Bahagia Bisa Berkarya

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.094
Ahad, 17 Rabiul Awal 1448

Bahagia Bisa Berkarya
Saudaraku, ada sebuah kisah yang inspiratif dari kehidupan Zaid bin Tsabit. Ketika Rasulullah berada di Madinah, beliau melihat betapa besar kebutuhan umat Islam terhadap literasi; kemampuan membaca dan menulis, terlebih untuk menjaga wahyu, menyampaikan surat-surat, dan membangun komunikasi dengan berbagai pihak. Zaid yang masih relatif muda kemudian mendapatkan kepercayaan untuk mempelajari bahasa dan tulisan yang diperlukan. Ia menerima tugas itu dengan sungguh-sungguh. Dalam waktu yang relatif singkat, ia berhasil menguasainya dan kemudian menjadi salah seorang penulis wahyu.

Kontribusi Zaid bin Tsabit itu menunjukkan bahwa ilmu yang dimiliki seseorang akan menjadi jauh lebih bernilai ketika ia mampu mengubahnya menjadi karya yang dibutuhkan umat. Zaid tidak berhenti pada kemampuan membaca. Ia belajar, menguasai, lalu menggunakan ilmunya untuk memenuhi kebutuhan nyata masyarakat. Dari tangannya lahir catatan wahyu, surat, dan berbagai pekerjaan penting yang kemudian menjadi bagian dari sejarah umat Islam.

Muhasabah kita sebelumnya telah membawa kita melalui perjalanan yang semakin berjenjang. Kita belajar bahwa setelah mengetahui ilmu tertentu, ia harus menjadi amal, amal harus dijaga dengan istiqamah, kemudian melahirkan akhlak, kasih sayang, keteladanan, ukhuwah, kehati-hatian dalam berbicara, kemampuan mengendalikan diri, kemampuan memilih yang terbaik, menciptakan peluang, menghadirkan solusi, menjadikan Rasulullah sebagai teladan, menundukkan hawa nafsu, membedakan yang hak dan batil, menjadi cahaya, hingga akhirnya pada muhasabah ke-16 kita belajar menembus batas. Setelah mampu menembus batas keterbatasan diri, pertanyaan berikutnya adalah: untuk apa kemampuan itu digunakan? Jawabannya adalah untuk melahirkan karya dan kebermanfaatan.

Sebab ilmu yang hanya tersimpan dalam pikiran masih berupa potensi. Ia menjadi lebih bermakna ketika turun menjadi gagasan, kemudian menjadi tindakan, dan akhirnya menghasilkan karya. Karya tidak selalu harus berupa buku tebal, penelitian besar, penemuan teknologi, atau bangunan monumental. Seorang guru  yang berhasil melahirkan murid yang berakhlak adalah sebuah karya. Orang tua yang berhasil mendidik anak menjadi saleh adalah sebuah karya. Dosen yang membimbing mahasiswa hingga mampu mandiri adalah sebuah karya. Seorang pemimpin yang membangun sistem yang baik adalah sebuah karya. Bahkan seseorang yang mengajarkan satu ilmu yang kemudian diamalkan oleh orang lain telah meninggalkan sebuah karya yang mungkin terus hidup setelah dirinya tiada.

Rasulullah adalah teladan terbesar dalam hal ini. Beliau tidak hanya menyampaikan ajaran, tetapi membangun manusia. Masyarakat yang sebelumnya tercerai-berai dipersatukan. Orang-orang yang sebelumnya hidup dalam kejahiliyahan atau kebodohan dibimbing menuju ilmu. Mereka yang sebelumnya saling bermusuhan diajarkan persaudaraan. Mereka yang lemah diberi kedudukan dan perlindungan. Bahkan dalam waktu yang relatif singkat, Rasulullah berhasil membangun generasi yang kemudian mampu meneruskan risalah Islam ke berbagai penjuru dunia.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang karya, seyogyanya tidak hanya membayangkan sesuatu yang dapat disentuh dan dilihat. Ada karya yang berupa manusia yang berbudaya. Ada karya yang berupa perubahan karakter. Ada karya yang berupa gagasan. Ada karya yang berupa tradisi kebaikan. Ada karya yang berupa lembaga. Ada karya yang berupa ilmu yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karya terbaik sering kali bukan yang paling banyak dipuji ketika kita masih hidup, tetapi yang paling panjang manfaatnya setelah kita tiada.

Di sinilah ilmu bertemu dengan orientasi akhirat. Rasulullah bersabda bahwa apabila manusia meninggal dunia, terputus amalnya kecuali tiga perkara, salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat. Doktrin populis ini mengajarkan bahwa ilmu memiliki kemungkinan untuk melampaui usia pemiliknya. Kita mungkin berhenti hidup, tetapi ilmu yang kita ajarkan dapat terus bekerja melalui orang-orang yang pernah belajar kepada kita.

Maka orang berilmu tidak hanya bertanya, “Apa yang sudah saya ketahui?” tetapi juga bertanya “Apa yang sudah saya hasilkan dari pengetahuan itu?” tidak hanya bertanya, “Berapa banyak buku yang sudah saya baca?”, tetapi “Apa yang lahir dari bacaan saya?” tidak hanya bertanya, “Berapa banyak ilmu yang sudah saya ajarkan?”, tetapi  “Berapa banyak manusia yang berubah menjadi lebih baik karena ilmu yang saya ajarkan?”

Inilah semangat meneladani Nabi. Nabi Muhammad saw tidak hidup untuk dirinya sendiri. Ilmu, iman, tenaga, waktu, dan seluruh kehidupannya dipersembahkan untuk risalah Allah dan kemaslahatan umat manusia. Karena itu, semakin berilmu seseorang, semestinya semakin kuat dorongan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Ilmu membuat hidupnya tidak sekadar berlangsung, tetapi menjadi bermakna.

Semangat hari ini bukan lagi sekadar berubah dari satu keadaan menuju keadaan yang lain, tetapi meneladani Nabi dalam produktivitas kebaikan. Beliau mengajarkan bahwa waktu harus diisi dengan sesuatu yang bernilai, kemampuan harus digunakan untuk kemaslahatan, dan kesempatan harus diubah menjadi amal. Tidak menunggu menjadi sempurna untuk mulai berkarya. Tidak menunggu memiliki banyak kemampuan untuk mulai memberi manfaat. Memulai dari apa yang kita miliki, dari apa yang kita kuasai, dari apa yang ada di sekitar kita.

Bukankah banyak karya besar bermula dari sesuatu yang sederhana? Sebuah pemikiran yang dicatat, sebuah pelajaran yang diajarkan, sebuah masalah yang diselesaikan, sebuah anak yang dibimbing, sebuah murid yang dimotivasi, sebuah buku yang ditulis, sebuah penelitian yang dilakukan, atau sebuah tradisi kebaikan yang dimulai. Kecil pada awalnya, tetapi bisa menjadi besar ketika dilakukan dengan ikhlas, sungguh-sungguh, dan istiqamah.

Maka seyogyanya kita bermuhasabah: selama hidup ini, karya apa yang telah lahir dari ilmu yang Allah titipkan kepada kita? Apakah ilmu kita sudah menghasilkan manfaat? Apakah ada orang yang menjadi lebih baik karena pernah belajar kepada kita? Apakah ada gagasan yang kita tinggalkan? Apakah ada tulisan yang dapat dibaca setelah kita tiada? Apakah ada murid yang akan meneruskan ilmu kita? Apakah ada lembaga atau tradisi kebaikan yang tetap berjalan meskipun kita sudah tidak berada di dalamnya?

Semoga kita memiliki banyak ilmu, juga banyak  karya. Banyak membaca, tetapi juga banyak yang kita hasilkan. Kita pandai berbicara tentang perubahan, tetapi juga meninggalkan sesuatu yang berubah. Sebab ilmu yang hidup adalah ilmu yang bergerak dari pikiran menuju hati, dari hati menuju amal, dari amal menuju karya, dan dari karya menuju kemanfaatan.

Pada akhirnya, bahagia berilmu adalah ketika ilmu yang Allah titipkan tidak berakhir bersama diri kita. Ia menjadi amal yang hidup, karya yang bermanfaat, manusia yang tercerahkan, dan kebaikan yang terus mengalir. Mungkin nama kita tidak selalu disebut, tetapi karya kebaikan itu tetap berjalan. Mungkin orang tidak mengetahui siapa yang pertama mengajarkannya, tetapi manfaatnya terus dirasakan. Dan boleh jadi, di situlah letak kebahagiaan yang sesungguhnya: meninggalkan sesuatu yang baik di dunia sebagai bekal untuk bertemu Allah di akhirat. Aamiin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama