Bahagia Berilmu Menggapai Ridha Allah

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.077
Kamis 29 Safar 1448

Bahagia Berilmu Menggapai Ridha Allah
Saudaraku, di bulan Safar ini kita telah meniti sebuah perjalanan ilmu yang akhirnya menuju ridha Allah. Meski ada orang yang berilmu karena ingin dikenal, ada yang belajar karena ingin memperoleh gelar, ada yang menuntut ilmu untuk mendapatkan kedudukan, pekerjaan, atau pengakuan. Semua ini mungkin dinamik menjadi bagian dari kehidupan manusia. Namun bagi seorang mukmin, ada tujuan yang jauh lebih tinggi dari semuanya, yakn berilmu dalam rangka menggapai ridha Allah.

Sebab ilmu yang paling membahagiakan bukanlah ilmu yang membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain, melainkan ilmu yang membuatnya semakin mengenal Allah, semakin tunduk kepada-Nya, semakin rendah hati, semakin baik akhlaknya, semakin benar amalnya, dan semakin besar manfaatnya bagi sesama. Inilah barangkali puncak perjalanan Muhasabah Safar kita.

Kita memulainya dengan bahagia mencintai ilmu. Cinta kemudian diarahkan menjadi lillah dalam menuntut ilmu. Ilmu menjadikan wahyu sebagai sumber petunjuk, kemudian ilmu dipahami, diamalkan, dibagikan, dan diwariskan. Dari ilmu lahirlah manfaat, dari manfaat tumbuh generasi, dari generasi terbentuk peradaban, dan dari peradaban kita berharap lahir khaira ummah. Namun semuanya ini belum menjadi tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah Allah. Dan tujuan tertinggi dalam perjalanan kepada Allah adalah menggapai ridha-Nya.

Maka ilmu adalah jalan, bukan tujuan akhir, ia sangat mulia tetapi bukan tujuan akhir kehidupan. Dengan ilmu kita mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Dengan ilmu kita memahami apa yang Allah perintahkan dan apa yang Allah larang. Dengan ilmu kita mengenal hakikat kehidupan, memahami tujuan penciptaan, dan mempersiapkan perjalanan menuju akhirat.

Karena itu, semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin jelas arah hidupnya.  Allah Swt. berfirman: Dan keridaan Allah itu lebih besar.” (QS. At-Taubah 72). Ridha Allah, kebahagiaannya  lebih besar daripada rumah yang indah, lebih besar daripada harta yang banyak, lebih besar daripada jabatan yang tinggi, lebih besar daripada popularitas. Bahkan lebih besar daripada kenikmatan dunia seluruhnya.

Karena itu, kebahagiaan tertinggi bukan ketika manusia meridhai kita. Bpukan ketika nama kita dikenang. Bukan ketika karya kita dipuji. Tetapi ketika kita kembali kepada Allah dan mendapati: “Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah 8). Inilah puncak kebahagiaan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama