Bahagia Bisa Menembus Batas

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.093
Sabtu, Uro Raya 16 Rabiul Awal 1448

Bahagia Bisa Menembus Batas
Saudaraku, ada sebuah kisah inspiratif tentang Salman al-Farisi. Salman bukan orang Arab, tidak berasal dari Makkah atau Madinah, tapi dari Persia (baca Iran). Sejak muda, Sslman telah melakukan perjalanan panjang untuk mencari ilmu juga kebenaran. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, berguru kepada orang-orang saleh, mengalami berbagai kesulitan, bahkan pernah menjadi seorang budak. Namun semua keterbatasan itu tidak mampu menghentikan pencariannya. 

Sampai akhirnya ia tiba di Madinah dan bertemu dengan Rasulullah. Setelah menjadi sahabat, keluasan pengalaman dan ilmunya bahkan memberi kontribusi penting dalam Perang Khandaq. Ketika pasukan musuh mengancam Madinah, Salman mengusulkan strategi menggali parit sebagai pertahanan kota. Sebuah gagasan yang tidak lazim bagi masyarakat Arab ketika itu, tetapi dikenal dalam pengalaman bangsa Persia. Kisah Salman mengajarkan kepada kita bahwa ilmu dan pengalaman dapat membuat seseorang melampaui batas-batas yang sebelumnya dianggap tidak mungkin.

Muhasabah kita pada hari-hari sebelumnya telah membawa kita melalui perjalanan yang semakin luas. Kita telah belajar bahwa ilmu harus menjadi amal, amal harus dilakukan dengan istiqamah, dan istiqamah harus melahirkan akhlak, kasih sayang, keteladanan, ukhuwah, kehati-hatian dalam berbicara, kemampuan mengendalikan diri, kecerdasan memilih yang terbaik, kemampuan menangkap dan menciptakan peluang, serta keberanian menghadirkan solusi. Pada muhasabah ke-12 kita belajar menjadikan Rasulullah sebagai teladan, ke-13 belajar menundukkan hawa nafsu, ke-14 belajar membedakan yang hak dan batil, dan ke-15, pada puncak hari putih dan purnama, kita belajar bahwa ilmu seharusnya menjadi cahaya yang menerangi diri dan sesama. Kini kita sembari berhari raya setelah puasa tiga hari ayyamul bidh juga melangkah lebih jauh: bahagia berilmu adalah ketika ilmu membuat kita mampu menembus batas. Terutama, batas kebodohan. 

Ilmu membebaskan manusia dari ketidaktahuan dan membawanya kepada pemahaman. Akan tetapi, setelah kebodohan ditembus, masih ada batas lain yang sering kali lebih sulit: kemalasan, ketakutan, kebiasaan lama, rendahnya kepercayaan diri. Padahal belum bisa tidak berarti tidak akan bisa, belum tahu tidak berarti tidak akan tahu, dan belum berhasil tidak berarti tidak akan berhasil. Ilmu membuat seseorang memahami bahwa kemampuan manusia dapat terus berkembang melalui belajar, berlatih, mencoba, memperbaiki kesalahan, dan tidak mudah menyerah.

Semangat menembus batas ini sangat sesuai dengan keteladanan Rasulullah. Beliau memulai dakwah dalam keadaan yang secara manusiawi sangat terbatas. Beliau tidak memiliki kekuasaan politik, tidak memiliki pasukan besar, dan tidak memiliki kekayaan yang berlimpah. Dakwah beliau bahkan mendapatkan penolakan, intimidasi, pemboikotan, dan berbagai penderitaan. Namun Rasulullah tidak menjadikan keterbatasan itu sebagai alasan untuk berhenti. Beliau terus berdakwah, mendidik, membangun manusia, menyusun strategi, menghadapi berbagai ujian, dan melangkah dari satu keberhasilan menuju keberhasilan berikutnya. Dari seorang Rasul yang berdakwah di Makkah, risalahnya akhirnya menjangkau Madinah, Jazirah Arab, dan kemudian diteruskan oleh umatnya ke berbagai penjuru dunia.

Allah berfirman, “Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan kepada seluruh manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” (QS. Saba’: 28). Ayat ini menunjukkan keluasan risalah Nabi. Karena itu, meneladani Rasulullah berarti juga belajar memiliki pandangan yang luas. Tidak membatasi kebaikan hanya untuk diri sendiri. Tidak membatasi ilmu hanya di ruang kelas. Tidak membatasi manfaat hanya kepada keluarga sendiri. Tidak membatasi cita-cita hanya karena keadaan hari ini. Orang berilmu hendaknya memiliki cakrawala yang lebih jauh daripada dirinya sendiri. Ia berpikir tentang apa yang dapat dilakukan, apa yang dapat diwariskan, dan apa yang dapat memberi manfaat bagi generasi sesudahnya.

Kisah Salman juga mengajarkan bahwa ilmu dapat menembus batas budaya dan geografis. Salman tidak menjadikan tempat kelahirannya sebagai batas pencarian ilmu. Ia berani belajar dari siapa pun yang dianggap memiliki kebenaran dan pengetahuan. Ketika akhirnya bertemu Rasulullah pengalaman panjangnya tidak menjadi sesuatu yang sia-sia. Pengetahuan yang ia peroleh dari perjalanan hidupnya justru menjadi bagian dari kekuatan umat. Inilah salah satu keindahan ilmu: ilmu yang benar tidak mempersempit cakrawala, tetapi memperluas cara pandang. Ia membuat kita mampu melihat bahwa kebaikan dapat ditemukan di berbagai tempat dan bahwa pengalaman yang berbeda dapat menjadi sumber pembelajaran selama ditempatkan dalam bingkai kebenaran.

Namun menembus batas tidak berarti melampaui sehingga kehilangan kerendahan hati. Justru semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia menyadari betapa luas ilmu Allah dan betapa sedikit yang diketahuinya. Allah berfirman, “Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada Yang Maha Mengetahui.” (QS. Yusuf: 76). Karena itu, orang berilmu boleh memiliki cita-cita tinggi, boleh menghasilkan karya besar, boleh membangun lembaga, boleh mengembangkan ilmu pengetahuan, boleh menguasai teknologi, dan boleh memberikan kontribusi luas kepada masyarakat. Tetapi hatinya tetap tunduk dan sadar bahwa semua kemampuan itu pada hakikatnya adalah karunia Allah. Ia tidak menjadikan keberhasilan sebagai alasan untuk sombong, melainkan sebagai alasan untuk semakin bersyukur.

Menembus batas juga bukan berarti melanggar batas yang telah ditetapkan Allah. Ada batas antara halal dan haram, antara hak dan batil, antara keadilan dan kezaliman, antara kebebasan dan kesewenang-wenangan. Batas-batas itulah yang justru harus dijaga. Yang perlu kita tembus adalah batas kebodohan menuju ilmu, batas kemalasan menuju produktivitas, batas ketakutan menuju keberanian, batas keterbatasan menuju kemampuan, dan batas egoisme menuju kemanfaatan. Dengan demikian, ilmu tidak membuat manusia bebas tanpa arah, tetapi membuatnya mampu bergerak luas di dalam koridor yang diridai Allah.

Maka semangat kita hari ini bukan sekadar pindah dari satu keadaan menuju keadaan yang lain, melainkan meneladani Rasulullah dalam keberanian, kesungguhan, visi, ketekunan, dan keluasan manfaat. Rasulullah mengajarkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berbuat baik. Jika satu jalan tertutup, carilah jalan lain. Jika sebuah metode tidak berhasil, perbaiki metode. Jika menghadapi kesulitan, tingkatkan kesabaran dan ikhtiar. Jika memperoleh keberhasilan, tetaplah rendah hati. Inilah sikap seorang pembelajar sejati.

Karena itu, mari kita bertanya kepada diri sendiri: batas apa yang selama ini paling menghalangi kita? Apakah kebodohan, kemalasan, ketakutan, kegagalan masa lalu, usia, lingkungan, atau justru pikiran kita sendiri? Sudahkah kita benar-benar belajar untuk melampaui batas itu? Sudahkah kita meneladani Rasulullah  dalam kesungguhan dan ketekunannya? Jangan terlalu cepat mengatakan “tidak mungkin” sebelum kita belajar, berusaha, berdoa, dan mencoba dengan sungguh-sungguh. Sebab terkadang apa yang kita sebut sebagai batas kemampuan sebenarnya hanyalah batas keberanian untuk memulai.

Pada akhirnya, bahagia berilmu menembus batas bukan berarti menjadi manusia yang tidak memiliki keterbatasan. Bahagia berilmu adalah ketika kita menyadari keterbatasan diri, tetapi tidak menjadikannya alasan untuk berhenti bertumbuh. Kita belajar melampaui kebodohan, berusaha melampaui kemalasan, berani melampaui ketakutan, berkarya melampaui kebiasaan, dan memberi manfaat melampaui batas diri. Semua itu kita lakukan dengan meneladani Rasulullah sambil tetap menyadari bahwa kemampuan, kesempatan, dan keberhasilan semuanya berasal dari Allah. Semoga


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama