Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.076
Rabu 28 Safar 1448
Bahagia Berilmu Membangun Khaira Ummah
Saudaraku, pasca Fathu Makkah, Rasulullah dan umat Islam tidak berhenti pada kemenangan politik atau pembebasan kota Makkah dari jahiliyah, tapi justru setelah itu, tanggung jawab umat semakin besar. Islam tidak datang hanya untuk membangun masyarakat yang kuat, tetapi untuk melahirkan manusia yang membawa kebaikan bagi manusia lainnya. Allah memberikan sebuah predikat yang sangat mulia kepada umat Islam, khaira ummah. «كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia..."
(QS. Ali 'Imran: 110).
Perhatikanlah ungkapan Al-Qur'an: "untuk manusia" (lin-nās). Khaira ummah, umat terbaik, bukan karena merasa paling tinggi, bukan pula karena jumlahnya paling banyak, kekuasaannya paling besar, atau ipteknya paling maju semata. Tetapi menjadi umat terbaik karena keberadaanya menghadirkan kebaikan dan kebermanfaatan bagi kehidupan dan semesta.
Nah, muhasabah hari ini merupakan kelanjutan yang sangat indah. Coba kita ingat dari rangkaian perjalanannya. Berawal ilmu melahirkan iman, iman melahirkan amal saleh, amal saleh melahirkan amanah. Lalu amanah menghadirkan rasa aman. Rasa aman menebarkan rahmat dan rahmat melahirkan manfaat. Manfaat menjadi investasi jangka panjang. Investasi ilmu membangun peradaban. Dan peradaban yang berlandaskan iman, ilmu dan amal melahirkan khaira ummah. Ya tatanan umat terbaik.
Tentu, khaira ummah bukan sekadar identitas, tetapi sebuah tanggung jawab peradaban. Ayat tersebut bahkan langsung menyebut tiga karakter utama: «"Kamu menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah."»
Dengan demikian, ilmu menjadi sangat penting. Bagaimana mungkin seseorang mengajak kepada yang makruf jika ia tidak mengetahui apa yang makruf? Bagaimana mungkin mencegah kemungkaran jika ia tidak memahami hakikat kemungkaran?Bagaimana mungkin membimbing manusia jika ia tidak memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan?
Karena itu, khaira ummah haruslah umat yang berilmu. Tetapi ilmu saja belum cukup. Ilmu tanpa iman dapat menjadi alat kesombongan. Ilmu tanpa akhlak dapat menjadi alat penindasan. Ilmu tanpa amanah dapat menjadi alat manipulasi. Ilmu tanpa rahmat dapat membuat manusia semakin keras. Maka Al-Qur'an tidak mengatakan sekadar kuntum ummatan 'alimah, umat yang berilmu. Predikat khaira ummah dibangun oleh iman, amar makruf, dan nahi mungkar. Artinya, ilmu harus turun menjadi nilai, nilai menjadi amal, dan amal menjadi kemaslahatan.
Andai kita seorang ilmuwan, maka harus menjadi bagian dari khaira ummah yakni ketika ilmu kita gunakan untuk mencari kebenaran dan melahurkan kemaslahatan. Andai, kita seorang guru, maka tentu menjadi bagian dari khaira ummah, yakni ketika ilmu dapat memvasilitasi lahirnya murid yang berkarakter. Jika, kita seorang pemimpin, maka akan menjadi bagian dari khaira ummah ketika kekuasaan yang kita genggam dapat menghadirkan kesejahteraan yang adil beradab. Andai kita seorang ulama, maka seyogyanya juga menjadi bagian dari khaira ummah ketika ilmu dapat menuntun umat kepada Allah sekaligus menghadirkan kedamaian. Bahkan andai menjadi orang biasa sekalipun dapat menjadi bagian dari khaira ummah ketika kehadirannya membuat kehidupan di sekitarnya semakin lebih baik.
Khaira ummah tidak dimulai dari menjadi besar. Ia dimulai dari menjadi baik dan membuat orang lain menjadi lebih baik. Di sinilah semangat menemukan arah yang lebih tinggi. Kita tidak cukup berhenti pada meninggalkan kebodohan menuju ilmu. Kita telah belajar bahwa ilmu harus melahirkan manfaat, kemudian manfaat harus ditanam menjadi investasi jangka panjang, dan investasi itu harus menghasilkan peradaban.
Sekarang kita bertanya: Untuk siapa peradaban itu dibangun? Jawabannya: untuk kemaslahatan manusia. Sebab peradaban yang hebat tetapi melahirkan ketidakadilan bukanlah peradaban yang sempurna. Teknologi yang maju tetapi menghancurkan kemanusiaan bukanlah kemajuan sejati. Kekayaan yang melimpah tetapi membuat manusia kehilangan kepedulian bukanlah keberhasilan yang hakiki.
Peradaban Islam pada akhirnya harus kembali kepada manusia: memuliakan manusia, mencerdaskan manusia, mengamankan manusia, dan mengantarkan manusia mengenal Allah Rabbuna.