Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.091
Kamis, Ayyāmul Bīḍ Ke-2, 14 Rabiul Awal 1448
Bahagia Memiliki Furqan
Saudaraku, ada sebuah kisah pada masa Rasulullah dimana suatu hari, datang seorang laki-laki kepada Nabi membawa persoalan. Ia menyampaikan suatu berita dengan penuh keyakinan. Para sahabat yang mendengarnya tentu bisa saja langsung mempercayainya, karena berita itu disampaikan dengan cara yang meyakinkan. Namun Rasulullah tidak tergesa-gesa mengambil keputusan hanya berdasarkan apa yang tampak di permukaan. Beliau mendengar, memeriksa, mempertimbangkan, dan menempatkan persoalan pada konteks yang benar.
Inilah salah satu pelajaran penting dari kehidupan Nabi bahwa orang yang berilmu tidak mudah terbawa oleh kesan pertama. Sebab tidak semua yang terdengar adalah suatu kebenaran. Tidak semua yang ramai dibicarakan adalah benar. Tidak semua yang banyak pengikutnya adalah benar. Dan tidak semua yang dikatakan dengan penuh keyakinan benar-benar memiliki dasar kebenaran. Inilah ilmu mengajarkan kita agar tidak tergesa-gesa.
Hari ini kita belajar satu buah ilmu yang sangat penting, yakni furqan atau kemampuan membedakan antara yang hak dan yang bathil. Allah berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS. al-Hujurāt 6).
Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini. Begitu banyak informasi, begitu cepat berita beredar, begitu mudah seseorang membuat komentar, begitu mudah pula kita meneruskan sesuatu hanya karena kita merasa berita itu sesuai dengan apa yang kita sukai. Padahal kesesuaian dengan keinginan bukan ukuran kebenaran.
Nah, orang berilmu memiliki kebiasaan bertanya Benarkah ini? Dari mana sumbernya? Apa pentingnya? Apakah informasinya lengkap dan buktinya? Apakah ada kemungkinan saya salah memahami? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bukan tanda kebodohan. Justru sebaliknya, tanda kedewasaan intelektual. Karena semakin luas ilmu seseorang, semakin ia menyadari bahwa realitas jauh lebih kompleks daripada apa yang tampak di permukaan.
Dan perlu diingat, bahwa tidak semua yang viral layak dipercaya semua. Ya, zaman kita memberikan ujian baru. Dahulu orang mungkin harus berjalan jauh untuk menyebarkan berita. Sekarang sebuah berita dapat sampai kepada ribuan orang dalam hitungan menit. Satu potongan video dapat mengubah persepsi. Satu kalimat tanpa konteks dapat menimbulkan fitnah. Satu komentar dapat melukai kehormatan seseorang. Satu status yang dibuat tanpa berpikir dapat menjadi dosa yang terus beredar. Karena itu, ilmu menjadi rem bagi jari-jari kita. Sebelum membagikan, kita bertanya: Benarkah ini?”Sebelum berkomentar: “Perlukah saya mengatakan ini?” Sebelum menghakimi: Apakah saya mengetahui seluruh persoalannya?” Sebelum menyebarkan tuduhan: Apakah saya memiliki bukti?” inilah ilmu yang berubah menjadi adab digital.
Bagi orang berilmu itu bisa membedakan antara hak dan yang batil meski tidak selalu terlihat jelas. Memang ada kebatilan yang jelas, tetapi ada pula kebatilan yang dibungkus dengan bahasa kebenaran. Ada kebohongan yang disampaikan dengan sangat meyakinkan. Ada kesalahan yang dibungkus dengan data. Ada kepentingan yang disamarkan sebagai perjuangan. Ada ego yang memakai pakaian agama. Ada hawa nafsu yang mengatasnamakan kebebasan.
Karena itu Allah memberikan kepada orang beriman kemampuan yang lebih dalam daripada sekadar pengetahuan, yaitu furqān kemampuan membedakan. Allah berfirman “Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan.” (QS. al-Anfāl 29). Menarik sekali, bukan? takwa melahirkan furqān. Artinya, kejernihan dalam membedakan tidak hanya lahir dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari kebersihan hati dan kedekatan kepada Allah.
Pada akhirnya, bahagia berilmu bukan karena kita merasa mengetahui segala sesuatu, tetapi karena ilmu membuat kita semakin mampu membedakan: mana yang benar dan salah, mana yang bermanfaat dan mudarat, mana yang hak dan batil, mana yang perlu dikatakan dan perlu didiamkan, mana yang harus diteruskan dan harus dihentikan. Semoga ilmu yang kita miliki tidak hanya menerangi pikiran, tetapi juga menjernihkan hati, sehingga kita tidak mudah tersesat di tengah banyaknya suara dan informasi kehidupan. Aamiin