Bahagia Bisa Mengasihsayangi

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.081
Senin, 4 Rabiul Awal 1448

Bahagia Bisa Mengasihsayangi
Saudaraku, dikisahkan bahwa pada suatu hari Rasulullah sedang menciumi cucunya, Hasan bin 'Ali. Di hadapan beliau ada seorang sahabat bernama al-Aqra' bin Habis. Melihat Rasulullah mencium cucunya, ia berkata bahwa dirinya memiliki sepuluh anak, tetapi belum pernah mencium seorang pun dari mereka. Rasulullah kemudian bersabda: "Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi." (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Sangat bersahaja sekali peristiwa itu; hanya sebuah ciuman seorang kakek kepada cucunya. Tetapi dari peristiwa kecil itu Rasulullah mengajarkan sebuah prinsip besar tentang kehidupan, bahwa ilmu dan iman harus melahirkan kasih sayang.

Muhasabah pertama bulan ini mengajarkan bahwa ilmu harus menjadi amal. Muhasabah kedua mengajarkan istiqamah dalam amal saleh. Muhasabah ketiga mengajak kita melihat bahwa ilmu yang diamalkan dan dijaga dengan istiqamah akan membentuk akhlak mulia. Hari ini kita melangkah satu tahap lagi bahwa akhlak mulia seharusnya membuat manusia menjadi penebar kasih sayang. Allah berfirman tentang Rasulullah  Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. al-Anbiya': 107).

Perhatikan, Allah tidak mengatakan Rasulullah hanya menjadi rahmat bagi orang-orang Islam saja, tapi diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Inilah salah satu ukuran kedalaman ilmu seseorang. Semakin berilmu, semestinya semakin luas kasih sayangnya.

Ilmu membuat seseorang memahami bahwa manusia memiliki latar belakang yang berbeda. Ada yang tahu dan ada yang belum tahu. Ada yang kuat dan ada yang lemah. Ada yang sedang bahagia dan ada yang sedang terluka. Ada yang berada di puncak kehidupan dan ada yang sedang jatuh. Karena itu, orang berilmu tidak tergesa-gesa menghakimi. Ia berusaha memahami sebelum menilai, menasihati tanpa mempermalukan, mengingatkan tanpa merendahkan, mengoreksi tanpa menyakiti.

Sebab ia tahu bahwa tujuan ilmu bukan memenangkan perdebatan, tetapi menemukan kebenaran dan menyelamatkan manusia dari kesalahan. Rasulullah adalah teladan yang sempurna dalam hal ini. Beliau menghadapi orang-orang yang kasar dengan kesabaran, menghadapi orang yang belum memahami ajaran Islam dengan pendidikan,  menghadapi orang yang melakukan kesalahan dengan perbaikan. Bahkan terhadap orang yang memusuhinya, beliau tidak kehilangan kemanusiaannya.

Kasih sayang Rasulullah bukan berarti beliau tidak tegas. Beliau sangat tegas dalam prinsip. Tetapi ketegasan beliau tidak menghilangkan kasih sayang. Inilah perbedaan antara kelembutan dan kelemahan.

Orang berilmu memahami bahwa kasih sayang bukan berarti membenarkan semua kesalahan. Justru karena menyayangi, seseorang berani mengingatkan. Tetapi cara mengingatkannya tetap menjaga martabat manusia. Seorang guru menyayangi muridnya bukan dengan membiarkan kesalahannya, tetapi dengan membimbingnya agar menjadi lebih baik. Orang tua menyayangi anaknya bukan dengan memenuhi semua keinginannya, tetapi dengan mengajarkan mana yang baik dan mana yang merusak. Seorang pemimpin menyayangi rakyatnya bukan dengan memanjakan mereka, tetapi dengan memberikan kebijakan yang adil dan melindungi mereka dari kezhaliman. Seorang ulama menyayangi umatnya bukan hanya dengan memberikan fatwa, tetapi juga mengingatkan mereka dari jalan yang dapat menjerumuskan.

Kasih sayang yang benar bukan memanjakan; kasih sayang adalah menghendaki kebaikan. Di sinilah ilmu kembali memainkan perannya. Tanpa ilmu, kasih sayang dapat berubah menjadi sikap memanjakan. Tanpa kasih sayang, ilmu dapat berubah menjadi kekerasan. Tetapi ketika ilmu dan kasih sayang bertemu, lahirlah hikmah.

Orang yang berilmu tahu apa yang harus dikatakan, kapan mengatakannya, kepada siapa, dan dengan cara bagaimana. Ia tidak menjadikan ilmunya sebagai senjata untuk melukai. Ia menjadikan ilmunya sebagai obat untuk menyembuhkan. Semoga ilmu kita mewujud dalam kasih sayang kepada sesama. Aamiin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama