Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.079
Sabtu, 2 Rabiul Awal 1448
Bahagia Istikamah dalam Ketaatan
Saudaraku, kita mesti betikhtiar dan berdoa agar dapat istikamah dalm ketaatan. Karena dalam kehidupan ini kadang ada yang bersemangat melakukan kebaikan, tetapi hanya sesekali, atau sporadis. Saat hatinya tersentuh, menjadi rajin beribadah; saat mendapat nasihat, ia bertekad berubah. Ketika suasana mendukung, ia membaca Al-Qur'an, bersedekah, belajar, dan memperbanyak ibadah. Namun setelah beberapa waktu, semangat itu perlahan surut bahkan padam. Padahal kehidupan seorang mukmin(ah) bukan diukur dari seberapa tinggi semangatnya pada suatu hari tertentu saja, tetapi dari seberapa lama ia mampu menjaga ketaatan dalam perjalanan hidupnya. Dalam hal ini Rasulullah bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling kontinu, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).»
Inilah filosofi istikamah sedikit tetapi terus berjalan lebih baik daripada banyak tetapi segera berhenti. Awalnya sedikit, lama kelamaan menjadi banyak amal ketaatannya. Mengapa? Ya, karena ketaatan itu menjadi energi positif yang akan memotivasi untuk melakukan ketaatan berikutnya.
Muhasabah kemarin telah mengajak kita menjadikan ilmu sebagai ilmu yang amaliyah. Hari ini kita melangkah lebih jauh. Ilmu yang telah diamalkan harus dijaga dengan istikamah. Sebab amal yang hanya dilakukan sesekali belum tentu membentuk kepribadian. Tetapi amal yang dilakukan terus-menerus akan berubah menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi karakter, dan karakter akhirnya menjadi identitas diri. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah...” (QS. Fussilat: 30). Perhatikanlah urutannya mengakui Allah sebagai Tuhan, kemudian istiqamah.
Iman bukan sekadar pernyataan. Ia harus dibuktikan melalui konsistensi kehidupan. Orang yang berilmu memahami bahwa shalat bukan hanya kewajiban yang sesekali ditunaikan ketika sempat, tetapi kebutuhan ruhani yang harus dijaga sepanjang hidup. Bahkan banyak di antara kita, shalat sudah menjadi kelazatan. Karena itu ia istikamah mendirikan shalat wajib dan berusaha menjaga shalat-shalat sunnah.
Kita juga belajar bahwa tahajud dapat mendekatkan hati kepada Allah, maka kita berusaha menjaganya. Kita mengetahui keutamaan dhuha, maka kita meluangkan waktu untuknya. Kita memahami pentingnya witir, maka kita berusaha agar malamnya tidak berlalu tanpa witir.
Begitu pula dengan puasa. Orang yang berilmu tidak hanya mengenal puasa Ramadan. Ia memahami bahwa puasa sunnah adalah sarana mendidik jiwa: Senin-Kamis, Ayyamul Bidh bagi yang mampu, dan puasa sunnah lainnya. Tentu, kita tidak menjadikan puasa sebagai ritual musiman, tetapi sebagai latihan pengendalian diri.
Demikian pula belajar. Seorang yang benar-benar berilmu tidak pernah merasa selesai belajar. Semakin luas ilmunya, semakin ia sadar betapa luasnya lautan pengetahuan yang belum dijelajahinya. Karena itu, ia istikamah membaca. Sedikit demi sedikit. Satu halaman hari ini. Beberapa halaman besok. Satu buku pekan ini. Satu gagasan baru setiap hari. Kita tidak menunggu waktu luang untuk belajar, karena ia memahami bahwa orang berilmu justru menlluangkan waktu untuk belajar.
Begitu pula menulis. Orang yang memiliki ilmu tetapi tidak pernah menuangkannya mungkin memiliki banyak gagasan yang akhirnya hilang bersama perjalanan waktu. Karena itu, ia belajar menulis secara istikamah: mencatat pemikiran, merumuskan gagasan, menyusun pengalaman, menulis artikel, buku, penelitian, atau sekadar catatan reflektif. Tulisan yang baik tidak selalu lahir dari inspirasi besar; sering kali ia lahir dari disiplin kecil yang dilakukan terus-menerus.
Istikamah juga berlaku dalam perkara yang tampaknya sederhana tapi amat mulia. Misalnya menjaga disiplin waktu, jujur meskipun tidak ada yang melihat, menepati janji, bermurah hati, menyapa sesama dengan senyum, memaafkan orang lain, menolong sesama, menjaga lisan, membaca Al-Qur'an, berdzikir.
Kebaikan-kebaikan meski tampak kecil yang dilakukan secara konsisten akhirnya membentuk manusia yang unggul. Sebab manusia pada akhirnya bukan hanya dibentuk oleh keputusan-keputusan besar, tetapi oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang diulang setiap hari.
Di sinilah ilmu menjadi sangat berharga. Ilmu memberi tahu kita apa yang benar, sedangkan istikamah melatih kita untuk terus melakukan yang benar. Makan ilmu tanpa istikamah seperti peta yang indah tetapi tidak pernah digunakan untuk panduan saat berjalan. Sebaliknya, istikamah tanpa ilmu dapat membuat seseorang tekun melakukan sesuatu tetapi tidak selalu berada di jalan yang benar. Maka keduanya harus bertemu: Ilmu menunjukkan arah. Iman memberikan kekuatan. Amal menjadi langkah.
Istikamah membuat kita terus berjalan.
Dan dalam semangat Rabiul Awal, kita menemukan teladan yang sempurna pada Rasulullah. Beliau tidak hanya melakukan kebaikan pada saat-saat tertentu. Kehidupan beliau sendiri adalah istikamah dalam kebaikan dan ketaatan.
Beliau beribadah ketika lapang dan ketika sulit. Beliau tetap jujur sebelum mendapatkan kekuasaan dan setelah menjadi pemimpin. Beliau tetap penyayang ketika dicintai maupun ketika disakiti. Beliau tetap berdoa, berdakwah, mendidik, bersedekah, dan melayani umat dalam seluruh perjalanan hidupnya.
Istikamah bukan berarti tidak pernah lelah. Istiqamah berarti tidak menjadikan lelah sebagai alasan untuk meninggalkan jalan Allah. Ada kalanya iman naik dan turun. Ada kalanya tubuh sehat dan sakit. Ada kalanya semangat tinggi dan rendah. Ada kalanya pekerjaan banyak dan waktu terasa sempit. Tetapi orang yang istikamah selalu memiliki satu prinsip: Saya mungkin tidak mampu melakukan sebanyak kemarin, tetapi saya tidak akan berhenti dalam ketaatan.” Semoga