Bahagia Berpuasa di Hari Putih

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.090
Rabu Ayyāmul Bīḍ Ke-1, 13 Rabiul Awal 1448

Bahagia Berpuasa di Hari Putih 
Saudaraku, hari ini, 13 Rabiul Awal, kita memasuki salah satu hari dari Ayyāmul Bīḍ (hari-hari putih) tiga hari pertengahan bulan Hijriah yang dianjurkan untuk berpuasa, yaitu tanggal 13, 14, dan 15. Posisinya yang di tengah bulan, puasa ini membawa pesan kuat akan keseimbangan. Seimbang hidupnya, seimbang ilmu iman dan amal shalihnya, dan seimbang kebahagiaan dunia akhiratnya.

Di samping itu, ada sesuatu yang menarik dari puasa. Orang yang berpuasa sebenarnya memiliki kemampuan untuk makan dan minum, tetapi memilih untuk tidak melakukannya. Padahal tidak ada manusia yang selalu mengawasi. Tidak ada orang yang akan tahu jika ia diam-diam minum. Ya, tetapi para shaimin shaimat tahu bahwa Allah melihatnya. Di sinilah puasa menjadi sekolah keimanan sekaligus sekolah ilmu.

Kalau ditanya mengapa berpuasa? Ya, karena Allah melalui RasulNya memerintahkannya.  Dalam puasa mengajarkan pada manusia bahwa tidak semua yang boleh dilakukan harus dilakukan, dan tidak semua yang diinginkan harus dipenuhi. Tidak semua yang boleh dimakan, harus dimakan atau dihabiskan. Inilah ilmu yang menjadi penguasaan diri.

Muhasabah setiap hari sudah membawa kita pada perjalanan yang panjang. Tentu kita masih ingat tentang ilmu yang diamalkan, istiqamah, akhlak, kasih sayang, keteladanan, ukhuwah, menjaga lisan, mengendalikan diri, memilih yang terbaik, menciptakan peluang, menghadirkan solusi, dan menjadikan Rasulullah sebagai teladan. Dan hari ini, pada momentum puasa ayyamul bidh, kita kembali masuk ke dalam diri. Sejauh mana ilmu membuat kita mampu meneladani Nabi, mampu manut dhawuhe (patuh pada perintah) Nabi dan  mengendalikan keinginan? 

Puasa kali ini - dan semua puasa sunah - diharapkan dapat  menutupi kekurangan puasa fardhu Ramadhan, atau untuk memperindahnya, maka tujuannya juga meraih gelar takwa. Tentu dengan katagori yang lebih istimewa. Dan kita tahu untuk menjadi takwa membutuhkan ilmu. Kita harus mengetahui mana yang halal dan haram, mana yang benar dan salah, kapan harus berbicara dan kapan harus diam, kapan mengambil dan kapan meninggalkan. Karena itu, puasa bukan hanya latihan menahan perut. Tapi puasa merupakan latihan menempatkan keinginan di bawah kendali iman dan ilmu.

Ya, Ayyāmul Bīḍ, hari- hari putih benar-benar menjadi sarana belajar mengendalikan yang kita sukai. Puasa pada hari-hari putih ini merupakan salah satu amalan sunnah yang dianjurkan. Rasulullah menganjurkan puasa tiga hari setiap bulan. Dan Rasulullah juga berpuasa pada hari-hari tersebut.

Terdapat hikmah yang sangat indah. Kita hidup dalam dunia yang terus mengajarkan untuk memenuhi keinginan, tapi puasa mengajarkan agar kita dapat  mengendalikan keinginan.

Ketika dunia berkata: Kalau ingin, ambillah,  tapi puasa mengajarkan tidak semua yang ingin diambil harus diambil." Ketika dunia berkata: "Nikmati sekarang." Tapi puasa mengajarkan: Tunda kesenangan demi sesuatu yang lebih tinggi." Ketika dunia mendesak: Ikutilah selera." Tapi puasa mengajarkan: Tundukkan seleramu hanya kepada Allah."

Di sinilah puasa menjadi pendidikan jiwa yang sangat tinggi. Inilah mengapa orang yang berilmu tidak diperbudak oleh keinginannya. Ada manusia yang secara lahiriah bebas, tetapi sebenarnya diperbudak oleh keinginannya. Ia tidak mampu berhenti makan. Tidak mampu berhenti berbicara. Tidak mampu berhenti berbelanja. Tidak mampu berhenti mencari pujian. Tidak mampu berhenti mengejar popularitas. Tidak mampu berhenti menggunakan media sosial. Tidak mampu berhenti marah. Tidak mampu mengatakan cukup. Padahal kebebasan sejati bukanlah mampu melakukan apa saja yang kita inginkan. Semoga kita bisa mengendalikan diri. Aamiin.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama