Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.082
Uroraya Selasa, 5 Rabiul Awal 1448
Bahagia Bisa Menjadi Teladan
Saudaraku, adalah sering para sahabat melihat Rasulullah melakukan sesuatu, lalu mereka mengikutinya. Rasulullah, memang tidak selalu mengajarkan sesuatu dengan kata-kata (dalam istilah hukum Islam dikenal hadits qauli), bahkan banyak sekali pelajaran yanh justru disampaikan melalui praktik nyata (hadits fi'li).
Beliau melakukan sesuatu di hadapan para sahabat. Ketika mengajarkan shalat, beliau shalat, ketika mengajarkan wudhu, beliau mempraktikkannya. Ketika mengajarkan kasih sayang, beliau mengasihsayangi. Ketika mengajarkan kesederhanaan, beliau hidup sederhana. Ketika mengajarkan sedekah, beliau adalah orang yang paling dermawan. Ketika mengajarkan kesabaran, beliau sendiri menjadi manusia yang paling sabar menghadapi berbagai ujian.
Oleh karena itu, pendidikan Rasulullah bukan hanya pendidikan melalui kata-kata semata, tetapi pendidikan melalui keteladanan. Allah berfirman: Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (QS. al-Ahzab: 21). Kata uswah dalam ayat ini mengandung makna yang sangat dalam. Rasulullah bukan hanya orang yang memberikan teori tentang kebaikan, tapi contoh hidup dari kebaikan itu sendiri.
Bulan Rabiul Awal ini pada muhasabah ke-1 telah mengingatkan kita tentang ilmu yang amaliyah, muhasabah ke-2 mengajarkan istiqamah dalam amal saleh, muhasabah ke-3 mengajarkan bahwa ilmu yang diamalkan secara istiqamah akan membentuk akhlak mulia dan ke-4 mengajarkan bahwa akhlak mulia melahirkan kasih sayang, maka hari ini kita melangkah satu tingkat lagi, bahwa kepemilikan ilmu memvasilitasi keteladanan.
Secara umum, pebelajar lebih mudah belajar dari apa yang dilihat daripada apa yang hanya didengar. Sebagai seorang ayah boleh seribu kali mengatakan kepada anaknya, “Jadilah orang yang jujur., nak ya” Tetapi jika anak melihat ayahnya berdusta, maka pesan kejujuran itu kehilangan kekuatannya.
Seorang guru atau dosen boleh berkali-kali mengajarkan disiplin, tetapi jika ia sendiri sering terlambat masuk kelas, maka pesan kedisiplinan tak punya arti-arti apa-apa, karena murid atau mahasiswa belajar sesuatu yang berbeda dari apa yang diucapkan guru atsu dosennya.
Seorang pemimpin boleh berbicara tentang integritas. Tetapi jika ia sendiri menyalahgunakan amanah, masyarakat akan belajar bahwa kata-kata tidak selalu berarti. karena itu, keteladanan adalah bentuk pendidikan yang paling sunyi, tetapi sering kali paling efektif. Inilah ilmu yang Berjalan
Secara filosofis, ilmu yang belum menjadi perilaku, ia masih berada di wilayah pengetahuan. Dan ilmu yang telah menjadi perilaku mulai menjadi karakter. Dan ketika karakter itu terlihat oleh orang lain lalu menginspirasi mereka melakukan kebaikan, ilmu telah menjadi keteladanan.
Rasulullah mengajarkan shalat yang baik, tetapi beliau juga mendirikannya dengan khusyuk. Beliau mengajarkan sedekah, tetapi beliau sendiri sangat dermawan. Beliau mengajarkan pemaafan, tetapi beliau juga memaafkan orang-orang yang menyakitinya. Beliau mengajarkan kesederhanaan, tetapi beliau sendiri hidup sederhana meskipun memiliki kesempatan untuk hidup mewah. Beliau mengajarkan tawakal, tetapi sekaligus melakukan ikhtiar dengan sungguh-sungguh. Inilah kesatuan antara ilmu, iman, amal dan keteladanan.
Keteladanan benar-benar dapat menetap dalam ingatan, sedangkan nasihat kadang hanya tinggal di telinga saja. Seorang anak mungkin lupa apa yang pernah dikatakan ayahnya dua puluh tahun yang silam. Tetapi ia mungkin tidak pernah lupa bagaimana ayahnya memperlakukan dirinya atau bersikap pada ibunya.
Seorang mahasiswa mungkin segera lupa sebagian besar materi kuliah, tetapi bisa bertahun-tahun mengingat dosen yang mengajarinya dengan jujur, sabar, disiplin, dan penuh penghargaan.
Seorang murid mungkin lupa definisi yang pernah ditulis gurunya di papan tulis. Tetapi ia dapat membawa karakter gurunya sepanjang hidupnya. Maka setiap orang yang berilmu sesungguhnya sedang menjadi buku yang bisa dibaca oleh orang-orang di sekitarnya.
Nah pertanyaannya: apa yang anak-anak kita atau mahasiswa baca dari kehidupan kita? Apakah mereka membaca kejujuran? Apakah mereka membaca kesabaran? Apakah mereka membaca kedisiplinan? Apakah mereka membaca kemurahan hati? Apakah mereka membaca ketawadhukan atau kerendahan hati?
Ataukah mereka justru membaca kesombongan, keangkuhan, kemarahan, kesemrawutan diri, ketidakteraturan, dan ketidaksesuaian antara ucapan dengan perbuatan kita?
Nah, hari-hari bulan Rabiul Awal ini adalah kesempatan belajar memperbaiki diri dari sekadar pandai mengajarkan kebaikan menuju berusaha menjadi contoh kebaikan. Dari mengatakan “mari jujur” menjadi jujur. Dari mengatakan “disiplinlah” menjadi disiplin. Dari mengatakan “bersabarlah” menjadi bersabar. Dari mengatakan “bersedekahlah” menjadi dermawan. Dari mengatakan “maafkanlah” menjadi mudah memaafkan. Dari mengatakan “rendah hatilah” menjadi tawadhu'.
Sebab keteladanan tidak menuntut kita menjadi manusia sempurna. Kita tetap bisa salah. Kita tetap bisa lupa. Kita tetap bisa jatuh.Tetapi orang yang menjadi teladan adalah orang yang bersedia memperbaiki dirinya terlebih dahulu. Ketika salah, ia berani mengakui. Ketika keliru, ia berani meminta maaf. Ketika jatuh, ia bangkit. Justru sikap seperti itu dapat menjadi teladan yang sangat kuat.
Maka sebaiknya tidak hanya sibuk meninggalkan nasihat kepada generasi setelah kita, tetapi meninggalkan keteladanan. Sebab nasihat mungkin hanya didengar oleh orang yang hadir hari ini, tetapi keteladanan dapat diwariskan kepada generasi yang bahkan belum pernah bertemu dengan kita. Inilah keindahan ilmu yang hidup:
Ilmu memlerkukuh iman, berbuah amal. Amal menjadi istiqamah. Istiqamah membentuk akhlak. Akhlak melahirkan kasih sayang.
Kasih sayang menghadirkan keteladanan. Dan ketika keteladanan itu diikuti oleh orang lain, kebaikan kita tidak lagi berjalan sendirian. Semoga