Bahagia Bisa Meneladani Nabi

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.089
Selasa, 12 Rabiul Awal 1448

Bahagia Meneladani Nabi
Saudaraku, kebahagiaan terbesar sebagai seorang muslim itu adalah ketika kita bisa meneladani Nabi. Meneladani Nabi itu jalan kebahagiaan. Dan justru inilah pesan terkuat saat kita membaca sejarahnya, atau saat memperingati hari lahirnya, atau saat merayakan maulid Nabi. Maka bertepatan dengan libur nasonal saat bangsa kita memperingati Maulid Nabi hari ini sengaja saya menulis muhasabah harian dengan pesan "bahagia ketika ilmu yang kita miliki memvasilitasi diri kita untuk meneladani Nabi".

Diceritakan ada seorang sahabat bernama Anas bin Malik. Anas  sejak usia muda berada sangat dekat dengan Rasulullah. Ibunya, Ummu Sulaim, menyerahkan Anas kepada Rasulullah untuk membantu beliau. Anas kemudian melayani Rasulullah selama sepuluh tahun.

Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. Anas melihat Rasulullah  dalam berbagai keadaan: ketika senang dan sedih, ketika berada di tengah masyarakat, ketika di rumah, ketika memimpin, ketika beribadah, ketika menghadapi kesulitan, dan ketika berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda karakter. Namun setelah sepuluh tahun bersama beliau, Anas memberikan kesaksian yang sangat indah: Rasulullah tidak pernah mengatakan kepadanya “ah”, tidak pernah mencela dengan mengatakan “mengapa kamu melakukan ini?” dan tidak pernah pula mengatakan “mengapa kamu tidak melakukan itu?”

Bayangkan, seorang anak muda yang hidup bersama seorang nabi selama sepuluh tahun, tetapi yang ia kenang adalah kelembutan akhlak Rasulullah. Inilah keteladanan yang tidak hanya dibaca, tetapi disaksikan dan dirasakan. Allah berfirman, Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir. (QS. al-Ahzab: 21). 

Allah tidak hanya mengatakan bahwa Rasulullah adalah orang yang harus dikenali. Allah menyebut beliau sebagai uswah, teladan untuk diikuti. Tentu, ini penting. Sebab ilmu pengetahuan kita tentang Rasulullah belum otomatis membuat kita meneladani Rasulullah. Kita dapat mengetahui sejarah beliau tanpa meniru akhlaknya. Kita dapat menghafal hadis tanpa menghidupkan pesannya. Kita dapat berbicara tentang sunnah tanpa menghadirkan ruh sunnah dalam kehidupan.

Maka pertanyaan yang lebih penting bukan: Seberapa banyak kita mengetahui tentang sejarah Rasulullah saja?” Tetapi seberapa jauh ilmu tentang sejarah Rasulullah telah membawa diri kita untuk meneladaninya?”

Ya, Rasulullah bukan hanya teladan dalam shalat, puasa, dan berhaji saja. Beliau teladan sebagai hamba Allah, teladan sebagai suami, teladan sebagai ayah, teladan sebagai guru, teladan sebagai pemimpin, teladan sebagai tetangga, teladan sebagai sahabat, teladan sebagai pedagang, telasan sebagai srprang panglima dan teladan ketika menghadapi orang yang menyukai beliau maupun orang yang memusuhinya.

Karena itu, meneladani Rasulullah berarti berusaha menghadirkan nilai-nilai keluhuran akhlak dalam seluruh ruang kehidupan. Dalam ibadah, kita belajar keikhlasan. Dalam ilmu, kita belajar kerendahan hati. Dalam memimpin, kita belajar amanah. Dalam berbicara, kita belajar kejujuran. Dalam menghadapi orang lain, kita belajar kasih sayang. Dalam menghadapi ujian, kita belajar kesabaran. Dalam memperoleh kemenangan, kita belajar kerendahan hati. Dalam memiliki kekuasaan, kita belajar keadilan. Inilah kesempurnaan keteladanan Nabi.

Kisah Anas di atas tadi mengandung pelajaran pendidikan yang sangat dalam. Rasulullah tidak perlu setiap hari mengatakan kepada Anas "Jadilah orang yang lembut." Karena Anas sendiri melihat kelembutan itu. Beliau tidak harus berkali-kali mengatakan: Jangan mempermalukan orang lain." Kardna Anas merasakan sendiri bagaimana Rasulullah memperlakukannya.

Di sinilah letak kekuatan keteladanan. Akhlak yang dilihat lebih mudah ditiru daripada akhlak yang hanya dijelaskan. Seorang guru atau dosen yang datang tepat waktu sedang mengajarkan disiplin. Seorang pemimpin yang mau mendengarkan suara rakyat sedang mengajarkan kerendahan hati. Seorang ayah yang meminta maaf kepada anaknya sedang mengajarkan keberanian moral. Seorang ibu yang tetap lembut ketika menghadapi kesulitan sedang mengajarkan kesabaran. Dan seorang muslim yang menjaga shalatnya, lisannya, amanahnya, dan hubungan sosialnya sedang mengajarkan Islam tanpa harus banyak berkata-kata.

Tentu, meneladani Nabi, tidak secara mekanis lahiriyah. Namun ada hal yang perlu kita pahami. Meneladani Rasulullah bukan sekadar meniru bentuk lahiriah beliau, tetapi menghidupkan nilai yang ada di balik sunnah beliau. Kita belajar dari cara beliau makan, tetapi juga belajar kesederhanaan. Kita belajar dari cara beliau berbicara, tetapi juga belajar kejujuran dan kelembutan. Kita belajar dari cara beliau memimpin, tetapi juga belajar amanah dan keadilan. Kita belajar dari cara beliau menghadapi musuh, tetapi juga belajar keteguhan tanpa kehilangan kemanusiaan.
Dengan demikian, sunnah tidak berhenti sebagai simbol. Ia menjadi karakter. Dan ketika sunnah telah menjadi karakter, di situlah ilmu benar-benar hidup.

Misalnya ketika uring-uringan atau saat akan marah, maka kitapun ingat bagaimana Nabi mengendalikan diri. Ketika menduduki tahta atau memiliki kuasa, maka kitapun ingat bagaimana Nabi memperlakukan umatnya. Ketika memperoleh kemenangan, maka kitapun ingat bagaimana Nabi tidak menjadi sombong. Ketika disakiti, maka kitapun ingat bagaimana Nabi mampu memaafkan. Ketika memiliki kesempatan membalas, maka kitapun ingat bagaimana Nabi memilih jalan memaafkan. Ketika mendidik anak dan generasi muda, maka kitapun ingat bagaimana Nabi mendidik dengan kasih sayang.

Maka mencintai Rasulullah bukan hanya dengan banyak bershalawat di lisan. Cinta yang benar semestinya melahirkan keinginan untuk menyerupai akhlaknya. Allah berfirman: Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.” (QS. Ali 'Imran: 31). Ayat ini seakan mengajarkan sebuah rumus spiritual:

Nah, kini kita bertanya kepada diri sendiri: Jika orang yang paling dekat dengan kita (seperti istri, suami anak-anak kita) hidup bersama kita selama bertahun-tahun, apa yang akan mereka katakan tentang akhlak kita? Apakah mereka akan merasakan kelembutan? Apakah mereka merasa aman? Apakah mereka melihat kejujuran? Apakah mereka menemukan kesabaran? Apakah mereka melihat kesesuaian antara ucapan dan perbuatan? Dan yang lebih penting Apakah orang yang berinteraksi dengan kita dapat melihat sedikit saja dari akhlak Rasulullah dalam diri kita?


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama