Bahagia Bisa "Bercahaya"

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.092
Jumat Puncak Purnama, Ayyāmul Bīḍ Ke-3, 15 Rabiul Awal 1448

Bahagia Bisa "Bercahaya"
Saudaraku, semalam  adalah 15 Rabiul Awal 1448 H, puncak Ayyāmul Bīḍ—hari putih. Rembulan sedang berada pada fase purnama; cahayanya sempurna tampak penuh dan menerangi kegelapan malam.

Dikisahkan ada sebuah peristiwa yang sangat indah dalam kehidupan Rasulullah. Suatu malam, para sahabat berada bersama beliau. Mereka memandang wajah Rasulullah dalam cahaya rembulan. Jarir bin Abdullah al-Bajali  kemudian menggambarkan bahwa ia melihat Rasulullah dan melihat bulan purnama, lalu ia merasa bahwa wajah Rasulullah begitu bercahaya.

Saudaraku, kiasan dalam riwayat ini mengingatkan kita pada sesuatu yang sangat dalam. Ya, ternyata ada manusia yang kehadirannya seperti cahaya. Ia tidak harus banyak berbicara. Ia tidak harus selalu tampil. Tetapi ketika ia hadir, orang lain merasa mendapatkan arah, ketenangan, dan harapan. Demikianlah seharusnya ilmu. Ilmu bukan sekadar sesuatu yang membuat seseorang tampak bercahaya bagi dirinya sendiri, tetapi sesuatu yang menerangi jalan bagi orang lain.

Inilah ibrah purnama,  cahaya yang telah sempurna. Tetapi rembulan tidak menjadi purnama dalam satu malam. Ia melewati fase demi fase. Awalnya bulan sabit yang kecil, membesar menyempurna. Demikian pula manusia. Ia belajar sedikit demi sedikit. Dari tidak tahu menjadi tahu. Dari tahu menjadi paham. Dari paham menjadi yakin. Dari yakin menjadi amal. Dari amal menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan menjadi akhlak. Dan dari akhlak lahirlah keteladanan.

Perjalanan muhasabah kita pun demikian juga. Perhatikanlah pada muhasabah di bulan Rabiiul Awal ini.
Ke-1: ilmu yang amaliyah.
Ke-2: istiqamah dalam amal saleh.
Ke-3: membangun akhlak.
Ke-4: kasih sayang.
Ke-5: keteladanan.
Ke-6: ukhuwah.
Ke-7: menjaga lisan.
Ke-8: mensyukuri akal dan menggunakannya dengan benar.
Ke-9: mampu memilih yang terbaik.
Ke-10: menangkap dan menciptakan peluang kebaikan.
Ke-11: menghadirkan solusi.
Ke-12: menjadikan Rasulullah sebagai teladan.
Ke-13: menundukkan hawa nafsu.
Ke-14: membedakan yang hak dan batil. Dan malam ini, pada tanggal 15 Rabiul Awal, kita sampai pada sebuah simbol yang sangat indah: Ilmu yang menerangi. Ya, ilmu yang bercahaya. Allah berfirman: Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan. (QS. al-Mā'idah: 15).

Ilmu yang bersumber dari wahyu adalah cahaya. Dan cahaya itu harus masuk ke dalam diri. Jika ilmu hanya berada di kepala, ia mungkin menjadikan seseorang pandai berbicara. Jika ilmu masuk ke hati, ia menjadikan seseorang pandai bersikap. Jika ilmu sampai ke dalam amal, ia menjadikan seseorang bermanfaat. Dan jika ilmu telah menjadi karakter, ia dapat menjadi cahaya bagi kehidupan orang lain.

Karena itu, jangan hanya bertanya: “Berapa banyak ilmu yang saya miliki?” Tetapi tanyakan: “Seberapa jauh ilmu saya menerangi diri saya?” Dan lebih jauh: “Seberapa banyak orang yang mendapatkan cahaya dari ilmu saya?”

Ibrah purnama lainnya, ternyata ia tidak menyimpan cahayanya. Rembulan tidak menyimpan cahayanya untuk dirinya sendiri. Cahayanya dinikmati oleh siapa saja yang berada di bawahnya.

Begitu pula orang berilmu. Semakin luas ilmunya, semestinya semakin luas pula manfaat yang mengalir darinya. Ilmu yang hanya disimpan menjadi potensi, tapi Ililmu yang diamalkan menjadi berkah. Ilmu yang diajarkan menjadi manfaat. Ilmu yang diwariskan menjadi peradaban. Inilah mengapa Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya. (HR. al-Bukhari).

Ada dua gerakan: belajar dan mengajarkan., menerima cahaya dan meneruskan cahaya. Di samping itu, purnama juga mengajarkan kesempurnaan tapi tidak sombong. Ya purnama  mengajarkan kerendahan hati. Rembulan tampak penuh, tetapi ia tidak mengatakan: “Akulah sumber cahaya.” ia hanya menerima cahaya dari matahari.

Demikian pula manusia berilmu. Semakin banyak ilmunya, semakin ia sadar: Ilmu ini bukan milikku. Allah yang mengajarkannya kepadaku.” Allah berfirman: Di atas setiap orang yang berpengetahuan ada Yang Maha Mengetahui.” (QS. Yusuf: 76).

Maka ilmu yang benar tidak melahirkan kesombongan. Sebaliknya, ia melahirkan tawadhu'. Semakin tahu, semakin sadar betapa luas yang belum diketahui. Semakin menguasai ilmu, semakin tunduk kepada Allah. Semakin dihormati manusia, semakin takut dirinya tidak dihormati oleh Allah. Inilah purnama ilmu: terang, tetapi tidak menyilaukan; bercahaya, tetapi tidak menyombongkan diri.

Kini, tentu harus merubah orientasi ilmu dari ingin terlihat menjadi ingin menerangi, dari ingin dipuji menjafi ingin memberi manfaat, dari menyimpan ilmu menjadi mengamalkannya, dari mengamalkan sendiri menjaf mengajarkannya, dari menjadi orang pintar menjadi orang yang mencerdaskan, dari menjadi pusat perhatian menjadi sumber kemanfaatan. Rasulullah  bersabda: “Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim).

Betapa luas pintu amal bagi orang berilmu. Kita tidak harus melakukan semuanya sendiri. Kadang cukup menunjukkan jalan, mengajarkan, membimbing, mengingatkan, menginspirasi, membuka kesempatan, mewariskan ilmu. Dan ketika orang lain kemudian berbuat baik karena ilmu yang kita sampaikan, insya Allah pahala kebaikan itu pun mengalir kepada kita tanpa mengurangi pahala mereka.

Semalam di bawah cahaya purnama, kita boleh bertanya kepada diri sendiri: apakah ilmu saya sudah menjadi cahaya? Apakah keluarga saya merasakan manfaat dari ilmu saya? Apakah murid dan mahasiswa saya menjadi lebih baik karena ilmu yang saya berikan? Apakah teman-teman saya merasa lebih tercerahkan setelah berbicara dengan saya? Apakah masyarakat memperoleh manfaat dari apa yang saya ketahui? Ataukah ilmu saya justru membuat saya merasa lebih tinggi daripada orang lain?

Semoga kita terhindar memiliki banyak pengetahuan tetapi sedikit kebijaksanaan, pandai menjelaskan kebenaran tetapi sulit mengamalkannya, mampu menunjukkan jalan kepada orang lain tetapi tersesat dalam perjalanan kita sendiri. Sebab puncak ilmu bukan banyaknya yang kita ketahui, tetapi cahaya yang lahir dari apa yang kita ketahui.

Tanggal 15 adalah puncak Ayyāmul Bīḍ, tetapi bukan akhir perjalanan bulan. Demikian pula puncak ilmu bukan berarti seseorang telah selesai belajar. Justru ketika seseorang merasa telah sampai pada puncak, ia harus semakin rendah hati. Sebab di atas setiap orang yang berilmu masih ada Yang Maha Mengetahui. Maka purnama semalam seolah mengajarkan: nilai menerangi, tanpa merasa menjadi sumber cahaya. Mengajarkan, tanpa merasa paling tahu. Bermanfaat, tanpa menuntut pujian. Menjadi teladan, tetapi tetap merasa sebagai hamba. Karena sumber segala cahaya adalah Allah. Dan Rasulullah  adalah teladan terbaik bagaimana cahaya ilmu, iman, amal, dan akhlak diwujudkan dalam kehidupan manusia.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama