknya, hati yang masih hidup akan gelisah ketika menyadari telah melanggar aturan. Rasulullah bersabda: “Penyesalan adalah taubat.” (HR. Ibnu Majah)»

Betapa singkat hadis di atas, tetapi maknanya amat dalam. Penyesalan dapat menjadi pintu taubat. Ketika seseorang mampu berkata dalam hati, “Ternyata yang saya lakukan itu salah,” sesungguhnya ia sedang berdiri di ambang perubahan. Ia telah mulai melihat dirinya dengan lebih jujur. Karena itu, tidak perlu takut menyesali kesalahan. Dan yang perlu ditakuti justru ketika kita tidak lagi mampu menyesal. Kita juga tidak perlu takut menangis karena dosa masa lalu, yang perlu ditakuti adalah ketika dosa dilakukan berulang kali tetapi hati tidak lagi merasa apa-apa.

Islam mengajarkan bahwa manusia dapat tergelincir, tetapi jangan menetap dalam kesalahan. Ketika orang-orang bertakwa melakukan perbuatan keji atau menzalimi dirinya sendiri, mereka segera mengingat Allah dan memohon ampun atas dosa-dosanya. “Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka.” (QS. Āli ‘Imrān 135)»

Perhatikan, Saudaraku, orang bertakwa bukanlah orang yang tidak pernah salah. Ia adalah orang yang ketika salah segera sadar, segera ingat kepada Allah, segera memohon ampun, dan berusaha memperbaiki diri. Maka penyesalan yang benar tidak berhenti pada kalimat, “Seandainya saya tidak melakukan itu.” Penyesalan harus bergerak menjadi pertanyaan, “Apa yang harus saya lakukan setelah ini?”

Jika pernah salah kepada Allah, kita bertaubat. Jika pernah menyakiti manusia, kita meminta maaf dan memperbaiki hubungan. Jika pernah mengambil hak orang lain, kita mengembalikannya. Jika pernah menyebarkan berita yang tidak benar, kita menghentikannya dan meluruskan sejauh yang kita mampu. Jika pernah menyakiti seseorang dengan lisan, kita belajar menjaga ucapan. Jika pernah menyia-nyiakan waktu, kita mulai mendisiplinkannya. Jika pernah lalai dalam ibadah, kita mulai membangun kembali kedekatan dengan Allah. Dengan demikian, penyesalan bukan kubangan tempat kita tenggelam, tetapi dijadikan pembelajaran menuju kehidupan yang lebih baik.

Saudaraku, ada perbedaan antara menyesali kesalahan dan terus menghukum diri karena kesalahan. Penyesalan membawa kita kepada taubat; menghukum diri tanpa batas dapat membawa kepada keputusasaan. Islam mengajarkan kita untuk jujur terhadap dosa sekaligus optimistis terhadap rahmat Allah. Allah berfirman: “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.’” (QS. az-Zumar 53)»

Maka, apabila hari ini kita mengingat kesalahan masa lalu, jangan hanya menangis karena telah melakukan kesalahan itu. Syukurilah bahwa Allah masih memberi kita kesadaran untuk menyesalinya. Bisa jadi, rasa bersalah yang kita rasakan hari ini adalah rahmat Allah agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama esok hari. Bahkan, kesalahan masa lalu dapat menjadi guru yang sangat mahal. Orang yang pernah jatuh akan lebih berhati-hati ketika berjalan. Orang yang pernah salah memilih akan lebih teliti dalam mengambil keputusan. Orang yang pernah menyakiti akan belajar menjaga perasaan. Orang yang pernah lalai akan lebih menghargai kesempatan. Orang yang pernah jauh dari Allah akan lebih menghargai nikmat kedekatan kepada-Nya.

Karena itu, jangan biarkan masa lalu hanya menjadi luka. Jadikan ia pelajaran. Jangan biarkan dosa hanya menjadi aib. Jadikan ia pintu taubat. Jangan biarkan penyesalan hanya menjadi tangisan. Jadikan ia tenaga untuk memperbaiki kehidupan.

Hari ini kita sedang menjalani puasa sunah Ayyamul Bidh di hari ke-2. Hari-hari putih yang tiga hari (13, 14 dan 15 Rabiul Tsani) ini dapat menjadi momentum untuk membersihkan bukan hanya tubuh dari makan dan minum, tetapi juga hati dari kesalahan, kesombongan, iri, dendam, dan berbagai penyakit jiwa. Perut kita belajar menahan, lisan belajar menjaga, mata belajar menundukkan pandangan, hati belajar mengendalikan keinginan, dan seluruh diri belajar kembali kepada ketaatan. Betapa indah apabila puasa tidak hanya membuat kita lapar dan haus, tetapi juga membuat kita lebih peka terhadap kesalahan dan lebih cepat kembali kepada Allah.

Saudaraku, mungkin ada kesalahan yang sampai hari ini masih kita ingat. Jangan biarkan ingatan itu hanya menjadi sumber kesedihan. Tanyakan kepada diri: Apa yang telah saya pelajari dari kesalahan itu? Siapa yang perlu saya mintai maaf? Hak siapa yang perlu saya kembalikan? Kebiasaan apa yang harus saya tinggalkan? Kebaikan apa yang harus saya perbanyak sebagai bentuk kesungguhan memperbaiki diri?

Bahagia itu ketika hati masih mampu menyesali kesalahan, lisan masih mampu mengucapkan istighfar, kaki masih mampu melangkah menuju kebaikan, dan Allah masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki apa yang pernah kita rusakkan.

Semoga penyesalan kita tidak menjadikan kita putus asa, tetapi menjadikan kita rendah hati. Semoga dosa masa lalu tidak menjadikan kita merasa hina di hadapan manusia, tetapi membuat kita semakin membutuhkan ampunan Allah. Semoga setiap kesalahan menjadi pelajaran, setiap penyesalan menjadi taubat, setiap taubat menjadi perubahan, dan setiap perubahan menjadi jalan menuju ridha-Nya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama